Dari Salib Bleba Broit, Katekis dan Penyuluh Katolik Adonara Meneguhkan Misi Perdamaian

Semangat persaudaraan, kesatuan iman, dan panggilan untuk membangun perdamaian mewarnai pelantikan Paguyuban Katekis, Guru dan Penyuluh Agama Katolik Dekenat Adonara di Paroki Santo Yoseph Tanah Boleng, Jumat, 16 Oktober 2026. Mengusung tema “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Iman”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperteguh komitmen para pelayan Gereja dalam mewartakan Injil, membina iman umat, dan menghadirkan perdamaian di tengah kehidupan masyarakat Adonara.

by Komsos Keuskupan Larantuka

TANAH BOLENG, Komsos Keuskupan Larantuka — Semangat persaudaraan, kesatuan iman, dan panggilan untuk membangun perdamaian mewarnai pelantikan Paguyuban Katekis, Guru dan Penyuluh Agama Katolik Dekenat Adonara di Paroki Santo Yoseph Tanah Boleng, Jumat, 16 Oktober 2026. Mengusung tema “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Iman”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperteguh komitmen para pelayan Gereja dalam mewartakan Injil, membina iman umat, dan menghadirkan perdamaian di tengah kehidupan masyarakat Adonara.
Pelantikan tersebut tidak sekadar menandai terbentuknya sebuah kepengurusan, tetapi juga menjadi peneguhan atas tanggung jawab bersama untuk membangun pelayanan yang semakin solid, kolaboratif, dan berakar pada iman akan Yesus Kristus. Di tengah berbagai tantangan kehidupan umat, para katekis, guru agama Katolik, dan penyuluh agama Katolik dipanggil untuk berjalan bersama, saling menguatkan, serta menjadi saksi kasih Allah melalui perkataan dan tindakan nyata.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Deken Adonara, RD. Aloysius Dore. Turut hadir Pastor Paroki Santo Yoseph Tanah Boleng, RD. David Doni; Pastor Rekan, RD. Johanes Bulet Rean; serta Pastor Moderator, RD. Hendrikus Raya Kleden. Hadir pula Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Yosef Aloysius Babaputra, S.Fil., M.M.; Kepala Seksi Urusan Agama Katolik, Paulus Pedro, S.Sos.; Kepala Seksi Pendidikan Katolik, Adrianus Bajuga Haliwala, S.Ag.; bersama para katekis, guru agama Katolik, dan penyuluh agama Katolik se-Dekenat Adonara.

Dari Salib Bleba Broit, Katekis dan Penyuluh Katolik Adonara Meneguhkan Misi Perdamaian

Bersatu dalam Kristus, Setia dalam Perutusan
Dalam homilinya, RD. Aloysius Dore mengajak seluruh peserta untuk memahami bahwa kesatuan dalam Kristus tidak cukup berhenti pada pengakuan iman atau semboyan yang indah. Kesatuan itu harus tampak dalam kehidupan doa, pendalaman Sabda Tuhan, dan kesetiaan merayakan Ekaristi sebagai sumber kekuatan rohani dalam menjalankan tugas perutusan.
Menurutnya, para katekis, guru agama Katolik, dan penyuluh agama Katolik perlu terus membangun kedekatan dengan Tuhan. Dari relasi yang mendalam dengan Kristus, mereka memperoleh kekuatan untuk menghadirkan kasih Allah kepada umat yang dipercayakan kepada mereka.
Pelayanan Gereja, lanjutnya, menuntut kesediaan untuk berkorban, mengesampingkan kepentingan pribadi, dan mengutamakan kepentingan bersama. Satu dalam Kristus berarti memiliki arah perutusan yang sama, berpegang teguh pada iman, dan bersedia bekerja demi pertumbuhan iman serta keselamatan sesama.
Romo Deken juga menggarisbawahi makna Salib Suci sebagai lambang pengorbanan sekaligus panggilan untuk memperjuangkan perdamaian. Salib mengingatkan setiap orang beriman bahwa jalan Kristus bukanlah jalan permusuhan, melainkan jalan kasih yang berani menanggung penderitaan demi kehidupan yang lebih baik bagi sesama.
Pesan tersebut menjadi semakin bermakna dalam konteks kehidupan masyarakat Adonara yang memiliki sejarah dan pengalaman sosial tersendiri. Para pelayan Gereja diajak untuk menjadikan perdamaian sebagai bagian integral dari karya pastoral, sehingga persatuan bukan sekadar kata-kata, melainkan sungguh-sungguh dihidupi dalam relasi antarmanusia.

