MERAJUT SEMANGAT AMORIS LAETITIA DALAM EKONOMI DAN EKOLOGI KELUARGA: Rapat Pleno KomKel KWI 2026

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kembali menyelenggarakan Pertemuan Pleno Komisi Keluarga se-Indonesia pada (3-5 Juli 2026), sebuah agenda rutin yang digelar setiap tiga tahun sekali sesuai dengan ketetapan Direktorium KWI Pasal 55 (4). Pertemuan ini menghadirkan Ketua Komisi Keluarga dari seluruh keuskupan di Indonesia, bersama kelompok kategorial pemerhati keluarga, untuk bersama-sama menimba inspirasi, merefleksikan pengalaman, dan merumuskan langkah profetik bagi pelayanan keluarga.

JAKARTA, Komsos Larantuka – Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kembali menyelenggarakan Pertemuan Pleno Komisi Keluarga se-Indonesia pada (3-5 Juli 2026), sebuah agenda rutin yang digelar setiap tiga tahun sekali sesuai dengan ketetapan Direktorium KWI Pasal 55 (4). Pertemuan ini menghadirkan Ketua Komisi Keluarga dari seluruh keuskupan di Indonesia, bersama kelompok kategorial pemerhati keluarga, untuk bersama-sama menimba inspirasi, merefleksikan pengalaman, dan merumuskan langkah profetik bagi pelayanan keluarga.

Tema besar yang diusung tahun ini adalah “Mewujudkan Semangat Amoris Laetitia melalui Gerakan Ekonomi dan Ekologi Keluarga.” Tema ini lahir dari kesadaran bahwa keluarga bukan hanya pusat kehidupan iman, tetapi juga pusat kehidupan sosial, ekonomi, dan ekologis. Gereja ingin menegaskan kembali peran keluarga sebagai sel dasar masyarakat yang mampu menjadi motor penggerak perubahan.

Pertemuan pleno ini dirancang sebagai proses refleksi bersama, dengan dinamika yang mencakup evaluasi pastoral, pendalaman inspirasi dari praktik baik, integrasi modul gerakan ekonomi dan ekologi, serta perumusan rencana aksi strategis untuk periode tiga hingga enam tahun ke depan. Semua ini dilakukan dalam semangat sinodalitas, di mana Gereja berjalan bersama keluarga, mendengarkan pengalaman mereka, dan meneguhkan langkah-langkah nyata yang bisa dihidupi di seluruh keuskupan.

Salah satu pokok bahasan utama adalah reaktualisasi pastoral keluarga dalam terang Amoris Laetitia. Tahun 2026 menandai satu dekade sejak Paus Fransiskus menerbitkan Surat Apostolik ini, yang menjadi tonggak penting dalam pelayanan pastoral keluarga. Amoris Laetitia menekankan pendekatan yang inklusif, penuh pengertian, dan mendampingi keluarga dalam segala kerapuhan mereka. Dokumen ini mengajak Gereja untuk tidak terjebak pada norma sempit, melainkan membuka ruang dialog dan pendampingan yang nyata. Dalam pertemuan ini, Komisi Keluarga KWI menyampaikan hasil survei nasional yang mengumpulkan inspirasi pastoral dari berbagai keuskupan. Survei ini menunjukkan beragam bentuk pendampingan konkret yang telah dilakukan, mulai dari program konseling keluarga, pendampingan pasangan muda, hingga dukungan bagi keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi dan sosial.

Pokok bahasan kedua adalah ketahanan ekonomi keluarga. Selaras dengan amanat SAGKI 2025 no. 41, Gereja diajak untuk hadir bukan hanya dalam ruang rohani, tetapi juga dalam realitas sosial-ekonomi umat. Ketahanan ekonomi keluarga menjadi perhatian serius, terutama di tengah tantangan global seperti inflasi, perubahan iklim, dan ketidakpastian kerja. Pertemuan ini menampilkan praktik baik dari berbagai keuskupan, seperti pembentukan koperasi keluarga, usaha mikro berbasis komunitas, dan pelatihan keterampilan bagi ibu rumah tangga serta kaum muda. Semua inisiatif ini bertujuan membangun ekonomi keluarga yang berkeadilan dan berkelanjutan, di mana solidaritas dan kreativitas menjadi kunci utama.

Pokok bahasan ketiga adalah keluarga merawat bumi. Merespon krisis ekologis yang semakin mendesak, Gereja menegaskan kembali ajaran Laudato Si’. Amanat SAGKI 2025 no. 51–52 menekankan bahwa persoalan ekologis adalah bagian tak terpisahkan dari misi iman dan keadilan sosial. Pertemuan ini menggali inisiatif kreatif keluarga dalam merawat bumi, mulai dari gerakan menanam pohon di halaman rumah, pengelolaan sampah berbasis keluarga, hingga pendidikan ekologis bagi anak-anak. Spiritualitas ekologis ditegaskan sebagai panggilan iman yang harus dihidupi mulai dari rumah tangga, lalu meluas ke komunitas dan ruang publik.

Dinamika pertemuan berlangsung dalam suasana penuh semangat kebersamaan. Para peserta mendengarkan hasil survei pastoral keluarga, berdiskusi dengan narasumber mengenai ekonomi dan ekologi keluarga, serta berbagi modul gerakan antar-keuskupan. Modul-modul ini menjadi bahan inspirasi tertulis yang bisa langsung digunakan di keuskupan masing-masing. Pada akhirnya, pertemuan ini merumuskan rencana aksi strategis yang akan menjadi panduan bagi Komisi Keluarga di seluruh Indonesia untuk periode tiga hingga enam tahun ke depan.

Harapan besar dari pertemuan ini adalah agar Komisi Keluarga di setiap keuskupan semakin terdorong untuk merumuskan gagasan praktis dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan menginisiasi gerakan ekologis yang dimulai dari rumah tangga. Lebih dari itu, pertemuan ini menjadi tanda nyata sinodalitas Gereja di Indonesia, di mana setiap keuskupan saling menimba inspirasi, berbagi pengalaman, dan melangkah bersama dalam semangat persaudaraan.

Pertemuan Pleno Komisi Keluarga KWI 2026 bukan sekadar agenda rutin, melainkan momentum profetik untuk meneguhkan kembali peran keluarga sebagai pusat iman, ekonomi, dan ekologi. Dengan menghidupi Amoris Laetitia, memperkuat ketahanan ekonomi, dan merawat bumi, Gereja di Indonesia menegaskan komitmennya untuk hadir nyata dalam kehidupan umat.

“Keluarga adalah sel dasar masyarakat dan Gereja. Dari keluarga yang kuat, lahirlah bangsa yang tangguh dan dunia yang lestari,” demikian salah satu pesan yang menggaung dalam pertemuan ini.

Dengan semangat itu, Pertemuan Pleno Komisi Keluarga KWI 2026 menjadi tonggak penting bagi Gereja di Indonesia untuk terus berjalan bersama keluarga, meneguhkan mereka dalam iman, mendukung mereka dalam ekonomi, dan mengajak mereka merawat bumi demi masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan. (RD Ben Belawa-Ketua KomKel Keuskupan Larantuka)

 

You may also like