DARI GEMBALA LAMA KEPADA GEMBALA BARU: Ritawolo Menyambut Babak Baru Gereja yang Berjalan Bersama

by Komsos Keuskupan Larantuka

RITAWOLO, Komsos Larantuka — Pergantian seorang gembala dalam kehidupan Gereja bukanlah sekadar pergantian nama dan jabatan. Lebih dari itu, pergantian seorang Pastor Paroki adalah sebuah peristiwa iman: sebuah estafet pelayanan yang menghubungkan karya masa lalu dengan harapan masa depan.
Semangat itulah yang terasa kuat di Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo, Dekenat Adonara, ketika umat bersama seluruh perangkat pastoral menutup satu masa pelayanan dan membuka lembaran baru perjalanan pastoral bersama gembala yang baru.
Dalam suasana penuh persaudaraan, Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo menggelar rangkaian kegiatan laporan pertanggungjawaban Pastor Paroki lama sekaligus pelantikan Pastor Paroki baru, Sabtu-Minggu, 8–9 Agustus 2026.
Kegiatan diawali dengan tatap muka pastoral bersama Deken Adonara, RD. Aloysius Dore, sekaligus penyampaian laporan pertanggungjawaban Pastor Paroki lama, RD. Markus Kapitan de Ornay. Puncaknya terjadi pada Minggu, 9 Agustus 2026, melalui Perayaan Ekaristi pelantikan RD. Mikhael Samon Beraona sebagai Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo.
Momentum ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan pastoral yang telah dilalui, mensyukuri berbagai karya yang sudah dibangun, sekaligus meneguhkan komitmen bersama untuk melanjutkan perjalanan Gereja sebagai persekutuan umat Allah.

DARI GEMBALA LAMA KEPADA GEMBALA BARU: Ritawolo Menyambut Babak Baru Gereja yang Berjalan Bersama

MENUTUP SATU PERJALANAN, MEMBUKA HARAPAN BARU
Pertemuan tatap muka pastoral berlangsung di Pendopo Pastoran Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Hadir dalam kegiatan tersebut Deken Adonara, RD. Aloysius Dore, Pastor Paroki lama, RD. Markus Kapitan de Ornay; Pastor Paroki baru, RD. Mikhael Samon Beraona; anggota Dewan Pastoral Paroki (DPP), pengurus Dewan Pastoral Stasi (DPS) dari delapan stasi, para koordinator wilayah, serta pengurus seksi-seksi pelayanan paroki.
Sekitar 30 peserta hadir mewakili berbagai unsur pelayanan Gereja. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kehidupan sebuah paroki tidak pernah berdiri di atas pundak seorang imam saja, melainkan tumbuh melalui keterlibatan banyak orang yang terpanggil untuk mengambil bagian dalam karya Tuhan.
Dalam kesempatan tersebut, RD. Markus Kapitan de Ornay menyampaikan laporan pertanggungjawaban selama masa pelayanannya sebagai Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo.
Laporan tersebut menjadi bentuk tanggung jawab seorang gembala kepada umat yang dipercayakan kepadanya. Berbagai perjalanan pastoral, dinamika kehidupan umat, program pelayanan, perkembangan paroki, serta tantangan yang dihadapi menjadi bagian dari refleksi bersama.
Laporan itu bukanlah akhir dari sebuah karya, melainkan sebuah warisan pastoral yang menjadi fondasi bagi gembala berikutnya untuk melanjutkan dan mengembangkan pelayanan Gereja di Ritawolo.

DARI GEMBALA LAMA KEPADA GEMBALA BARU: Ritawolo Menyambut Babak Baru Gereja yang Berjalan Bersama

GEREJA BUKAN DIBANGUN SENDIRI
Dalam pertemuan tersebut, Deken Adonara, RD. Aloysius Dore, menegaskan bahwa Gereja hanya dapat bertumbuh apabila seluruh umat berjalan dalam semangat kebersamaan.
Menurutnya, seorang Pastor Paroki bukanlah pekerja tunggal dalam membangun Gereja. Pastor membutuhkan dukungan umat, demikian pula umat membutuhkan pendampingan seorang gembala.
“Bersama membangun Gereja, bersama memberdayakan umat, dan bersama mewujudkan iman yang hidup dalam kehidupan sehari-hari,” menjadi semangat yang ditekankan dalam perjalanan pastoral Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo.
Deken Adonara mengajak seluruh perangkat pastoral untuk meninggalkan pola kerja sendiri-sendiri dan membangun budaya sinodal: berjalan bersama, mendengarkan satu sama lain, serta mengambil tanggung jawab bersama dalam kehidupan menggereja.
Pastor, DPP, DPS, kelompok kategorial, para agen pastoral, dan seluruh umat dipanggil untuk menjadi satu tubuh yang saling mendukung dalam menghadirkan wajah Gereja yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