Dari Salib Bleba Broit, Katekis dan Penyuluh Katolik Adonara Meneguhkan Misi Perdamaian

Pelantikan sebagai Peneguhan Tanggung Jawab Bersama
Usai homili, Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan pengangkatan pengurus Paguyuban Katekis, Guru dan Penyuluh Agama Katolik Dekenat Adonara oleh RD. Hendrikus Raya Kleden selaku Romo Moderator.
Prosesi pelantikan berlangsung khidmat. Para pengurus mengucapkan janji perutusan di hadapan para imam, pimpinan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, dan seluruh anggota paguyuban yang hadir.
Pelantikan tersebut menjadi tanda dimulainya tanggung jawab baru dalam mengembangkan kebersamaan dan meningkatkan mutu pelayanan. Paguyuban diharapkan menjadi ruang perjumpaan, komunikasi, dan kolaborasi bagi para pelayan Gereja yang selama ini menjalankan tugas di lingkungan pendidikan, pembinaan iman, dan pendampingan umat.
Dalam kenyataan pelayanan sehari-hari, setiap anggota memiliki pengalaman, kemampuan, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, kebersamaan dalam paguyuban menjadi penting agar berbagai potensi tersebut dapat disatukan dan dikembangkan untuk mendukung karya evangelisasi Gereja di Dekenat Adonara.
Ketua Paguyuban, Michael Boro Babe, S.Ag., dalam sambutannya menjelaskan bahwa kepengurusan telah dibentuk melalui proses rapat bersama dan kini memperoleh peneguhan melalui pelantikan. Ia mengajak seluruh anggota untuk mengesampingkan kepentingan pribadi dan membangun kerja sama yang tulus dalam menjalankan tugas perutusan.
Baginya, paguyuban harus menjadi wadah persaudaraan yang memungkinkan para katekis, guru agama Katolik, dan penyuluh agama Katolik saling mendukung, berbagi pengalaman, serta memperkuat komitmen dalam membina iman umat. Semangat kebersamaan itu perlu diwujudkan dalam program dan tindakan konkret, bukan hanya dalam pertemuan seremonial.

Dari Salib Bleba Broit, Katekis dan Penyuluh Katolik Adonara Meneguhkan Misi Perdamaian

Menjadikan Kristus sebagai Pusat Pelayanan
Ketua Forum Katekis, Guru Agama dan Penyuluh Agama Katolik Kabupaten Flores Timur, Dom Dominggo Karwayu, S.Pd., turut menyampaikan ucapan selamat kepada pengurus dan seluruh anggota paguyuban. Ia mengingatkan bahwa semangat “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi” hendaknya menjadi benang merah dalam setiap kegiatan dan pelayanan.
Ia menekankan pentingnya penyangkalan diri dalam kehidupan seorang pelayan Gereja. Keberhasilan pelayanan tidak terutama ditentukan oleh keunggulan pribadi, melainkan oleh kesediaan untuk menempatkan Yesus Kristus sebagai pusat kehidupan dan karya.
“Kita tidak bisa memberi kepada orang lain apa yang tidak kita miliki,” tegasnya.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa pewartaan iman harus berangkat dari kehidupan iman yang sungguh-sungguh dihidupi. Para pelayan Gereja perlu terus memperdalam hubungan pribadi dengan Tuhan melalui Sabda, doa, dan Ekaristi. Dengan demikian, apa yang mereka ajarkan dan wartakan kepada umat tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi kesaksian hidup yang dapat dilihat dan dirasakan.
Kedekatan dengan Kristus juga menjadi sumber keberanian dalam menghadapi tantangan pelayanan. Setiap anggota paguyuban diharapkan tetap bertanggung jawab, tekun menjalankan tugas di tempat masing-masing, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Dalam perjalanan itu, Kristus tetap menjadi sumber kekuatan dan harapan.

