Paroki Waipukang Menuju Gereja Mandiri dan Misioner, Ekonomi Umat Jadi Prioritas

Paroki Santa Maria Bintang Laut Waipukang, Dekenat Lembata, terus memperkuat kehidupan iman umat melalui pemberdayaan Komunitas Basis Gerejawi (KBG), pembinaan generasi muda, kepedulian sosial-ekologis, dan pengembangan ekonomi keluarga. Berlandaskan visi Keuskupan Larantuka, “Menuju Gereja Umat Allah yang Mandiri dan Misioner”, paroki ini berupaya menghadirkan Gereja yang tidak hanya bertumbuh dalam iman, tetapi juga berdaya menghadapi tantangan kehidupan masyarakat.

by Komsos Keuskupan Larantuka

WAIPUKANG, Komsos Larantuka — Paroki Santa Maria Bintang Laut Waipukang, Dekenat Lembata, terus memperkuat kehidupan iman umat melalui pemberdayaan Komunitas Basis Gerejawi (KBG), pembinaan generasi muda, kepedulian sosial-ekologis, dan pengembangan ekonomi keluarga. Berlandaskan visi Keuskupan Larantuka, “Menuju Gereja Umat Allah yang Mandiri dan Misioner”, paroki ini berupaya menghadirkan Gereja yang tidak hanya bertumbuh dalam iman, tetapi juga berdaya menghadapi tantangan kehidupan masyarakat.
Komitmen tersebut tergambar dalam laporan perkembangan pastoral periode 2024–2026 yang disampaikan Pastor Paroki RD. Gabriel Jogo Baluk pada 17 Oktober 2026. Laporan ini memaparkan capaian pelayanan, tantangan yang masih dihadapi, serta arah pembaruan pastoral dalam semangat episkopal Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro: “Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan.”

Paroki Waipukang 17 Oktober 2026

Melayani 8.130 Umat di Delapan Stasi
Paroki Santa Maria Bintang Laut Waipukang memiliki sejarah sejak 1951 sebagai pemekaran Paroki Santa Maria Banneux Lewoleba, dengan nama awal Paroki Stella Maris Ile Ape. Pada 1954, pusat paroki dipindahkan dari Lewotolok ke Waipukang dan menggunakan nama yang dikenal hingga sekarang.
Terletak di kaki Gunung Ile Ape, Kabupaten Lembata, paroki ini melayani delapan stasi dengan jumlah 8.130 jiwa, 1.748 kepala keluarga, dan 112 KBG. Sebagian besar umat menggantungkan hidup pada pertanian dan peternakan, sementara sebagian lainnya bekerja sebagai aparatur sipil negara, wiraswasta, serta pelaku usaha pembuatan batu bata.
Besarnya jumlah umat dan luas wilayah pelayanan menuntut keterlibatan seluruh unsur Gereja. Karena itu, paroki terus mendorong KBG menjadi pusat pertumbuhan iman, persaudaraan, dan aksi nyata. Penguatan kepemimpinan, rekoleksi, pembinaan pengurus, serta pemberdayaan kelompok kategorial menjadi bagian dari upaya meningkatkan partisipasi umat.
Dalam data paroki, kelompok yang tercatat meliputi 527 anggota Sekami dan Remaja Misioner, 322 anggota Orang Muda Katolik (OMK), serta 30 anggota THS-THM. Serikat gerejawi yang terdata antara lain Konfreria dengan 34 anggota, Legio Maria 99 anggota, dan KSM enam anggota.

Paroki Waipukang 17 Oktober 2026

Sakramen, Kitab Suci, dan Generasi Muda
Pelayanan sakramen tetap menjadi jantung reksa pastoral. Persiapan Baptis, Komuni Pertama, Perkawinan, dan Krisma dilaksanakan melalui pembinaan berjenjang dari tingkat stasi hingga tim pastor. Pelayanan Ekaristi hari Minggu diatur secara bergilir sehingga seluruh stasi memperoleh kesempatan pelayanan secara adil.
Pada 2026, Komuni Pertama dilaksanakan serentak se-Dekenat Lembata pada 21 Agustus. Pelayanan Sakramen Krisma juga dijadwalkan untuk tiga angkatan, yakni 2024–2026, termasuk bagi orang dewasa yang belum menerimanya.
Di samping liturgi dan sakramen, paroki menyelenggarakan Adorasi, novena, perarakan patung Bunda Maria Bintang Laut, serta kegiatan pendalaman iman. Namun, pendalaman Kitab Suci di tingkat KBG masih menjadi tantangan. Refleksi Sabda Allah cenderung lebih intensif pada masa khusus, seperti Aksi Puasa Pembangunan, Bulan Kitab Suci Nasional, dan Adven.
Karena itu, pelatihan fasilitator Kitab Suci, lektor, pemazmur, dan pewarta Sabda terus didorong agar Kitab Suci semakin menjadi sumber kehidupan umat sehari-hari.
Pembinaan anak dan remaja dilakukan melalui Sekami, Remaja Misioner, kegiatan misdinar, Rosario Misioner, kunjungan kepada orang sakit dan lanjut usia, serta pendalaman iman. Sementara itu, OMK dilibatkan dalam pelayanan liturgi, kegiatan sosial lintas agama, pelatihan kepemimpinan, kepanitiaan paroki, dan pemberdayaan ekonomi. Gereja ingin membentuk generasi muda yang bukan sekadar menerima pelayanan, melainkan turut menjadi pelaku misi.

