PATRIS CORDE, Komsos Larantuka – Orang Muda Katolik (OMK) Keuskupan Larantuka siap ambil bagian dalam Nusra Youth Day (NYD) III Tahun 2026 yang akan berlangsung di Keuskupan Maumere pada 1–5 Juli 2026. 835 utusan OMK dari sembilan keuskupan se-Regio Nusa Tenggara akan berkumpul dalam perhelatan iman kaum muda tersebut, yakni dari Keuskupan Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Maumere, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Atambua, Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Denpasar, dan Keuskupan Weetabula.

(OMK) Keuskupan Larantuka siap ambil bagian dalam Nusra Youth Day (NYD) III Tahun 2026
Sebelum berangkat menuju Maumere, para utusan OMK Keuskupan Larantuka mengikuti kegiatan pembekalan yang berlangsung di Rusun UNIO Keuskupan Larantuka pada Senin (30/6/2026). Kegiatan ini bertujuan mempersiapkan para peserta, tidak hanya dari segi teknis keberangkatan, tetapi juga dalam aspek spiritualitas, identitas, dan semangat perutusan sebagai wakil Gereja lokal.
Rangkaian kegiatan diawali dengan proses registrasi dan check-in pada pukul 10.00 WITA, dilanjutkan makan siang bersama serta animasi yang melibatkan utusan OMK dari Keuskupan Agung Kupang dan utusan OMK Keuskupan Atambua. Suasana penuh kegembiraan dan persaudaraan tampak mewarnai perjumpaan lintas keuskupan tersebut sebagai awal membangun kebersamaan sebelum mengikuti NYD.
Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Larantuka, RD. Yoakim Odel, dalam arahannya mengajak seluruh peserta memanfaatkan kesempatan mengikuti NYD sebagai ruang pembelajaran dan pembentukan diri. Menurutnya, para utusan bukan sekadar hadir sebagai peserta, tetapi membawa misi untuk memperkaya kehidupan OMK di paroki masing-masing setelah kembali dari Maumere.
“Kami berharap pengalaman selama mengikuti NYD tidak berhenti menjadi pengalaman pribadi. Semua yang diperoleh hendaknya dibagikan kepada teman-teman OMK di paroki sehingga semangat pelayanan dan iman terus bertumbuh,” ujarnya.
Ia juga berharap para peserta dapat membangun core group atau kelompok inti OMK di setiap paroki sebagai wadah komunikasi, koordinasi, dan pembinaan berkelanjutan. Kehadiran kelompok-kelompok kecil ini diharapkan mampu menghidupkan dinamika pelayanan kaum muda sekaligus memperkuat jejaring antarputra-putri Gereja di Keuskupan Larantuka.
Pada malam harinya, pukul 18.30 WITA, para peserta mengikuti tatap muka bersama Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes hans Monteiro. Pertemuan diawali dengan sapaan pembawa acara, dilanjutkan moderator RD. Ade Tolok yang menyambut kehadiran Uskup bersama seluruh peserta. Acara kemudian diteruskan dengan salam pembuka dari perwakilan OMK dan sesi perkenalan singkat seluruh peserta yang akan mengikuti NYD.
Dalam arahannya, Uskup Larantuka mengungkapkan rasa syukur melihat semangat kaum muda yang begitu antusias. Menurutnya, energi dan kelincahan yang dimiliki orang muda merupakan modal penting untuk mengikuti dinamika kegiatan NYD yang padat sekaligus menjadi sarana membangun persaudaraan dengan OMK dari berbagai keuskupan.
“Tampaknya orang muda Katolik kita sangat energik. Semangat seperti ini harus terus dipelihara karena akan sangat membantu dalam mengikuti seluruh dinamika kegiatan di Maumere,” ungkapnya.
Namun demikian, Uskup mengingatkan bahwa semangat saja belum cukup. Para peserta harus membawa identitas sebagai OMK Keuskupan Larantuka yang memiliki kekayaan tradisi iman dan spiritualitas yang khas. Menurutnya, ketika berada di tengah ribuan orang muda dari berbagai daerah, setiap peserta hendaknya menjadi duta yang memperkenalkan wajah Gereja Keuskupan Larantuka yang dikenal dengan kehidupan iman yang kuat, terutama melalui tradisi Semana Santa serta devosi kepada Tuan Ma.
Mengacu pada moto episkopalnya, “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes” (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan), Uskup menjelaskan bahwa seluruh peserta dipanggil untuk menghidupi semangat persatuan dalam Gereja.
“Satu Tubuh berarti kita adalah satu Gereja dalam Kristus. Jika satu anggota menderita, seluruh tubuh ikut merasakan. Karena itu, orang muda harus belajar saling peduli dan tidak berjalan sendiri-sendiri,” jelasnya.
Ia melanjutkan bahwa Satu Roh mengingatkan setiap orang akan rahmat Roh Kudus yang diterima melalui Sakramen Baptis. Walaupun setiap orang memiliki bakat dan karunia yang berbeda-beda, semuanya berasal dari Roh Kudus yang sama dan dipanggil untuk membangun Gereja.
Sementara itu, Satu Pengharapan merupakan keyakinan akan perjumpaan dengan Kristus yang senantiasa hadir dalam setiap perjalanan hidup manusia, baik ketika mengalami kegembiraan maupun saat menghadapi penderitaan. “Dalam setiap situasi hidup, kita dipanggil untuk selalu menemukan wajah Tuhan yang menyertai kita,” tuturnya.

(OMK) Keuskupan Larantuka siap ambil bagian dalam Nusra Youth Day (NYD) III Tahun 2026
Pada sesi dialog, para peserta mengajukan sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan kaum muda dewasa ini. Salah satunya mengenai bagaimana memaknai Semana Santa agar semakin dipahami dan dicintai oleh generasi muda. Menanggapi hal itu, Uskup menilai bahwa tantangan terbesar saat ini adalah masih kurangnya sosialisasi dan pendampingan kepada orang muda mengenai makna mendalam Semana Santa sebagai kekayaan iman Keuskupan Larantuka.
Selain itu, peserta juga mengangkat persoalan meningkatnya kasus orang muda yang mengalami keputusasaan, melakukan tindakan bunuh diri, maupun berpindah agama karena persoalan hubungan asmara. Menurut Uskup, situasi tersebut membutuhkan perhatian serius dari keluarga, Gereja, dan seluruh elemen masyarakat.
“Cinta tidak hanya soal perasaan. Cinta harus disertai rasionalitas, kedewasaan, dan kemampuan untuk membangun kompromi. Gereja harus terus hadir mendampingi orang muda agar mereka memiliki pegangan hidup yang kuat dan tidak mudah kehilangan harapan ketika menghadapi persoalan,” tegasnya.
Melalui pembekalan ini, para utusan OMK Keuskupan Larantuka diharapkan berangkat menuju NYD III Maumere dengan bekal iman yang kokoh, semangat pelayanan yang menyala, serta kesadaran bahwa mereka adalah wajah Gereja Larantuka di tengah ribuan orang muda Katolik se-Regio Nusa Tenggara. Sepulang dari Maumere, mereka diharapkan mampu menjadi penggerak yang menghidupkan kembali semangat evangelisasi, persaudaraan, dan pelayanan OMK di setiap paroki. (Rius Werang)
