TANAH BOLENG, Komsos Larantuka — Di hadapan altar Tuhan di Stasi Lewobele, Paroki St. Yosef Tanah Boleng, Dekenat Adonara, Senin (10/8/2026), RD. Leonardus Lewokrore atau yang akrab disapa Romo Leo kembali menatap perjalanan panjang panggilannya sebagai imam. Dua puluh lima tahun imamat bukan hanya angka perjalanan waktu, tetapi sebuah kisah tentang rahmat Allah yang bekerja melalui suka dan duka, kegembiraan dan kelelahan, keberhasilan dan keterbatasan manusia.
Perayaan Ekaristi Syukur Perak Imamat Romo Leo menjadi momen penuh sukacita dan syukur. Hadir dalam perayaan tersebut Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, para imam konselebran, biarawan-biarawati, umat dari berbagai wilayah pelayanan Romo Leo, serta Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Flores Timur yang sempat hadir dalam kesempatan tersebut.
Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh yubilaris, RD. Leonardus Lewokrore, sementara homili disampaikan oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro.
Dalam kata pembukaannya, Romo Leo menegaskan bahwa perayaan tersebut bukan terutama tentang dirinya sebagai pribadi, melainkan tentang kasih dan kesetiaan Tuhan yang telah menuntunnya selama 25 tahun menjalani panggilan imamat.
“Perayaan ini adalah perayaan syukur atas anugerah dan cinta Tuhan,” ungkap Romo Leo.
Baginya, perjalanan imamat tidak pernah hanya bergantung pada kekuatan manusia. Ada penyertaan Tuhan yang terus bekerja, memberi kekuatan, membimbing langkah, dan memampukan seorang imam untuk tetap setia dalam pelayanan kepada umat.
IMAMAT: SEBUAH SEJARAH RAHMAT ALLAH
Dalam homilinya, Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, mengajak seluruh umat melihat perjalanan 25 tahun imamat Romo Leo sebagai sebuah sejarah rahmat Allah.
Menurut Uskup Yohanes, pesta perak imamat bukan pertama-tama tentang pencapaian atau prestasi pribadi seorang imam, tetapi tentang karya Allah yang terus berlangsung melalui kehidupan seseorang yang dipanggil untuk melayani.
“Kita tidak sedang mengenang sebuah prestasi, tetapi karya Allah yang terus berlangsung,” tegasnya.
Uskup Larantuka mengungkapkan bahwa dirinya memiliki perjalanan kebersamaan dengan Romo Leo dalam beberapa fase kehidupan pelayanan Gereja. Keduanya pernah sama-sama berkarya di Seminari San Dominggo Hokeng dan pernah berada di Paroki Lewotobi, meskipun dalam masa dan peran yang berbeda.
“Saya dan Romo Leo pernah sama-sama bekerja di Seminari Hokeng. Saya dan Romo Leo pernah bekerja di Paroki Lewotobi pada masa yang berbeda. Saya sebagai frater TOP dan Romo Leo sebagai imam,” kisahnya.
Menurut Uskup Yohanes, perjalanan tersebut menjadi pengingat akan motto tahbisan Romo Leo: “Ia menjadikan segala-galanya baik” (Mrk. 7:37).
Motto tersebut, kata Uskup Yohanes, menjadi keyakinan iman bahwa dalam setiap pengalaman hidup, Tuhan selalu memiliki cara untuk menghadirkan kebaikan.
IMAM YANG DIPANGGIL UNTUK SETIA, BUKAN SEMPURNA
Uskup Yohanes menegaskan bahwa seorang imam dipanggil bukan karena ia sempurna, melainkan karena Allah mempercayakan rahmat-Nya kepada manusia yang memiliki keterbatasan.
Allah dapat bekerja melalui kerapuhan manusia. Kelemahan bukan akhir dari sebuah panggilan, tetapi dapat menjadi ruang tempat rahmat Allah semakin nyata.
“Rahmat menyempurnakan kemanusiaan,” katanya.
Karena itu, Gereja tidak menuntut seorang imam menjadi pribadi tanpa kekurangan.
“Gereja tidak meminta Romo Leo menjadi imam yang sempurna, tetapi menjadi imam yang setia,” ungkap Uskup Yohanes.
Ia juga mengajak umat untuk terus mendoakan dan mendukung para imam. Umat hendaknya tidak hanya melihat keterbatasan seorang imam, tetapi memandang Kristus yang menjadi sumber dan tujuan dari seluruh pelayanan imamat.
DARI TANAH BOLENG UNTUK GEREJA
Perjalanan hidup Romo Leo menjadi bukti bahwa panggilan Tuhan dapat tumbuh dari tempat yang sederhana. Ia berasal dari Tanah Boleng dan melalui perjalanan panjang formasi serta pelayanan akhirnya dipanggil untuk menjadi pelayan Gereja.
Dalam 25 tahun imamatnya, Romo Leo telah menjalani berbagai tugas pelayanan pastoral. Ia pernah menjalani tugas sebagai staf pembina di Seminari San Dominggo Hokeng, berkarya di Sekretariat Pastoral Keuskupan Larantuka, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos), Pastor Rekan Paroki San Juan Lebao, Pastor Paroki Lamalera, Pastor Paroki Lewotobi, hingga melayani umat sebagai Pastor Paroki Leworahang.
Selain pelayanan pastoral, keterlibatannya dalam pemberdayaan umat melalui CU Sinar Saron menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana iman yang dirayakan dalam Ekaristi diterjemahkan dalam kehidupan sosial ekonomi umat.
Menurut Mgr. Yohanes Hans Monteiro, Ekaristi tidak berhenti di altar, tetapi harus menghasilkan buah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui usaha membangun kemandirian dan kesejahteraan umat.
“SAYA TIDAK BERJUANG SENDIRI”
Dalam sambutannya, Romo Leo mengakui bahwa perjalanan 25 tahun imamat bukanlah perjalanan yang selalu mudah.
“Ada saat saya merasa kuat, tetapi ada saat saya merasa lelah. Namun, dalam segalanya Tuhan menopang dan memampukan saya,” ungkapnya.
Ia menyampaikan syukur atas seluruh pengalaman yang telah membentuk hidup dan pelayanannya.
“Terima kasih Tuhan atas segala yang saya alami,” katanya.
Romo Leo juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para uskup yang telah mempercayakan berbagai tugas pelayanan kepadanya, serta kepada semua orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup dan panggilannya.
Dengan rendah hati, ia meminta maaf atas berbagai kekurangan selama menjalankan pelayanan sebagai imam.
“Saya menyadari bahwa saya tidak berjuang sendiri. Terima kasih telah menerima saya bukan sebagai orang yang sempurna,” ujarnya.
Pada akhirnya, seluruh perjalanan 25 tahun imamat Romo Leo kembali bermuara pada keyakinan yang menjadi motto hidupnya: Allah menjadikan segala-galanya baik.
Dari Lewobele, pesta perak imamat itu menjadi kesaksian bahwa manusia dapat mengalami kelemahan dan kelelahan, tetapi rahmat Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.
Perayaan ini bukan hanya mengenang perjalanan seorang imam, tetapi juga mengajak seluruh umat untuk melihat kembali hidup mereka masing-masing sebagai bagian dari karya kasih Allah.
“Kiranya sukacita ini menjadi sukacita kita bersama,” pesan Romo Leo.
Dan dari Lewobele Paroki Tanah Boleng, Gereja kembali diteguhkan: dalam setiap langkah panggilan, Tuhan tetap bekerja dan menjadikan segala-galanya baik. (@sly)





