ADONARA, Komsos Larantuka — Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, mengunjungi Kampung Adonara di Desa Adonara, Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur, Minggu, 11 Oktober 2026. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk menelusuri jejak sejarah Kerajaan Adonara, mengenal kekayaan tradisi masyarakat setempat, sekaligus meneguhkan pentingnya menjaga warisan leluhur bagi generasi mendatang.
Dalam kunjungan tersebut, Uskup bersama rombongan menyambangi sejumlah peninggalan bersejarah, antara lain benteng yang dikenal masyarakat sebagai Benteng Portugis, rumah adat, serta makam para leluhur. Berbagai peninggalan ini menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Adonara dan menyimpan kisah tentang kehidupan sosial, adat istiadat, serta dinamika kekuasaan pada masa lampau.
Kampung Adonara memiliki kedudukan penting dalam sejarah lokal karena dikenal sebagai salah satu pusat awal Kerajaan Adonara. Sebuah laporan sejarah yang diterbitkan Mongabay Indonesia pada 6 Oktober 2019 menyebutkan bahwa kerajaan ini diperkirakan berdiri sekitar tahun 1600. Pada masa itu, Kampung Adonara menjadi pusat kekuasaan sebelum kemudian pusat kerajaan dipindahkan ke Desa Sagu sekitar 1783, berdasarkan keterangan keturunan Raja Adonara yang diwawancarai dalam laporan tersebut.
Jejak sejarah kerajaan masih dapat ditemukan melalui sisa benteng batu dan meriam-meriam kuno yang tersebar di kawasan Kampung Adonara. Benteng yang dikenal sebagai Benteng Portugis berada tidak jauh dari pintu masuk kampung. Menurut penuturan warga, benteng tersebut dahulu mengelilingi perkampungan dan berfungsi sebagai bagian dari sistem pertahanan kerajaan.
Benteng itu kini hanya tersisa sebagian. Dalam perjalanan waktu, sebagian bangunannya dibongkar untuk membuka akses jalan bagi warga. Di sekitar kawasan tersebut juga pernah terdapat tanaman kaktus berduri yang berfungsi sebagai penghalang bagi pihak yang hendak memasuki kampung. Keberadaan benteng dan meriam kuno memperlihatkan bagaimana masyarakat pada masa lampau membangun sistem pertahanan untuk melindungi pusat permukiman dan kekuasaan mereka.
Selain benteng, meriam kuno menjadi bagian penting dari peninggalan sejarah Adonara. Laporan Mongabay menyebutkan adanya meriam berbahan besi dengan tulisan berbahasa Portugis serta meriam berbahan kuningan dengan tulisan Arab. Keberadaan benda-benda tersebut memperlihatkan hubungan sejarah kawasan Adonara dengan berbagai pengaruh budaya yang hadir melalui jalur perdagangan, pelayaran, dan dinamika politik pada masa lampau. Namun, penetapan asal-usul, usia, serta fungsi setiap benda tetap memerlukan kajian sejarah dan arkeologi yang lebih mendalam.
Kekayaan sejarah Desa Adonara tidak hanya terletak pada peninggalan kerajaan. Kawasan ini juga memiliki Danau Kota Kaya, sebuah danau air payau (campuran air laut dan air tawar) yang menjadi bagian dari lanskap alam dan kehidupan masyarakat setempat. Catatan sejarah desa yang dipublikasikan melalui laman informasi Desa Adonara juga memuat kisah tentang kampung-kampung lama dan kelompok-kelompok suku yang secara turun-temurun membentuk kehidupan masyarakat di kawasan tersebut. Kisah-kisah ini merupakan bagian dari sejarah lokal yang penting didokumentasikan dan diteliti lebih lanjut bersama para pemangku adat.
