RAWAT KEBINEKAAN DI BUMI LAMAHOLOT: Pemuda Lintas Agama Flores Timur Diajak Perkuat Dialog dan Aksi Kemanusiaan

Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendorong pemuda lintas agama untuk memperkuat dialog dan aksi kemanusiaan. Langkah kolaboratif ini menjadi bagian penting dari upaya bersama dalam menjaga keberagaman serta merawat kerukunan di tengah masyarakat.

by Komsos Keuskupan Larantuka

LARANTUKA, Komsos Larantuka — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendorong pemuda lintas agama untuk memperkuat dialog dan aksi kemanusiaan. Langkah kolaboratif ini menjadi bagian penting dari upaya bersama dalam menjaga keberagaman serta merawat kerukunan di tengah masyarakat.

Komitmen tersebut mengemuka dalam acara “Dialog Kerukunan Pemuda Lintas Agama dan Diskusi Panel Penyuluh Multiagama” bertema “Menjaga Keberagaman, Memperkokoh Cinta Kemanusiaan untuk Keberlanjutan Bangsa”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Kemenag Flores Timur pada hari Jumat, 28 Agustus 2026.

Pertemuan ini dihadiri sekitar 40 peserta, terdiri atas perwakilan pemuda lintas agama, penyuluh agama multiagama, serta ASN Kemenag Flores Timur. Hadir pula sejumlah pejabat Kemenag setempat dan pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Flores Timur.

Dalam sambutan pembukaannya, Kasubbag Tata Usaha Kemenag Flores Timur, Petrus Wai Leton, mengajak seluruh peserta menjadikan kerukunan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa. Menurutnya, keberagaman agama dan keyakinan merupakan realitas yang harus dirawat bersama melalui sikap saling menghargai, memperkuat moderasi beragama, serta membangun suasana damai.

“Kita semua diajak merawat kerukunan sebagai bagian integral dari hidup berbangsa,” ujar Petrus Wai Leton menegaskan komitmennya.

Dialog dan diskusi panel tersebut menghadirkan tiga pembicara dari FKUB Flores Timur, yakni Ketua FKUB Petrus Pedo Beke, Wakil Ketua I Ahmad Bethan, dan Wakil Ketua II Ferlominggus B. Ketiganya mengulas pentingnya merawat keberagaman melalui dialog, kepedulian terhadap sesama, serta keterlibatan aktif generasi muda dalam menjaga kerukunan.

Ketua FKUB Flores Timur, Petrus Pedo Beke, mengatakan bahwa kemajemukan masyarakat Flores Timur merupakan kekayaan yang perlu dirawat melalui dialog dan komunikasi yang dewasa, sebuah pola interaksi yang tidak sekadar bertukar kata, melainkan komunikasi empatik yang mengedepankan sikap saling mendengarkan secara mendalam, inklusivitas, serta kesediaan meruntuhkan sekat prasangka demi memahami esensi perbedaan secara bijaksana.

Menurutnya, budaya Lamaholot telah mewariskan nilai hidup berdampingan dan memberikan ruang bagi perbedaan. Nilai tersebut perlu terus dihidupkan oleh generasi muda di tengah semakin kompleksnya kehidupan masyarakat saat ini.

“Semakin majemuk, semakin kompleks, tetapi keberagaman juga dapat menjadi berkat,” tutur Petrus. Ia pun mendorong penguatan forum pemuda lintas agama, pelaksanaan Safari Moderasi, serta optimalisasi peran penyuluh agama dalam membangun kesadaran umat untuk memahami ajaran agama masing-masing sekaligus menerima perbedaan dengan lapang dada.

Sementara itu, Wakil Ketua I FKUB Flores Timur, Ahmad Bethan, menekankan pentingnya kepedulian yang tulus dan ajaran kasih sebagai dasar memperkokoh keberagaman. Ia menjelaskan bahwa keberagaman perlu dipandang sebagai sistem nilai, sedangkan cinta kemanusiaan menjadi dasar moral dalam membangun kehidupan bersama.

“Keberagaman adalah sistem nilai, cinta kemanusiaan adalah sistem moral, dan keberlanjutan bangsa adalah ikhtiar,” paparnya secara mendalam.

Di sisi lain, Wakil Ketua II FKUB Flores Timur, Ferlominggus B, menyoroti tantangan kerukunan di ruang digital. Ia meminta para pemuda untuk menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab dengan selalu menyaring informasi sebelum membagikannya.

“Jangan produksi kebohongan. Saring sebelum share,” tegas Ferlominggus. Ia menambahkan bahwa kesadaran terhadap ajaran agama harus berjalan bersama dengan kesadaran kemanusiaan, sehingga perbedaan keyakinan tidak menghalangi kerja bersama dalam aksi kemanusiaan universal.

Foto kegiatan dialog kerukunan pemuda lintas agama dan diskusi panel penyuluh multi agama

Dalam sesi dialog yang berlangsung hangat, para peserta turut menyampaikan berbagai persoalan nyata di lapangan. Hambatan tersebut meliputi keterbatasan ruang perjumpaan bagi pemuda lintas agama, munculnya prasangka akibat perbedaan pemahaman, serta maraknya penyebaran informasi provokatif dan hoaks di media sosial.

Guna menjawab berbagai tantangan riil tersebut, forum dialog ini berhasil merumuskan langkah taktis bersama dalam bentuk narasi rekomendasi. Para peserta sepakat untuk terus memperkuat intensitas dialog lintas agama secara berkala serta menginisiasi pembentukan ruang bersama (shared space) sebagai wadah interaksi positif yang berkelanjutan. Selain itu, mereka berkomitmen mengembangkan ‘dialog karya’ melalui aksi sosial kemanusiaan nyata dan saling menghadiri kegiatan kemasyarakatan antarumat beragama. Tidak kalah penting, media sosial juga akan dioptimalkan secara aktif sebagai ruang positif untuk mengampanyekan pesan-pesan kerukunan demi membendung penyebaran hoaks dan provokasi.

Kegiatan dialog dan diskusi panel ini dinilai sangat sejalan dengan program Asta Protas Kementerian Agama, khususnya dalam hal penguatan kerukunan dan cinta kemanusiaan. Dengan mendorong pemuda lintas agama menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, kegiatan ini diharapkan mampu membangun kehidupan bangsa yang damai, rukun, dan berkelanjutan. (Apol S)

You may also like