PANA PAI GAWE GERE: Romo Tote dan Romo Kobus Diterima Hangat di Paroki San Juan Lebao Tengah

"Pana Pai Gawe Gere." Ungkapan sederhana itu menjadi sapaan hangat yang mengiringi langkah RD. Yosef da Silva (Romo Tote) dan RD. Yakobus Adobala Dawan (Romo Kobus) saat memasuki Pastoran Paroki San Juan Lebao Tengah, Sabtu sore (27/6/2026). Di balik kalimat yang berarti "Mari masuk dan tinggal di rumah kita" itu tersimpan pesan mendalam: seorang pastor tidak hanya datang untuk menjalankan tugas pastoral, tetapi juga diterima sebagai anggota keluarga dalam rumah umat yang akan dilayaninya.

by Komsos Keuskupan Larantuka

LEBAO TENGAH, Komsos Larantuka – “Pana Pai Gawe Gere.” Ungkapan sederhana itu menjadi sapaan hangat yang mengiringi langkah RD. Yosef da Silva (Romo Tote) dan RD. Yakobus Adobala Dawan (Romo Kobus) saat memasuki Pastoran Paroki San Juan Lebao Tengah, Sabtu sore (27/6/2026). Di balik kalimat yang berarti “Mari masuk dan tinggal di rumah kita” itu tersimpan pesan mendalam: seorang pastor tidak hanya datang untuk menjalankan tugas pastoral, tetapi juga diterima sebagai anggota keluarga dalam rumah umat yang akan dilayaninya.
Setelah secara resmi menerima estafet pelayanan pastoral pada Perayaan Ekaristi pagi harinya, kedua imam tersebut diantar menuju Paroki San Juan Lebao Tengah oleh Komunitas Dekenat Larantuka, Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Katedral Larantuka, Komunitas Istana Keuskupan, serta anggota keluarga. Perjalanan menuju Lebao Tengah berlangsung dalam suasana penuh persaudaraan. Kehadiran rombongan pengantar menjadi ungkapan dukungan, doa, dan kasih bagi kedua imam yang memulai tugas penggembalaan di paroki tersebut.
Setibanya di halaman pastoran, Romo Tote dan Romo Kobus disambut hangat oleh para tokoh umat yang telah menanti. Senyum, sapaan, dan jabat tangan penuh keakraban menggambarkan sukacita umat menyambut kedua gembala baru mereka. Bagi umat, kehadiran kedua imam ini menjadi awal perjalanan pastoral yang baru sekaligus membawa harapan akan semakin bertumbuhnya kehidupan iman dan persaudaraan di Paroki San Juan Lebao Tengah.

Penerimaan Romo Tote dan Romo Kobus di Paroki Lebao Tengah

Mewakili umat, Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) San Juan Lebao Tengah, Fransiskus Xavarius Resiona, menyampaikan ucapan selamat datang kepada kedua pastor.
“Selamat datang Romo Tote di Paroki San Juan Lebao Tengah,” ungkapnya yang disambut tepuk tangan meriah dari umat yang hadir.
Pada kesempatan itu Fransiskus juga memperkenalkan gambaran umum paroki yang kini menjadi medan pelayanan kedua imam. Hingga tahun 2025, Paroki San Juan Lebao Tengah memiliki 8.511 jiwa yang tergabung dalam 2.174 kepala keluarga, tersebar di 90 Komunitas Basis Gerejawi (KBG) dan 12 lingkungan. Data tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab pastoral yang akan dijalani bersama seluruh umat.
Suasana penyambutan semakin bermakna ketika Pastor Rekan Paroki San Juan Lebao Tengah, RD. Stefanus Emanuel Buga Hurint (Romo Bony), menyampaikan sapaan yang sarat makna budaya dan spiritual.
“Pana Pai Gawe Gere. Mari kita masuk dan tinggal di rumah kita. Rumah ini adalah rumah umat yang kita jaga dan tempati; tempat kita beristirahat setelah melayani umat, membangun persaudaraan melalui cerita, doa, dan kebersamaan di meja makan,” tutur Romo Bony.
Ungkapan “Pana Pai Gawe Gere” menjadi simbol penerimaan yang tulus. Kehadiran seorang pastor di paroki bukan sekadar berpindah tempat tugas, melainkan memasuki sebuah keluarga iman. Di sanalah pastor dan umat dipanggil untuk saling menerima, saling menguatkan, berbagi suka dan duka, serta bertumbuh bersama sebagai murid-murid Kristus.
Dalam sambutannya, Romo Tote mengungkapkan rasa syukur atas sambutan hangat yang diterimanya. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mengantar dirinya dan Romo Kobus hingga tiba di Paroki San Juan Lebao Tengah, serta kepada seluruh umat yang menerima mereka dengan penuh kasih dan sukacita.
Romo Tote kemudian mengajak seluruh umat untuk membangun kehidupan menggereja dalam semangat persatuan. Ia mengingatkan moto episkopal Uskup Larantuka, “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan), sebagai arah pastoral yang perlu terus dihidupi bersama.
Menurutnya, Gereja akan semakin bertumbuh apabila seluruh umat bersedia berjalan bersama, menghargai setiap karunia yang dimiliki, serta saling mendukung dalam karya pelayanan. Persatuan, katanya, bukan sekadar slogan, melainkan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari keluarga, Komunitas Basis Gerejawi, lingkungan, hingga seluruh pelayanan di paroki.
Ia berharap Paroki San Juan Lebao Tengah semakin menjadi rumah bersama, tempat setiap orang merasa diterima, dihargai, dan didorong untuk terlibat aktif dalam pewartaan Injil.
Penyambutan Romo Tote dan Romo Kobus menjadi penanda dimulainya babak baru pelayanan pastoral di Paroki San Juan Lebao Tengah. Kehadiran kedua imam ini diharapkan semakin memperkuat semangat persaudaraan, memperkokoh persekutuan umat, dan menghidupkan semangat pelayanan di tengah masyarakat.

Penerimaan Romo Tote dan Romo Kobus di Paroki Lebao Tengah

Semangat “Pana Pai Gawe Gere” yang bergema menjadi penegasan bahwa Gereja dibangun di atas kebersamaan. Ketika pastor dan umat saling menerima sebagai satu keluarga, Gereja sungguh menjadi rumah yang menghadirkan kasih Allah bagi semua orang.
Dengan semangat “Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan,” umat Paroki San Juan Lebao Tengah kini memulai lembaran baru bersama Romo Tote, Romo Kobus dan Romo Bony. Dalam semangat persaudaraan dan sinodalitas, pastor dan umat diharapkan terus berjalan bersama membangun Gereja yang semakin hidup, mandiri, misioner, dan menjadi tanda harapan bagi masyarakat. (@sly)

You may also like