LEWOLEBA, Komsos Larantuka – Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka terus memperkuat upaya pembaruan liturgi di seluruh wilayah keuskupan melalui kegiatan Penyegaran Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2020 dan Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) terbaru. Setelah sebelumnya dilaksanakan di Dekenat Larantuka dan Dekenat Adonara, kegiatan serupa kini menyapa para pegiat liturgi di Dekenat Lembata. Penyegaran berlangsung di Aula Dekenat Lembata pada 26-27 Juni 2026 menjadi momentum penting untuk menyatukan pemahaman serta praktik liturgi sesuai pedoman resmi Gereja.

Penyegaran TPE di Dekenat Lembata
Kegiatan ini diikuti oleh utusan dari 19 paroki yang berada di wilayah Dekenat Lembata. Masing-masing paroki mengutus dua orang peserta, yakni pengurus Seksi Liturgi dan Seksi Musik Liturgi. Selain itu, kegiatan juga dihadiri para utusan dari Kongregasi CB, Kongregasi CIJ, serta para katekis yang selama ini aktif mendampingi kehidupan menggereja di tengah umat. Kehadiran berbagai unsur pastoral tersebut menunjukkan bahwa pembaruan liturgi merupakan tanggung jawab bersama seluruh pelayan Gereja.
Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka, RD. Paul Lewoema, menjelaskan bahwa penyegaran ini bertujuan menyamakan persepsi sekaligus memperdalam pemahaman mengenai Tata Perayaan Ekaristi 2020 dan Pedoman Umum Misale Romawi terbaru. Menurutnya, keseragaman dalam memahami dan menerapkan aturan liturgi sangat penting agar perayaan Ekaristi di setiap paroki berlangsung secara benar, tertib, khidmat, dan sesuai dengan ketentuan Gereja universal.
“Kami berharap setelah mengikuti kegiatan ini, para pegiat liturgi tidak berhenti pada pemahaman pribadi, tetapi segera menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) dan melaksanakan pembinaan di paroki masing-masing. Dengan demikian, pembaruan liturgi sungguh dirasakan hingga ke tingkat umat,” tegas RD. Paul Lewoema.
Sepanjang kegiatan, para peserta mengikuti seluruh rangkaian materi dengan penuh perhatian dan antusias. Tidak hanya menerima penjelasan secara teoritis, mereka juga terlibat aktif dalam sesi praktik dan simulasi liturgi. Berbagai aspek yang dibahas meliputi tata gerak liturgi, gestikulasi para petugas liturgi, sikap tubuh dalam perayaan Ekaristi, hingga pemilihan dan pelaksanaan nyanyian liturgi yang sesuai dengan semangat TPE 2020 dan ketentuan PUMR.
Diskusi berlangsung dinamis ketika para peserta mengangkat berbagai persoalan yang selama ini ditemukan dalam praktik liturgi di paroki masing-masing. Berbagai kebiasaan yang telah berlangsung bertahun-tahun dibahas secara terbuka dan dibandingkan dengan ketentuan dalam Pedoman Umum Misale Romawi. Dari pembahasan tersebut, terungkap bahwa sejumlah praktik yang selama ini dianggap lazim ternyata belum sepenuhnya sejalan dengan norma liturgi Gereja.
Temuan tersebut menjadi bahan refleksi bersama sekaligus membuka kesadaran baru bahwa pembaruan liturgi tidak hanya menyangkut perubahan tata gerak atau nyanyian, tetapi lebih jauh menyentuh semangat ketaatan kepada ajaran dan tradisi Gereja. Liturgi bukanlah ruang untuk menampilkan kreativitas pribadi, melainkan perayaan iman seluruh Gereja yang memiliki aturan, makna, dan kekayaan spiritual yang harus dijaga bersama.
Melalui kegiatan ini, Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka juga mendorong setiap peserta menjadi pelopor pembaruan liturgi di lingkungan pelayanannya masing-masing. Para peserta diharapkan mampu meneruskan materi yang diterima melalui pelatihan, pendampingan, dan sosialisasi kepada petugas liturgi, koor, lektor, pemazmur, misdinar, maupun seluruh umat di paroki. Dengan cara itu, semangat pembaruan tidak berhenti pada ruang pelatihan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang memperkaya kehidupan liturgi Gereja.
Menutup kegiatan, RD. Paul Lewoema kembali mengingatkan bahwa kualitas liturgi sangat menentukan kualitas kehidupan iman umat. Karena itu, pembinaan liturgi harus terus dilakukan secara berkelanjutan agar setiap Perayaan Ekaristi benar-benar menjadi perjumpaan umat dengan Kristus yang hidup. Penyegaran TPE 2020 dan PUMR di Dekenat Lembata pun menjadi bagian dari komitmen Komisi Liturgi Keuskupan Larantuka untuk terus membangun keseragaman, ketertiban, dan kekhidmatan liturgi di seluruh wilayah keuskupan, sehingga Ekaristi sungguh menjadi puncak dan sumber kehidupan Gereja. (Flory Herin)
