LATO, Komsos Larantuka — Pada usia ke-26, tepatnya pada 19 September 2026, Paroki Santa Perawan Maria La Salette Lato terus mengembangkan kehidupan menggereja melalui pelayanan liturgi dan sakramen, pendalaman devosi, serta penguatan persaudaraan di tengah masyarakat yang beragam. Berlandaskan moto “Beriman, Bersaudara, dan Berbelarasa”, paroki berupaya membangun kehidupan umat yang semakin dewasa dalam iman dan peduli terhadap sesama.
Gambaran mengenai situasi umat dan perkembangan kehidupan menggereja tersebut disampaikan Pastor Paroki Lato, RP. Stefanus Nyaris Prasetyo, MSF, dalam pertemuan bersama Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, di aula Paroki Lato, Selasa (13/10/2026). Pertemuan ini berlangsung dalam rangkaian kunjungan kanonis Uskup Larantuka pada 13–14 Oktober 2026.
Dalam pemaparannya, Pastor Stefanus menjelaskan keadaan demografis umat, wilayah pelayanan, pelaksanaan sakramen, kehidupan devosional, serta sejumlah program yang dijalankan paroki. Saat ini, pelayanan paroki dipercayakan kepada dua imam, yakni RP. Stefanus Nyaris Prasetyo, MSF, sebagai Pastor Paroki dan RP. Stefanus Krisna Bayu Sulistyo, MSF, sebagai Pastor Rekan.
Melayani 3.090 Umat di Enam Stasi
Berdasarkan data statistik tahun 2025, Paroki Lato memiliki 3.090 umat yang tergabung dalam 695 kepala keluarga. Umat tersebar di enam stasi, yakni Pagong, Tanameang, Lato, Tenawahang, Baujawa, dan Waidang. Setiap stasi telah memiliki kapel atau gereja permanen sebagai tempat peribadatan.
Kehidupan menggereja didukung oleh 62 Kemunitas Basis Gerejawi (KBG) yang menjadi ruang persekutuan, pendalaman iman, dan keterlibatan umat dalam kegiatan Gereja.
Secara administratif, wilayah paroki mencakup Desa Watowara, Adabang, dan Tenawahang. Kondisi geografisnya meliputi kawasan pesisir dan perbukitan, dengan masyarakat yang bekerja sebagai petani, peladang, nelayan, guru, dan pegawai. Keragaman kondisi ini menjadi bagian dari konteks kehidupan umat yang dilayani paroki.
Di tengah keberagaman tersebut, hubungan umat Katolik dengan pemeluk agama lain, khususnya umat Islam di wilayah Stasi Pagong, terutama Bulutebang, terjalin dengan rukun. Kehidupan berdampingan secara damai ini menjadi kekuatan dalam merawat toleransi dan membangun kerja sama di tengah masyarakat.
Ekaristi dan Sakramen Menjadi Prioritas
Perayaan Ekaristi dilaksanakan setiap minggu di masing-masing stasi, sedangkan Misa harian di pusat paroki berlangsung dari Senin hingga Sabtu pukul 06.00 WITA. Paroki juga melayani intensi Misa arwah pada hari Sabtu dan Minggu dengan memperhatikan ketersediaan imam serta jadwal perayaan liturgi.
Pelayanan Sakramen Baptis bagi bayi dijadwalkan setiap dua bulan sekali. Sementara itu, pada bulan Mei dan Oktober, paroki memberikan perhatian khusus pada devosi kepada Bunda Maria. Pengaturan sejumlah kegiatan sakramen yang berkaitan dengan perayaan umat dilakukan agar umat dapat lebih memusatkan perhatian pada doa dan kegiatan rohani selama Bulan Maria dan Bulan Rosario.
Penerimaan Sakramen Krisma terakhir bagi umat Paroki Lato berlangsung pada 2022. Karena itu, pendampingan dan persiapan calon penerima sakramen penguatan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan kegiatan paroki selanjutnya.
Dalam pembinaan keluarga, Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) diselenggarakan dua kali setahun, yakni pada Mei dan Oktober. Program ini membantu pasangan mempersiapkan kehidupan perkawinan dari segi iman dan tanggung jawab membangun keluarga Katolik.
Paroki juga memfasilitasi perkawinan tanpa biaya KPP bagi pasangan yang tidak mengadakan pesta perkawinan. Program tersebut telah menjangkau lima stasi dan direncanakan berlanjut ke Stasi Tanameang pada tahun berikutnya. Melalui program ini, paroki berupaya memberikan kemudahan bagi umat untuk mempersiapkan perkawinan sekaligus menegaskan pentingnya makna sakramental perkawinan.
Devosi Maria dan Keterlibatan Kelompok Kategorial
Devosi kepada Bunda Maria memiliki tempat penting dalam kehidupan rohani umat Paroki Lato. Hampir seluruh stasi telah memiliki taman doa atau Gua Maria, sedangkan Stasi Waidang masih merencanakan pembangunannya.
Setiap bulan Mei, paroki menyelenggarakan safari ziarah ke Gua Maria di wilayah paroki. Selain menjadi kesempatan untuk berdoa dan menghormati Bunda Maria, kegiatan ini mempertemukan umat dari berbagai stasi dalam suasana kebersamaan.
Kehidupan devosional juga didukung oleh kelompok kategorial, antara lain Legio Maria, Pasukris, Kerahiman Ilahi, kelompok Santa Anna, dan kelompok Santo Yusuf. Melalui kegiatan doa dan pelayanan, kelompok-kelompok ini turut memperkaya kehidupan rohani serta membuka ruang bagi umat untuk mengambil bagian dalam kegiatan Gereja.
Meneguhkan Iman dan Persaudaraan
Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan keterlibatan para imam dan umat dalam mengembangkan kehidupan Paroki Lato. Tantangan geografis dan kebutuhan pelayanan di enam stasi menuntut pengelolaan kegiatan yang terencana agar pelayanan liturgi, pembinaan iman, dan pendampingan keluarga dapat berjalan secara berkesinambungan.
Dalam konteks itu, moto “Beriman, Bersaudara, dan Berbelarasa” menjadi pedoman bagi kehidupan umat. Iman dihidupi melalui doa dan perayaan sakramen, persaudaraan diwujudkan dalam kebersamaan serta penghormatan terhadap perbedaan, sedangkan belarasa dinyatakan melalui kepedulian terhadap sesama.
Pada usia ke-26, Paroki Santa Perawan Maria La Salette Lato diharapkan terus memperkuat keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja dan menjaga kerukunan di tengah masyarakat. Perjalanan ini menjadi bagian dari upaya Keuskupan Larantuka untuk membangun Gereja yang berakar pada iman, hidup dalam persekutuan, dan menghadirkan kesaksian kasih melalui tindakan nyata. (@sly)