Dari Desa Adonara, Mgr. Hans Monteiro bersama rombongan melanjutkan kunjungan ke Desa Sagu. Desa ini memiliki hubungan erat dengan sejarah Kerajaan Adonara karena pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan setelah perpindahan dari Kampung Adonara. Perpindahan pusat kerajaan tersebut meninggalkan sejumlah jejak sejarah yang masih dapat ditelusuri hingga sekarang. Di Desa Sagu terdapat puing-puing kompleks istana Raja Adonara, susunan batu yang dahulu mengelilingi kawasan istana.
Laporan Mongabay Indonesia menyebutkan bahwa kompleks bekas kerajaan itu berada di bagian utara Desa Sagu, dengan susunan batu yang mengelilingi kawasan seluas kurang lebih satu hektare. Di lingkungan yang sama terdapat masjid yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Arakiang Kamba. Sejumlah benda peninggalan kerajaan juga dilaporkan masih tersimpan hingga saat ini.
Di Desa Sagu, Uskup juga berjumpa dengan Bapa Begu, seorang tokoh adat yang menjaga warisan garis keturunan Raja Sagu. Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah kerajaan melalui tradisi lisan dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Peran tokoh adat seperti Bapa Begu sangat penting dalam pelestarian sejarah lokal. Tidak semua kisah masa lampau tercatat secara lengkap dalam dokumen tertulis. Sebagian pengetahuan mengenai silsilah keluarga, hubungan antarsuku, perpindahan pusat kekuasaan, serta adat istiadat tetap tersimpan dalam ingatan dan penuturan para pemangku adat. Karena itu, dokumentasi sejarah perlu dilakukan dengan menghormati sumber-sumber tradisi lisan sekaligus membandingkannya dengan catatan tertulis yang tersedia.
Dalam kesempatan tersebut, Mgr. Hans Monteiro menegaskan bahwa Desa Adonara dan Desa Sagu menyimpan berbagai objek serta aset sejarah yang patut dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Ia menyerukan agar setiap peninggalan yang memiliki nilai historis mendapat perhatian dan pemeliharaan yang baik sehingga tidak rusak, hilang, atau terlupakan oleh perkembangan zaman.
Pesan Uskup ini mengingatkan bahwa warisan sejarah bukan sekadar kumpulan bangunan tua, benda kuno, atau makam leluhur. Di dalamnya tersimpan identitas, nilai kehidupan, pengalaman, dan kebijaksanaan yang membentuk perjalanan suatu masyarakat. Merawat peninggalan sejarah berarti menghormati para pendahulu sekaligus menyediakan ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami akar budaya dan sejarah mereka sendiri.
Pelestarian tersebut membutuhkan keterlibatan bersama antara pemerintah, masyarakat, tokoh adat, keluarga keturunan kerajaan, lembaga pendidikan, dan generasi muda. Benteng yang tersisa, puing istana, naskah kuno, meriam, rumah adat, serta makam leluhur perlu didata, didokumentasikan, dan dirawat sesuai dengan ketentuan pelestarian cagar budaya. Pengetahuan sejarah yang masih hidup dalam tradisi lisan juga perlu direkam secara bertanggung jawab agar tidak terputus oleh perubahan zaman.
Kunjungan Mgr. Yohanes Hans Monteiro ke Desa Adonara dan Desa Sagu dengan demikian bukan hanya perjalanan mengenal tempat dan peninggalan masa lampau. Kunjungan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sejarah merupakan bagian penting dari identitas masyarakat dan perlu mendapat tempat dalam kehidupan masa kini.
Benteng yang telah runtuh, puing istana yang masih tersisa, benda-benda peninggalan kerajaan, dan kisah yang dijaga para tokoh adat menyampaikan pesan yang sama: masa lalu tidak boleh dibiarkan hilang tanpa jejak. Warisan leluhur harus dirawat agar tetap menjadi sumber pengetahuan, kebanggaan, dan kebijaksanaan bagi generasi yang akan datang.
Sebab, masyarakat yang menjaga sejarahnya sedang merawat akar kehidupannya sendiri. Dari akar itulah generasi baru dapat tumbuh, mengenal jati dirinya, dan melangkah ke masa depan tanpa kehilangan ingatan tentang asal-usulnya. (@sly)