DARI GEMBALA LAMA KEPADA GEMBALA BARU: Ritawolo Menyambut Babak Baru Gereja yang Berjalan Bersama

IMAN YANG BERBUAH DALAM KEMANDIRIAN EKONOMI
Selain membahas perjalanan pastoral paroki, pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkuat pelaksanaan Program Keuskupan Larantuka Tahun 2026, khususnya gerakan “Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman.”
Deken Adonara menegaskan bahwa iman tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi harus hadir dalam kehidupan nyata umat. Salah satu wujudnya adalah melalui upaya membangun kemandirian ekonomi keluarga dan komunitas.
Karena itu, Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo didorong untuk melakukan pemetaan terhadap berbagai program pemberdayaan ekonomi umat.
Program tersebut meliputi penguatan tata kelola ekonomi rumah tangga, pelatihan kewirausahaan, pengembangan kelompok usaha produktif, penguatan lembaga ekonomi umat seperti koperasi, UBSP, dan CU, pengembangan pangan lokal melalui kebun keluarga, gerakan sadar menabung dalam KBG, penyederhanaan pesta dan hajatan, serta pendampingan pastoral bagi keluarga-keluarga perantauan.
Menurut Deken Adonara, setiap program harus berangkat dari realitas kehidupan umat. Karena itu, Tim Pastor bersama DPP perlu melihat secara konkret apa yang sudah berjalan, apa yang belum terlaksana, dan bagian mana yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

DARI GEMBALA LAMA KEPADA GEMBALA BARU: Ritawolo Menyambut Babak Baru Gereja yang Berjalan Bersama

SANG GEMBALA BARU HADIR DI TENGAH UMAT
Perjalanan estafet pelayanan itu mencapai puncaknya pada Minggu, 9 Agustus 2026, melalui Perayaan Ekaristi pelantikan RD. Mikhael Samon Beraona sebagai Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Deken Adonara, RD. Aloysius Dore, dan dihadiri para imam, calon imam, perangkat pastoral, serta seluruh umat Paroki Ritawolo.
Hadir pula perwakilan umat dan DPP Paroki Witihama yang datang memberikan dukungan dalam momentum bersejarah tersebut.
Dalam homilinya, Deken Adonara mengajak umat merenungkan kisah Yesus yang datang kepada para murid di tengah badai.
Menurutnya, perjalanan Gereja dan kehidupan manusia tidak selalu berlangsung dalam keadaan tenang. Ada tantangan, persoalan, dan badai kehidupan yang harus dihadapi.
Namun, sebagaimana Yesus hadir meneguhkan para murid di tengah gelombang, demikian pula Tuhan selalu hadir menyertai perjalanan Gereja-Nya.
Deken menghubungkan refleksi itu dengan kehidupan umat Ritawolo yang berada di wilayah perbukitan, khususnya Bukit Seburi. Tempat tersebut menjadi simbol bahwa dalam setiap pergumulan hidup, Tuhan tetap hadir dan memberikan harapan.
Ia mengajak umat menerima Pastor Paroki baru dengan hati terbuka dan tidak membiarkan sang gembala berjalan sendirian.

DARI GEMBALA LAMA KEPADA GEMBALA BARU: Ritawolo Menyambut Babak Baru Gereja yang Berjalan Bersama

ESTAFET PELAYANAN TERUS BERJALAN
Rangkaian pelantikan dilanjutkan dengan penyerahan Harta Benda Gereja dari Pastor Paroki lama kepada Pastor Paroki baru serta penandatanganan berita acara serah terima pelayanan.
Ketua DPP Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo, Elias Nama Libur, menyampaikan selamat datang kepada Pastor Paroki baru. Ia menegaskan bahwa umat siap berjalan bersama sang gembala dalam suka maupun duka.
Sementara itu, RD. Markus Kapitan de Ornay menyampaikan terima kasih atas kebersamaan umat selama kurang lebih delapan setengah tahun masa pelayanannya. Ia menggambarkan umat Ritawolo sebagai umat yang memiliki karakter beragam, namun kaya akan semangat pelayanan.
Ia berpesan agar berbagai hal baik yang telah dibangun bersama, termasuk gerakan penyederhanaan pesta dan adat kematian, terus dilanjutkan.
Pastor Paroki baru, RD. Mikhael Samon Beraona, mengajak seluruh umat untuk bersama-sama membangun Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo.
“Perjalanan pastoral bukan perjalanan seorang pastor seorang diri, tetapi perjalanan bersama seluruh umat,” ungkapnya.
Dari gembala lama kepada gembala baru, Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo kembali meneguhkan satu keyakinan: Gereja terus berjalan karena Tuhan selalu menyertai.
Estafet pelayanan berpindah tangan, tetapi semangat iman, persaudaraan, dan pelayanan tetap menjadi jalan bersama untuk menghadirkan Gereja yang hidup di tengah umat. (Patris-Tim Komsos Larantuka)

You may also like