LARANTUKA, Komsos Larantuka — Taman Doa Bukit Fatima, Larantuka, dipadati para ibu anggota Santa Anna dari berbagai paroki se-Dekenat Larantuka pada Kamis, 15 Oktober 2026. Dalam suasana penuh persaudaraan dan sukacita iman, mereka berkumpul untuk berziarah, merayakan Ekaristi, serta memperbarui komitmen sebagai perempuan beriman yang tekun berdoa, menguatkan keluarga, dan mengambil bagian aktif dalam kehidupan Gereja.
Perjumpaan ini menjadi momen bersejarah bagi Santa Anna Dekenat Larantuka karena untuk pertama kalinya kegiatan bersama diselenggarakan pada tingkat dekenat. Kehadiran para pengurus dan anggota dari berbagai paroki memperlihatkan kerinduan untuk mempererat persaudaraan, memperkuat kehidupan rohani, dan meneguhkan peran para ibu dalam menghadapi berbagai tantangan keluarga dan masyarakat dewasa ini.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, didampingi Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD. Adeodatus Hendrikus Leni, Moderator Santa Anna Dekenat Larantuka, RD. Petrus Ece Muda, serta sejumlah imam konselebran.
Dalam perayaan tersebut, para ibu diajak memaknai ziarah bukan sekadar perjalanan menuju tempat doa, melainkan kesempatan untuk memperbarui iman, memperkuat harapan, dan membawa pulang semangat baru bagi kehidupan keluarga serta pelayanan di tengah umat.
Bukit Fatima Berubah Menjadi Bukit Santa Anna
Mengawali homilinya, Mgr. Fransiskus Kopong Kung mengungkapkan kegembiraannya melihat kehadiran para ibu Santa Anna yang memenuhi kawasan Taman Doa Bukit Fatima. Ia menggambarkan suasana hari itu sebagai pemandangan yang berbeda dari biasanya.
“Hari ini Bukit Fatima berubah warna. Jadi Bukit Santa Anna, paling tidak untuk hari ini,” ungkapnya, disambut senyum hangat, akrab dan penuh sukacita dari para ibu.
Bagi Mgr. Fransiskus, perjumpaan tersebut merupakan kesempatan istimewa bagi para ibu untuk saling mendukung, menguatkan, dan mendoakan. Di tengah dunia yang semakin kompleks dengan berbagai persoalan, para anggota Santa Anna diajak untuk terus berjalan bersama Tuhan dengan meneladan Bunda Maria, yang setia mendengarkan Sabda Allah dan menyerahkan hidupnya kepada kehendak-Nya.
Ziarah ini hendaknya menjadi kesempatan untuk membawa seluruh pergumulan keluarga ke hadapan Tuhan sekaligus memperbarui kekuatan batin agar para ibu tetap setia menjalankan panggilan mereka.
Mengacu pada bacaan pertama dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus 1:1-10, Mgr. Fransiskus mengingatkan bahwa setiap orang beriman telah dipilih dalam Kristus untuk hidup kudus dan tak bercacat di hadapan Allah. Panggilan kepada kekudusan merupakan anugerah sekaligus tanggung jawab yang perlu diperjuangkan sepanjang hidup.
“Kadang-kadang kita kuat, kadang-kadang kita lemah. Tetapi Paulus mengingatkan kita supaya jangan lupa bahwa kita telah dipilih untuk hidup suci. Berjuanglah untuk hidup suci, walaupun kita lemah dan rapuh,” pesannya.
Ia menegaskan bahwa kekudusan bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari atau hanya dapat dicapai oleh orang-orang tertentu. Kekudusan justru bertumbuh melalui kesetiaan menjalankan tanggung jawab sederhana, terutama dalam kehidupan keluarga.
Seorang ibu yang berjuang membesarkan anak-anak, memperhatikan cucu, menjaga kesetiaan, bersikap jujur, serta tekun berdoa sedang menapaki jalan kekudusan. Hal-hal sederhana yang dilakukan dengan kasih memiliki makna besar dalam membangun kehidupan keluarga yang berakar pada iman.
Karena itu, para ibu Santa Anna diajak untuk tidak berkecil hati ketika menghadapi kelemahan dan kesulitan. Perjuangan menuju kekudusan bukan berarti seseorang tidak pernah jatuh dalam kesalahan, melainkan kesediaan untuk terus memperbaiki diri, bangkit, dan kembali kepada Tuhan.
