Oleh: Anselmus DW Atasoge – Staf Pengajar Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa Ende
Di sebuah pagi Oktober yang hangat, suara tawa anak-anak berbaur dengan doa-doa yang melayang ke langit Paroki Riangkamie, Dekenat Larantuka Flores Timur. Di tengah dunia yang semakin riuh oleh kompetisi, kecemasan digital, dan rapuhnya ikatan sosial, anak-anak dan remaja berkumpul bersama. Mereka tidak hendak merayakan popularitas, melainkan untuk belajar menjadi manusia bagi sesamanya. Momen itu diberi nama Jambore Anak-Remaja Misioner Dekenat Larantuka. Jamboree itu menghadirkan sebuah pemandangan yang semakin langka. Perjumpaan yang menumbuhkan iman, persaudaraan, dan pelayanan sebagai cara hidup.
Kegiatan yang berlangsung pada hari kedua jambore, mulai dari Perayaan Ekaristi, edukasi pemberdayaan perempuan dan anak, bakti sosial, refleksi iman, hingga berbagai lomba dan outbound, memperlihatkan bahwa pendidikan iman sesungguhnya lahir dari pengalaman yang utuh. Anak-anak tidak hanya diajak mendengar Sabda Tuhan, tetapi juga belajar menerjemahkan sabda itu ke dalam tindakan yang menyentuh kehidupan nyata.
Dari perspektif sosiologi agama, peristiwa seperti ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar sebuah agenda pastoral tahunan. Agama, sebagaimana dikemukakan Émile Durkheim, berfungsi membangun solidaritas sosial melalui pengalaman bersama yang memperkuat kesadaran kolektif. Ketika ratusan anak dan remaja berdoa, bekerja sama, bermain, dan melayani bersama, mereka sedang membangun apa yang disebut Durkheim sebagai ‘collective effervescence’, suatu energi sosial yang membuat individu merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Dalam masyarakat modern, tantangan terbesar generasi muda bukan hanya kemiskinan material, tetapi juga kemiskinan relasional. Banyak anak tumbuh dalam lingkungan yang menawarkan koneksi digital tanpa kedekatan emosional. Mereka mengenal banyak wajah di layar, tetapi semakin sedikit mengalami pengalaman hidup yang menciptakan rasa memiliki. Di tengah kondisi tersebut, jambore menghadirkan ruang sosial yang memulihkan. Ia menjadi ‘rumah sementara’ tempat anak-anak belajar bahwa persaudaraan bukanlah konsep abstrak, melainkan kenyataan yang dirasakan ketika mereka saling mendengarkan, bekerja sama, dan berbagi kegembiraan.
Menarik bahwa salah satu tema yang mendapat perhatian dalam kegiatan ini adalah pemberdayaan perempuan dan anak. Dalam kacamata sosiologi agama, hal ini menunjukkan bahwa Gereja tidak memisahkan spiritualitas dari keadilan sosial. Iman tidak ditempatkan dalam wilayah privat yang terpisah dari persoalan kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, iman menjadi energi moral yang mendorong penghormatan terhadap martabat manusia.
Di sinilah pendidikan religius menemukan relevansinya. Anak-anak belajar bahwa mencintai Tuhan selalu berkaitan dengan cara mereka memperlakukan orang lain. Mereka diajak memahami bahwa setiap manusia, terutama yang rentan, memiliki nilai yang harus dihormati. Kesadaran semacam ini merupakan modal sosial yang sangat penting bagi masa depan masyarakat.
Sosiolog Robert Putnam pernah menunjukkan bahwa kualitas kehidupan demokratis sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan dan partisipasi dalam komunitas. Semakin kuat jaringan sosial yang dibangun sejak usia dini, semakin besar peluang lahirnya warga yang peduli pada kepentingan bersama. Dalam konteks ini, jambore menjadi laboratorium kecil pembentukan modal sosial. Anak-anak sedang berlatih menjadi pribadi yang mampu hidup dalam kebersamaan, menghargai perbedaan, dan melayani tanpa pamrih.
Namun ada dimensi lain yang lebih indah dari sekadar analisis akademik. Pada usia mereka yang masih muda, anak-anak peserta jambore ibarat benih-benih yang sedang ditanam di tanah kehidupan. Tidak semua buahnya akan terlihat hari ini. Sebagian akan tumbuh bertahun-tahun kemudian, ketika seorang peserta memilih menjadi guru yang penuh perhatian, tenaga kesehatan yang melayani dengan hati, aktivis yang memperjuangkan keadilan, imam yang menemani umat, atau orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan kasih.
Setiap doa yang mereka panjatkan, setiap tangan yang mereka ulurkan dalam bakti sosial, setiap pelajaran tentang penghargaan terhadap perempuan dan anak, sesungguhnya sedang menyemai masa depan masyarakat yang lebih manusiawi.
Karena itu, jambore ini layak dipandang sebagai investasi sosial dan spiritual. Gereja sedang menanam nilai-nilai yang kelak menjadi fondasi kehidupan bersama. Di tengah arus budaya yang sering memuja pencapaian individu, kegiatan ini mengingatkan bahwa manusia bertumbuh melalui perjumpaan dan pelayanan.
Riangkamie pada akhirnya bukan hanya lokasi kegiatan. Ia menjelma menjadi ruang pembelajaran tentang bagaimana iman dapat berakar dalam kehidupan sehari-hari. Di sana anak-anak belajar bahwa mengikuti Yesus berarti menghadirkan kasih dalam tindakan yang konkret. Mereka belajar bahwa persaudaraan adalah jembatan yang menghubungkan perbedaan. Mereka belajar bahwa pelayanan adalah bahasa yang paling mudah dipahami oleh dunia.
Dan barangkali, di antara nyanyian, doa, permainan, serta langkah-langkah kecil yang memenuhi arena jambore itu, sedang lahir sesuatu yang sangat berharga bagi masa depan generasi Keuskupan Larantuka. Generasi yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga hangat hati. Generasi yang membawa iman sebagai cahaya, persaudaraan sebagai jalan, dan pelayanan sebagai napas kehidupan.
Sebab masyarakat yang kuat tidak dibangun pertama-tama oleh gedung-gedung yang menjulang, melainkan oleh hati-hati muda yang sejak dini belajar mengasihi. Di Riangkamie, benih-benih itu sedang ditanam. Dan seperti matahari yang perlahan terbit di ufuk timur, cahaya mereka kelak akan menjangkau lebih jauh daripada yang dapat kita bayangkan hari ini.**
