Oleh: Anselmus DW Atasoge
“Bumi adalah rumah bersama yang dipercayakan Allah kepada kita untuk dipeluk, bukan untuk dikorbankan.”
Kalimat ini tidak dihadirkan hanya sebagai untaian kata. Ia adalah sebuah bisikan suci, sebuah panggilan cinta yang lahir dari kedalaman hati Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Di tengah hiruk-pikuk ambisi ekonomi yang sering kali tuli terhadap jeritan alam, Gereja Lokal Keuskupan Larantuka hadir bukan sebagai penentang kemajuan, melainkan sebagai ‘seorang ibu’ yang berdiri tegak melindungi anak-anaknya dan tanah yang menghidupi mereka.
Gereja KL dengan tegas menolak proyek panas bumi (geotermal) di Flores Timur dan Lembata. Penolakan ini bukanlah sebuah tembok penghalang, melainkan sebuah pagar kasih. Ia adalah penegasan moral bahwa di atas segala grafik keuntungan dan target energi, ada martabat manusia yang harus dijaga, ada sumber air yang tidak boleh dikeringkan, dan ada ruang hidup yang harus tetap bernapas untuk generasi yang belum lahir.
Flores Timur dan Lembata tidak terbatas pada dua titik koordinat geografis di peta investasi. Keduanya adalah rumah. Oka Ile Ale dan Atadei adalah wilayah yang menyimpan memori, tempat di mana keringat para leluhur menetes membasahi tanah, dan tempat di mana doa-doa sederhana dinaikkan ke langit.
Ketika Mgr. Hans dengan lembut namun tegas menyatakan penolakannya, ia sedang menerjemahkan kecemasan yang bersemayam di dada umatnya. Ia mengingatkan kita pada kebijaksanaan Ensiklik Laudato Si’ (LS 2), yang menyebut bahwa bumi kita, Ibu Pertiwi, kini ‘mengeluh dalam rasa sakit bersalin’ karena luka-luka yang kita timpakan padanya. Flores dan Lembata adalah wilayah kepulauan yang rapuh. Menghadirkannya mesin-mesin bor raksasa ke dalam perutnya yang masih tidur bukanlah sebuah kemajuan, melainkan sebuah ‘perjudian atas nyawa dan masa depan’.
Sikap pastoral ini lahir dari sebuah ruang dengar yang luas. Gereja tidak berbicara dari menara gading. Iaa duduk di atas tanah, bersama masyarakat adat Lewukluok, Blepanawa, dan Bama. Ia berlutut bersama umat di Stasi-stasi Paroki Lerek, Kalikasa, dan Wulandoni.
Bagi mereka, tanah bukanlah komoditas yang bisa diperjualbelikan demi tiket menuju pasar global. Seperti yang diingatkan oleh Laudato Si’ (LS 146), bagi masyarakat adat, “tanah bukan harta ekonomis, tetapi pemberian dari Allah dan dari para leluhur… ruang sakral yang mereka butuhkan untuk mempertahankan identitas.” Ketika warga khawatir sumber air akan hilang, lahan pertanian akan mati, dan ruang budaya akan tercabik, mereka sedang memperjuangkan denyut nadi kehidupan mereka sendiri. Dan, aspirasi mereka bukanlah ‘hambatan pembangunan’. Mereka adalah suara hati nurani yang memohon agar kita tidak kehilangan arah. Pada titik ini, kita diajak untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita lupa cara memandang alam?
Kajian kontemporer tentang ekospiritualitas mengingatkan kita bahwa era modern sering kali tersesat dalam ilusi, mereduksi gunung, hutan, dan mata air menjadi sekadar ‘bahan baku pra-produktif’ yang siap dikupas demi keuntungan sesaat (Haq et al., 2025). Padahal, alam memiliki jiwanya sendiri. Ia adalah cerminan keagungan Sang Pencipta. Ketika Mgr. Hans menegaskan bahwa Bumi Lamaholot adalah bagian tak terpisahkan dari spiritualitas dan identitas masyarakat, ia sedang mengajak kita untuk kembali pada kesadaran purba bahwa alam adalah ‘saudari dan Ibu’ yang harus kita cintai, bukan budak yang harus kita cambuk.