Menjadi Ibu Pendoa yang Tidak Mudah Menyerah
Mgr. Fransiskus juga menekankan pentingnya peran para ibu dalam menjaga kehidupan rohani keluarga. Gereja membutuhkan perempuan-perempuan beriman yang tekun berdoa, setia menjalankan tanggung jawab, dan menghadirkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari.
“Gereja membutuhkan mama-mama Santa Anna, mama-mama beriman, mama-mama yang sederhana dalam doa. Gereja membutuhkan mama-mama untuk mendoakan Gereja dan mendoakan keluarga,” tegasnya.
Pesan ini menjadi relevan ketika keluarga berhadapan dengan berbagai persoalan, termasuk melemahnya kehidupan doa, kurangnya perhatian terhadap pendidikan iman anak, serta kebiasaan-kebiasaan yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga.
Mgr. Fransiskus mengajak para ibu untuk terus mendoakan suami dan anak-anak, termasuk ketika anggota keluarga mengalami kesulitan untuk bertumbuh dalam iman atau terjerat kebiasaan buruk, seperti mengonsumsi minuman keras secara berlebihan.
Dalam keadaan demikian, para ibu hendaknya tidak mudah kehilangan harapan. Doa perlu disertai keteladanan, kesabaran, perkataan yang membangun, dan usaha nyata untuk menciptakan suasana keluarga yang lebih baik.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga perkataan dan mengendalikan emosi. Kesaksian iman tidak hanya tampak ketika seseorang berdoa di gereja, tetapi juga ketika ia berbicara dengan anggota keluarga, menghadapi perbedaan pendapat, dan menyelesaikan persoalan di rumah.
Dalam konteks Bulan Rosario, Mgr. Fransiskus mengajak para ibu untuk semakin tekun mendaraskan doa Rosario dan menjadikannya bagian dari kehidupan keluarga. Kebiasaan baik yang dilakukan secara terus-menerus akan membantu keluarga bertumbuh dalam kehidupan rohani.
“Bulan Rosario ini kita berdoa Rosario. Kita menjadi contoh. Selalu punya waktu untuk berdoa. Santa Anna tidak boleh putus asa,” pesannya.
Dengan demikian, doa tidak berhenti sebagai ungkapan permohonan kepada Tuhan, tetapi menjadi sumber kekuatan yang mendorong perubahan sikap dan tindakan. Para ibu diharapkan mampu menghadirkan suasana rumah yang dipenuhi kasih, pengampunan, dan kepedulian.
Membuka Kunci Hati bagi Tuhan dan Sesama
Merefleksikan Injil Lukas 11:47-54, yang mengisahkan kecaman Yesus terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, Mgr. Fransiskus mengajak para ibu untuk memeriksa kembali sikap hidup mereka. Yesus mengecam mereka yang memiliki pengetahuan tentang hukum Allah, tetapi justru menghalangi orang lain untuk mengenal dan menerima kebenaran.
Dari kisah tersebut, para ibu Santa Anna diajak untuk tidak membiarkan pengetahuan iman dan kebiasaan keagamaan berhenti pada diri sendiri. Iman harus membuka jalan bagi orang lain untuk mengalami kasih Tuhan.
Mgr. Fransiskus mengingatkan bahwa setiap orang perlu memiliki hati yang terbuka terhadap Tuhan, anggota keluarga, tetangga, dan siapa saja yang membutuhkan perhatian.
“Kita mempunyai kunci hati yang harus terbuka kepada Tuhan, kepada keluarga, dan kepada tetangga. Kunci hati yang terbuka jangan sampai tertutup,” ujarnya.
Pesan ini menjadi ajakan bagi para ibu untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak, khususnya generasi muda yang menghadapi tantangan zaman yang semakin beragam. Anak-anak tidak hanya membutuhkan nasihat, tetapi juga telinga yang mau mendengarkan, hati yang memahami, serta teladan hidup yang dapat mereka ikuti.
Keterbukaan hati juga berarti kesediaan untuk mendekati mereka yang sedang mengalami kesulitan, mengampuni ketika terjadi kesalahan, dan membangun kembali hubungan yang retak. Dalam kehidupan keluarga, sikap-sikap tersebut menjadi jalan untuk menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih.
Bagi para anggota Santa Anna, menjadi perempuan beriman berarti berani menghadirkan iman dalam tindakan nyata. Doa yang tekun perlu berjalan bersama kepedulian terhadap sesama, sementara pengetahuan tentang ajaran Gereja perlu diwujudkan dalam sikap yang membawa kebaikan bagi orang lain.