Dari Salib Bleba Broit, Katekis dan Penyuluh Katolik Adonara Meneguhkan Misi Perdamaian

Salib Bleba Broit, Simbol Perjuangan Menuju Perdamaian
Salah satu pesan penting dalam kegiatan ini berpusat pada makna Salib Leba Broit, salib khas Adonara yang merepresentasikan tombak, parang, dan perisai. Dalam sambutannya, RD. Aloysius Dore mengajak para peserta untuk membaca simbol tersebut bukan hanya sebagai pengingat akan sejarah, tetapi juga sebagai panggilan untuk membangun masa depan yang lebih damai.
Salib Bleba Broit mengingatkan masyarakat akan pengalaman kekerasan dan pertentangan yang pernah mewarnai kehidupan di wilayah Adonara. Namun, pengalaman masa lalu tidak seharusnya terus diwariskan dalam bentuk permusuhan. Sebaliknya, sejarah perlu menjadi bahan refleksi agar masyarakat semakin menyadari pentingnya membangun persaudaraan dan menyelesaikan persoalan melalui jalan damai.
Romo Deken menegaskan bahwa perjuangan menghadirkan perdamaian merupakan tanggung jawab bersama dan bagian dari proyek besar Tuhan bagi umat-Nya. Senjata yang dahulu menjadi lambang pertentangan tidak boleh lagi menjadi penentu kehidupan masyarakat. Kristus harus menjadi pusat dan pemimpin dalam setiap upaya membangun persaudaraan.
Pesan ini memberikan dimensi yang lebih mendalam bagi perutusan para katekis, guru agama Katolik, dan penyuluh agama Katolik. Mereka tidak hanya dipanggil untuk mengajarkan ajaran iman, tetapi juga mendidik umat agar mampu menghidupi nilai-nilai Injil dalam kehidupan bersama. Iman harus menjadi kekuatan yang mendorong orang untuk mengampuni, membangun dialog, menghormati sesama, dan menolak kekerasan.
Romo Deken juga menyampaikan bahwa Uskup Larantuka telah menetapkan Taman Doa Salib Bleba Broit sebagai salah satu tempat ziarah di Keuskupan Larantuka, selain Tuan Ma. Penetapan ini diharapkan menjadikan Taman Doa Salib Bleba Broit sebagai ruang doa, refleksi, dan pertobatan, tempat umat memperbarui komitmen untuk hidup dalam kasih serta memperjuangkan perdamaian.

Kementerian Agama: Gereja Adalah Persekutuan yang Hidup
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Yosef Aloysius Babaputra, S.Fil., M.M., dalam sambutannya mengajak seluruh hadirin untuk bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada Bunda Maria atas kesempatan berkumpul dalam semangat persaudaraan.
Ia menyampaikan selamat atas terbentuknya Paguyuban Katekis, Guru dan Penyuluh Agama Katolik Dekenat Adonara. Mengutip pesan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, ia menegaskan bahwa Gereja tidak seharusnya dipahami semata-mata sebagai organisasi, tetapi terutama sebagai persekutuan umat dan komunitas persaudaraan yang menghidupi semangat sinodalitas.
Dalam persekutuan tersebut, kaum awam memiliki peran penting untuk mengambil bagian dalam karya kerasulan. Kehadiran para katekis, guru agama Katolik, dan penyuluh agama Katolik menjadi salah satu bentuk keterlibatan nyata umat dalam membangun kehidupan Gereja.
Ia juga mengingatkan bahwa Gereja masa kini menghadapi beragam tantangan yang menyentuh bidang pendidikan, ekonomi, budaya, kerusakan ekologis, kehidupan keluarga, hingga ideologi politik. Berbagai persoalan tersebut tidak dapat dihadapi secara sendiri-sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan, kepedulian, dan kerja sama semua pihak.
“Gereja adalah kita,” demikian pesan yang ditegaskannya.
Pernyataan tersebut menjadi ajakan agar setiap anggota memiliki rasa tanggung jawab terhadap kehidupan Gereja. Gereja bukan hanya milik para pemimpin atau kelompok tertentu, melainkan persekutuan yang hidup melalui keterlibatan seluruh umat. Karena itu, kesediaan untuk hadir, berjalan bersama, dan melayani merupakan bagian penting dari tanggung jawab sebagai anggota Gereja yang misioner.
Yosef Aloysius Babaputra mengapresiasi para katekis, guru agama Katolik, dan penyuluh agama Katolik yang tetap menyediakan waktu untuk terlibat dalam paguyuban di tengah kesibukan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga. Ia menegaskan bahwa Kementerian Agama, khususnya Bimbingan Masyarakat Katolik, akan terus mendukung kehidupan Gereja serta mendorong para penyuluh dan guru agama Katolik menjalankan tugas secara profesional, bertanggung jawab, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.
Dalam refleksinya mengenai Salib Bleba Broit, ia melihat tombak, parang, dan perisai sebagai simbol perjuangan yang mengingatkan para pelayan Gereja akan pentingnya pengorbanan, keteguhan hati, dan kerendahan hati. Pelayanan tidak selalu berlangsung mudah. Ada kalanya seorang pelayan mengalami penolakan, terluka oleh perkataan atau sikap orang lain, dan menghadapi berbagai kesulitan. Namun, pengalaman tersebut tidak boleh memadamkan semangat untuk terus berbuat baik dan memperjuangkan perdamaian.
Ia berharap seluruh anggota paguyuban senantiasa memiliki kekuatan spiritual untuk tetap teguh dalam iman, rendah hati dalam pelayanan, dan menjaga kedamaian hati. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada semua pelayan agama Katolik yang dengan setia menjalankan tugas pendampingan dan pembinaan iman di tengah umat.