Paroki Waipukang 17 Oktober 2026

Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman
Memasuki 2026, Paroki Waipukang menerjemahkan tema pastoral Keuskupan Larantuka, “Pemberdayaan Ekonomi sebagai Ekspresi Iman”, melalui program yang menyentuh kehidupan keluarga dan sumber penghidupan umat.
Program tersebut mencakup pembinaan tata kelola ekonomi rumah tangga, pelatihan kewirausahaan bagi petani dan nelayan, serta sosialisasi lembaga pemberdayaan ekonomi seperti Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) dan Credit Union Sinar Saron. Paroki juga mengupayakan dialog multipihak untuk menyederhanakan pesta Sambut Baru dan Baptis agar perayaan iman tidak menjadi beban ekonomi keluarga.
Meski demikian, beberapa agenda belum terlaksana, antara lain sosialisasi SILC serta pengorganisasian dan pendampingan pastoral bagi kelompok kategorial keluarga perantau atau Mirantau. Program-program tersebut direncanakan untuk dilanjutkan dalam beberapa bulan berikutnya.
Kemandirian ekonomi juga berkaitan dengan kemampuan umat menopang pelayanan Gereja. Selama 2024–2026, sumber pemasukan paroki antara lain Iuran Gereja Berdikari sebesar Rp150.000 per kepala keluarga per tahun, amplop Natal dan Paskah, serta biaya administrasi sekretariat. Partisipasi ini menopang kegiatan pastoral, operasional paroki, dan kewajiban Gereja di tingkat dekenat maupun keuskupan.

Peduli Lingkungan dan Solidaritas Sosial
Berada di kaki Gunung Ile Ape membuat persoalan lingkungan menjadi perhatian penting. Paroki mengingatkan umat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas gunung, sekaligus menjaga tanah, hutan, pantai, dan laut sebagai sumber kehidupan masyarakat.
Penggunaan racun rumput yang berpotensi merusak lingkungan serta konflik kepemilikan tanah masih menjadi persoalan yang perlu ditangani. Umat diajak menanam pohon, menyediakan tempat sampah, mengadakan kegiatan kebersihan KBG, dan mengembangkan pertanian berkelanjutan.
Perhatian sosial juga diarahkan pada perlindungan perempuan dan anak, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, penanganan stunting, serta peningkatan kesadaran politik dan hukum masyarakat. Dalam semangat pelayanan bersama Uskup Larantuka, paroki turut mendorong solidaritas terhadap para penyintas erupsi Ile Ape.

Pembangunan Gereja dan Pekerjaan Rumah
Di tengah penguatan pelayanan umat, pembangunan gedung Gereja Paroki yang dimulai pada 2024 terus berjalan. Hingga Oktober 2026, pengerjaan telah mencapai tahap penyusunan batu dinding dan pengecoran tiang menuju bagian atap.
Namun, pembangunan fisik bukan satu-satunya pekerjaan yang harus diselesaikan. Paroki masih menghadapi persoalan dokumen kepemilikan tanah Gereja serta penataan kembali umat di wilayah perbatasan kota dan penegasan batas pelayanan antara Paroki Lamahora dan Waipukang.
Evaluasi pastoral 2025 telah dilaksanakan secara berjenjang mulai dari KBG, lingkungan, stasi, paroki, hingga dekenat. Hasil evaluasi menjadi dasar untuk memperbaiki pelayanan, memperkuat kepemimpinan umat, dan memastikan program pastoral menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Berjalan Bersama dalam Pengharapan
Perjalanan Paroki Santa Maria Bintang Laut Waipukang menunjukkan bahwa membangun Gereja mandiri dan misioner membutuhkan lebih dari sekadar kegiatan liturgi dan pembangunan gedung. Gereja juga perlu memperkuat iman umat, memberdayakan keluarga, menyiapkan pemimpin baru, menjaga lingkungan, dan membangun kemandirian ekonomi.
Dengan semangat “Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan”, Paroki Waipukang berkomitmen melanjutkan pembaruan pastoral melalui kerja sama antara imam, pengurus Gereja, kelompok kategorial, dan seluruh umat.
Di bawah perlindungan Santa Maria Bintang Laut, tantangan yang masih tersisa menjadi panggilan untuk berjalan bersama. Sebab, kekuatan Gereja tidak hanya terletak pada kokohnya bangunan, tetapi terutama pada iman yang hidup, persaudaraan yang terpelihara, dan kesediaan umat menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan nyata. (@sly)

You may also like