Santa Anna Diharapkan Menghidupkan KBG
Lebih jauh, Mgr. Fransiskus mengajak ibu-ibu Santa Anna Dekenat Larantuka untuk mengambil bagian aktif dalam menghidupkan Komunitas Basis Gerejawi (KBG). Semangat doa dan persaudaraan yang dibangun melalui ziarah hendaknya diteruskan dalam kehidupan komunitas di setiap lingkungan.
Para ibu Santa Anna diharapkan menjadi penggerak yang mendorong umat untuk kembali membangun kebersamaan, mengembangkan kebiasaan berdoa, dan saling memperhatikan dalam kehidupan sehari-hari.
KBG merupakan ruang penting bagi umat untuk bertumbuh bersama dalam iman, berbagi pengalaman, dan menunjukkan kepedulian terhadap anggota komunitas yang membutuhkan bantuan. Dalam kehidupan seperti inilah para ibu dapat memberikan sumbangan berarti bagi pertumbuhan Gereja.
Mgr. Fransiskus kembali menegaskan bahwa ziarah merupakan kesempatan untuk saling mendukung, saling mengenal, dan saling mendoakan. Semangat tersebut perlu menjadi dasar bagi perjalanan Santa Anna Dekenat Larantuka ke depan agar kebersamaan yang terjalin tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan iman yang nyata.
Pelaksanaan kegiatan bersama di tingkat dekenat untuk pertama kalinya menjadi langkah awal dalam memperkuat koordinasi dan persaudaraan antarparoki. Dengan pendampingan moderator dan dukungan kepengurusan yang telah dipercayakan, Santa Anna diharapkan semakin mampu mengembangkan kegiatan rohani yang menjawab kebutuhan keluarga dan kehidupan umat.
Kepengurusan Baru, Harapan bagi Gerakan Doa
Untuk mendukung perjalanan dan pelayanan organisasi, Santa Anna Dekenat Larantuka memiliki kepengurusan yang dipercayakan kepada sejumlah anggota. RD. Petrus Ece Muda bertugas sebagai moderator, sedangkan Ibu Maria Sarina Roma Kia dipercayakan sebagai ketua. Selanjutnya, Ibu Theresia Loek Nama mengemban tugas sebagai wakil ketua sekaligus sekretaris, sementara Ibu Yuliana Soge dipercayakan sebagai bendahara.
Kepengurusan ini diharapkan menjadi penggerak bagi pengembangan kehidupan rohani para anggota, penguatan persaudaraan antarparoki, serta peningkatan keterlibatan Santa Anna dalam kehidupan keluarga dan komunitas basis. Melalui kerja sama dan pendampingan yang berkelanjutan, Santa Anna diharapkan tumbuh menjadi komunitas perempuan beriman yang tidak hanya tekun berdoa, tetapi juga hadir membawa pengharapan dan kepedulian bagi sesama.
Dari Bukit Fatima, Kembali Menjadi Saksi di Tengah Keluarga
Ziarah Santa Anna Dekenat Larantuka di Taman Doa Bukit Fatima menegaskan kembali panggilan para ibu sebagai pendoa, pendidik iman, dan saksi Kristus di tengah keluarga serta masyarakat. Perjumpaan tersebut bukan sekadar kesempatan untuk berkumpul, melainkan momentum memperbarui komitmen untuk hidup sebagai perempuan-perempuan yang percaya kepada Tuhan.
Pesan Mgr. Fransiskus mengingatkan bahwa kekuatan Santa Anna tidak terutama diukur dari besarnya kegiatan atau banyaknya anggota, melainkan dari kesetiaan para ibu dalam menghidupi iman melalui tindakan sederhana. Ketekunan berdoa, kemampuan mengendalikan emosi, kesediaan mendengarkan anak-anak, kesetiaan mendampingi suami, serta kepedulian terhadap sesama merupakan bentuk kesaksian yang dapat dirasakan langsung oleh keluarga dan lingkungan.
Karena itu, semangat yang tumbuh di Bukit Fatima diharapkan terus hidup ketika para peserta kembali ke paroki, KBG, dan rumah masing-masing. Dari keluarga, iman dipelihara; dari lingkungan, persaudaraan diperkuat; dan melalui kehidupan sehari-hari, kasih Kristus diwartakan.
Santa Anna tidak boleh putus asa. Para ibu dipanggil untuk bangkit dalam doa, teguh dalam iman, terbuka dalam kasih, dan setia menjadi saksi Kristus. Dari keluarga yang dibangun dalam iman, Gereja menemukan kekuatan untuk terus bertumbuh dan melayani. (@sly)