Ziarah: Membawa Pesan Salib ke Dalam Kehidupan
Rangkaian kegiatan ditutup dengan ziarah bersama ke Taman Doa Salib Bleba Broit di Bungalawan. Bersama Romo Deken dan para imam, seluruh peserta mengikuti doa sebagai ungkapan syukur atas pelantikan sekaligus peneguhan kembali atas panggilan pelayanan yang mereka emban.
Di hadapan Salib Bleba Broit, para peserta diajak merefleksikan kembali makna pengorbanan Kristus dan tanggung jawab mereka sebagai pewarta iman. Ziarah tersebut menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen agar pelayanan Gereja selalu berlandaskan doa, kasih, dan kesediaan membangun perdamaian.
Salib tidak hanya menjadi simbol yang dihormati dalam ruang doa, tetapi juga mengandung pesan yang harus dibawa pulang ke tengah keluarga, sekolah, lingkungan, stasi, dan masyarakat. Semangat pertentangan perlu digantikan dengan dialog; kebencian dengan pengampunan; dan sikap mementingkan diri sendiri dengan kesediaan untuk melayani.
Pelantikan Paguyuban Katekis, Guru dan Penyuluh Agama Katolik Dekenat Adonara pun diharapkan menjadi awal dari gerakan pelayanan yang semakin terarah dan berdampak bagi kehidupan umat. Melalui paguyuban ini, para pelayan Gereja diharapkan semakin mampu menyatukan potensi, memperkuat komunikasi, dan membangun kerja sama dalam menghadapi tantangan pastoral.
Lebih dari sekadar kepengurusan, paguyuban ini merupakan ruang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa tugas perutusan adalah tanggung jawab bersama. Dengan menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupan dan pelayanan, setiap anggota dipanggil untuk menghadirkan iman yang hidup, persaudaraan yang nyata, dan perdamaian yang dapat dirasakan oleh semua orang.
Dari Salib Bleba Broit, sebuah pesan diteguhkan bagi seluruh pelayan Gereja di Adonara: menjadi satu dalam Kristus berarti berani meninggalkan pertentangan, merawat persaudaraan, dan berjalan bersama untuk menghadirkan damai. Sebab, iman yang sejati tidak hanya diwartakan melalui kata-kata, tetapi juga diwujudkan dalam kehidupan yang membawa kasih dan harapan bagi sesama.
Satu dalam Kristus, bersatu dalam iman, berjalan bersama dalam perutusan, dan menjadi pembawa damai bagi semua.
Kontributor: Komsos Keuskupan Larantuka (Patrisius)

You may also like