Mari kita luruskan hati bahwa Keuskupan Larantuka tidak alergi terhadap pembangunan. Gereja tidak anti terhadap energi yang menerangi lampu-lampu rumah kita. Namun, Gereja menolak pembangunan yang dibangun di atas air mata umatnya. Gereja menolak transisi energi yang mengorbankan mereka yang paling rentan.
Pembangunan yang sejati, sebagaimana diamanatkan oleh Laudato Si’ (LS 139), adalah pembangunan yang mendengarkan jeritan bumi sekaligus jeritan kaum miskin. Gereja menuntut agar pintu dialog dibuka lebar-lebar ‘sebelum’ keputusan diketuk palu. Bukan sosialisasi yang bersifat menggugurkan kewajiban, melainkan perjumpaan yang tulus di mana masyarakat lokal duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, tanpa intimidasi, tanpa manipulasi. Kajian independen harus dilakukan bukan sebagai formalitas administratif, melainkan sebagai wujud penghormatan terhadap kebenaran dan nyawa manusia.
Peristiwa di Bumi Lamaholot ini adalah sebuah teguran yang penuh kasih bagi kita semua. Ia menunjukkan wajah Gereja yang sesungguhnya. Gereja yang kakinya berdebu karena berjalan bersama umatnya, Gereja yang telinganya mendengar detak jantung alam, dan Gereja yang suaranya membela mereka yang tak bersuara.
Pemerintah memiliki tugas yang mulia untuk ‘menerangi negeri’ ini. Namun, cahaya itu tidak boleh lahir dari kegelapan yang menelan ruang hidup masyarakat. Jalan keluar tidak akan pernah ditemukan dalam ruang yang sempit dan penuh kecurigaan. Ia hanya akan lahir dari meja dialog yang hangat, dari ilmu pengetahuan yang jujur, dan dari kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita bukanlah pemilik mutlak bumi ini.
Bagi saya, pesan dari Larantuka ini melambung melampaui isu panas bumi. Ia adalah sebuah pertanyaan yang menusuk kalbu, sebuah pertanyaan yang juga ditanyakan oleh Paus Fransiskus: “Dunia macam apa yang ingin kita tinggalkan untuk mereka yang datang sesudah kita, anak-anak yang kini sedang dibesarkan?” (LS 160).
Pembangunan yang sejati adalah ketika ia melayani kehidupan. Ketika investasi diletakkan di atas keselamatan rumah bersama, ia hanyalah kemajuan yang kehilangan jiwanya. Namun, ketika manusia, alam, dan generasi mendatang dipeluk sebagai prioritas, di situlah harapan bertunas.
Pada akhirnya, tanah Lamaholot bukanlah sebuah entitas komoditas yang bisa diperdagangkan demi ambisi sesaat. Ia adalah rahim yang menyimpan keringat para leluhur dan detak jantung bagi generasi yang belum lahir. Ketika kita memilih untuk berlutut mencium bumi ini daripada menancapkan mesin yang melukainya, kita tidak sedang menolak kemajuan, melainkan sedang membela martabat kehidupan itu sendiri.
Mari kita dengarkan jeritan bumi yang tak pernah terpisah dari tangis kaum miskin, dan berjanjilah bahwa kita akan menjadi generasi yang berani mewariskan bukan puing-puing keserakahan, melainkan sebuah rumah bersama yang utuh, adil, dan Lestari. Sebab, pada ujung dari segala perjuangan, merawat ciptaan adalah cara paling intim kita untuk memeluk Sang Pencipta, di bawah naungan kasih Santa Maria, Tuan Ma, yang senantiasa menjaga tanah ini.*
