KOTENWALANG, Komsos Larantuka – Kehadiran di gereja belum tentu berarti ikut merayakan Ekaristi. Dari kesadaran inilah, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kotenwalang diajak melangkah lebih jauh: tidak sekadar memenuhi bangku gereja setiap Minggu, tetapi menjadi pelaku liturgi yang sadar, aktif, dan penuh iman. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Penyegaran Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2020 yang diselenggarakan Panitia Pekan OMK Paroki Kotenwalang di Stasi Tone, Dekenat Larantuka, Keuskupan Larantuka pada Kamis (2/7/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membentuk generasi muda Katolik yang memahami bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani. Karena itu, kaum muda diajak meninggalkan pola pikir bahwa Misa hanyalah kewajiban mingguan, lalu bertumbuh menjadi pribadi yang sungguh menghayati dan merayakan setiap perayaan Ekaristi.
Dalam kata pengantarnya, Moderator kegiatan, Dominikus Daun Maran, menegaskan bahwa OMK merupakan harapan sekaligus tulang punggung Gereja di masa depan. Menurutnya, semangat dan energi kaum muda harus diarahkan kepada kehidupan rohani yang berpusat pada Ekaristi.
“OMK adalah generasi penerus yang penuh energi. Namun energi itu akan cepat habis apabila tidak terus diisi. Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan iman kita. Karena itu, jangan datang ke gereja hanya untuk ‘absen’, tetapi datanglah untuk sungguh-sungguh merayakan. Jangan menjadi penonton dalam Misa, melainkan jadilah pelaku liturgi,” tegasnya.
Materi utama disampaikan oleh RD. Paulus G. Lewoema, Pr, Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta memahami makna partisipasi aktif sebagaimana ditekankan dalam TPE 2020.
Menurutnya, partisipasi aktif tidak hanya berarti memperoleh tugas sebagai petugas liturgi, tetapi terutama keterlibatan seluruh pribadi dalam perayaan iman.
“Merayakan Misa berarti melibatkan hati, pikiran, suara, dan seluruh tindakan kita dalam setiap ritus liturgi. Partisipasi aktif bukan berarti sibuk bergerak, melainkan keterlibatan batin yang diwujudkan melalui sikap tubuh, nyanyian, jawaban doa, dan perhatian penuh terhadap setiap bagian perayaan,” jelas RD. Paul.
Ia juga menekankan bahwa OMK memiliki posisi strategis dalam membantu seluruh umat menghayati liturgi secara lebih mendalam. Ketika kaum muda melayani dengan penuh kesadaran, disiplin, dan pemahaman liturgi yang benar, mereka turut menciptakan suasana ibadat yang mengantar umat mengalami perjumpaan dengan Kristus.
“OMK harus menjadi teladan dalam keterlibatan, ketertiban, dan kekhidmatan merayakan Ekaristi Kudus. Kehadiran mereka bukan hanya memperindah liturgi, tetapi membantu seluruh umat memasuki misteri keselamatan yang sedang dirayakan,” tambahnya.
Penyegaran TPE 2020 tidak hanya membahas aspek teknis pelaksanaan liturgi, tetapi juga memperdalam spiritualitas Ekaristi. Para peserta diajak menyadari bahwa setiap kali merayakan Misa, mereka sesungguhnya mempersembahkan seluruh hidup mereka bersama roti dan anggur kepada Allah agar dikuduskan dan diubah menjadi persembahan yang berkenan kepada-Nya.
Suasana kegiatan berlangsung dinamis. Antusiasme peserta tampak dalam sesi diskusi dan dialog, ketika mereka berbagi pengalaman mengenai makna Ekaristi dalam kehidupan OMK, tantangan mempertahankan kehadiran dalam Misa, hingga berbagai gagasan untuk membangun perayaan liturgi yang lebih hidup di stasi masing-masing.
Berbagai pertanyaan yang muncul menunjukkan kerinduan kaum muda untuk memahami liturgi secara lebih mendalam, sehingga pelayanan mereka tidak berhenti pada aspek teknis, tetapi berakar pada iman yang matang.
Menutup kegiatan, seluruh peserta menyatakan komitmen bersama untuk membawa semangat “dari hadir menjadi merayakan” ke komunitas basis gerejawi dan lingkungan tempat mereka bertumbuh. Mereka bertekad menjadi kaum muda yang aktif mengambil bagian dalam kehidupan liturgi, sekaligus mengajak teman-teman sebaya semakin mencintai Ekaristi.
Melalui penyegaran ini, Paroki Kotenwalang berharap lahir generasi Orang Muda Katolik yang tidak hanya setia menghadiri perayaan Ekaristi, tetapi juga memiliki kedewasaan iman untuk merayakan misteri keselamatan secara sadar, aktif, dan penuh penghayatan. Dengan demikian, OMK sungguh menjadi kekuatan Gereja masa kini sekaligus harapan Gereja di masa depan, yang menghadirkan semangat pembaruan liturgi di setiap komunitas umat. (John Blaja-OMK Kotenwalang)
