142 Posts
152 Posts
8 Posts

Kunjungi Kolimasang, Uskup Larantuka Serukan Persatuan di Paroki Koli Sagu

“Kita tidak bicara tentang Kolimasang, kita tidak bicara tentang Kolilanang, kita tidak bicara tentang Sagu. Tetapi kita bicara tentang persatuan Gereja Paroki Koli Sagu,”

by Komsos Keuskupan Larantuka

KOLIMASANG, Komsos Larantuka — Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, mengajak umat untuk membangun persatuan dan menghidupi iman sebagai anak-anak Allah yang merdeka. Ajakan ini disampaikan dalam homilinya saat mengunjungi Stasi Kolimasang, Paroki Santo Petrus Koli Sagu, pada Senin, 12 Oktober 2026.
Dalam kunjungan pastoral tersebut, Uskup Hans merayakan Ekaristi bersama umat Stasi Kolimasang. Berangkat dari bacaan liturgi hari itu, yakni Galatia 4:22-24, 26-27, 31–5:1 dan Injil Lukas 11:29-32, Uskup mengajak umat untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam kehidupan Gereja serta memperbarui komitmen untuk hidup dalam persatuan.

Mengacu pada perkataan Yesus dalam Injil, “Sungguh, yang ada di sini lebih besar daripada Salomo,” Uskup Hans menjelaskan bahwa kehadiran Tuhan merupakan pusat kehidupan umat beriman. Tuhan hadir ketika Sabda-Nya diwartakan dan ketika Gereja merayakan Ekaristi.
Dalam perayaan Ekaristi, imam bertindak atas nama Kristus dan Gereja untuk mempersembahkan kurban Ekaristi. Namun, tanda kehadiran Kristus yang paling agung dalam perayaan tersebut adalah Tubuh dan Darah-Nya yang diterima umat dalam Komuni Kudus.
Karena itu, Ekaristi tidak boleh dipandang hanya sebagai sebuah perayaan rutin. Ekaristi harus menjadi sumber kekuatan yang menggerakkan umat untuk hidup dalam kasih, persaudaraan, dan persatuan.

Kunjungi Kolimasang, Uskup Larantuka Serukan Persatuan di Paroki Koli Sagu

Menjadi Anak-Anak yang Merdeka
Mengulas bacaan pertama dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia, Uskup Hans menekankan identitas umat Kristiani sebagai anak-anak perempuan merdeka, bukan anak-anak perempuan hamba.
Ia mengajak umat untuk menyadari bahwa melalui Sakramen Baptis, setiap orang telah menerima identitas baru sebagai anak Allah dan menjadi bagian dari Gereja, mempelai Kristus. Identitas baru ini menuntut perubahan hidup yang nyata.
“Jika kita sudah dibaptis, kita meninggalkan masa lalu,” demikian inti pesan yang ditekankan Uskup Hans.
Menurutnya, kesadaran akan makna Baptis semestinya mengubah cara umat memandang dan menjalani kehidupan. Umat tidak lagi terikat pada pola hidup lama yang menjauhkan mereka dari kehendak Allah, tetapi diarahkan kepada kehidupan baru yang berlandaskan iman dan harapan akan keselamatan.
Menjadi anak-anak yang merdeka berarti hidup dalam kebebasan yang bertanggung jawab, bukan mengikuti keinginan diri sendiri. Kebebasan Kristiani justru mengantar setiap orang untuk semakin terbuka terhadap kehendak Allah dan semakin peduli terhadap sesama.
Dalam semangat itu, umat dipanggil untuk mengarahkan hidup kepada Yerusalem surgawi, yakni kepenuhan hidup bersama Allah, sembari mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Kunjungi Kolimasang, Uskup Larantuka Serukan Persatuan di Paroki Koli Sagu

Gereja Indah Harus Menjadi Gereja yang Hidup
Uskup Hans juga mengingatkan umat tentang sejarah iman Katolik di wilayah Adonara. Ia menyebut jejak pewartaan iman yang ditinggalkan bangsa Portugis, khususnya di Kampung Adonara, sebagai bagian dari perjalanan sejarah Gereja setempat.
Stasi Kolimasang, yang memiliki gereja yang indah dan menjadi tempat umat berkumpul untuk beribadah, diajak untuk tidak berhenti pada keindahan bangunan fisik.
Gereja yang indah harus menjadi Gereja yang hidup. Artinya, iman yang dirayakan di dalam gereja mesti tampak dalam kehidupan umat, terutama melalui persaudaraan, kepedulian, pengampunan, dan kesediaan untuk berjalan bersama.
Dengan mengingat Santo Fransiskus Xaverius sebagai pelindung gereja, umat diajak untuk menghidupkan kembali semangat pewartaan Injil yang telah ditaburkan oleh para misionaris terdahulu. Warisan iman itu bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan tanggung jawab yang harus diteruskan melalui kesaksian hidup.
Uskup Hans juga mengajak umat untuk meneladani Bunda Maria, yang senantiasa terbuka terhadap kehendak Allah. Maria tidak menempatkan kehendak pribadi dan kebanggaan diri sebagai pusat hidupnya, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada rencana Tuhan.
Teladan Maria menjadi undangan bagi umat untuk melepaskan sikap yang mengutamakan kepentingan sendiri, termasuk kebanggaan terhadap masa lalu, demi membangun kehidupan Gereja yang semakin bersatu.

Bukan Tentang Stasi, tetapi Tentang Kesatuan Paroki
Pesan paling kuat dalam kunjungan pastoral ini adalah ajakan untuk memperjuangkan persatuan di seluruh wilayah Paroki Santo Petrus Koli Sagu.
Uskup Hans mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam sekat-sekat yang memisahkan satu komunitas dengan komunitas lainnya. Identitas sebagai warga Stasi Kolimasang, Kolilanang, Sagu, dan stasi-stasi lainnya tidak boleh mengalahkan identitas yang lebih mendasar, yakni sebagai satu keluarga Allah.
“Kita tidak bicara tentang Kolimasang, kita tidak bicara tentang Kolilanang, kita tidak bicara tentang Sagu. Tetapi kita bicara tentang persatuan Gereja Paroki Koli Sagu,” demikian penegasan pesan Uskup Hans dalam homilinya.
Ajakan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan Gereja tidak terutama terletak pada besarnya bangunan, banyaknya kegiatan, atau kebanggaan terhadap kelompok masing-masing. Kekuatan Gereja justru bertumbuh ketika umat mampu mengatasi perbedaan, saling menerima, dan bekerja bersama demi kepentingan seluruh komunitas.
Kunjungan Uskup Hans ke Stasi Kolimasang pun menjadi momentum untuk memperbarui semangat kebersamaan. Umat diajak menjadikan Ekaristi sebagai sumber persatuan dan menjadikan iman sebagai kekuatan yang mempersatukan, bukan memisahkan.
Pada akhirnya, menjadi Gereja yang hidup berarti berani melampaui sekat-sekat kecil demi mewujudkan satu tubuh, satu roh, dan satu pengharapan dalam Kristus. (@sly)

You may also like