WAIWERANG, Komsos Larantuka — Semangat untuk semakin mencintai, memahami, dan mewartakan Sabda Allah kembali digelorakan di wilayah Dekenat Adonara, Keuskupan Larantuka. Pada Jumat, 21 Agustus 2026, bertempat di Waiwerang, Dekenat Adonara melaksanakan kegiatan Pelatihan Sharing Kitab Suci dan Sosialisasi Kitab Suci Terjemahan Baru II (TB II) Tingkat Dekenat Adonara.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pelayanan Kitab Suci sekaligus membangkitkan kembali semangat para fasilitator untuk menghidupkan kelompok-kelompok Kitab Suci di tengah umat, mulai dari tingkat paroki, stasi, hingga Komunitas Basis Gerejawi (KBG).
Memperkuat Gerakan Kitab Suci dari Paroki hingga KBG
Kegiatan tersebut dihadiri oleh RD. Anton Prakum Keraf yang mewakili Deken Adonara. Materi pelatihan dibawakan oleh dua narasumber, yakni RP. Benediktus Suhendra Yustisiyanto, SVD, Moderator Kitab Suci Dekenat Adonara, serta Sr. Ernesta, PRR, Ketua Delegatus Kitab Suci Keuskupan Larantuka.
Kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh RP. Benediktus Suhendra Yustisiyanto, SVD, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan resmi oleh RD. Anton Prakum Keraf.
Dalam arahannya, RD. Anton menegaskan bahwa pelatihan ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi gerakan nyata yang dibawa kembali oleh para fasilitator ke wilayah pelayanan masing-masing.
Mari kita gerakkan kembali kelompok Kitab Suci di setiap paroki, stasi, hingga tingkat KBG. Bagi kelompok yang selama ini vakum, para fasilitator diharapkan membawa semangat dari pelatihan ini untuk menghidupkannya kembali di tengah umat.” tegas RD. Anton.

Pelatihan Sharing Kitab Suci dan Sosialisasi Kitab Suci Terjemahan Baru II tingkat Dekenat Adonara (Waiwerang, 21 Agustus 2026)
Sosialisasi TB II: Membersihkan Lensa Bahasa
Materi pertama dibawakan oleh Sr. Ernesta, PRR, dengan tema “Pengalaman Dasar Kitab Suci dan Sosialisasi Kitab Suci Terjemahan Baru II.” Dalam pemaparannya, Sr. Ernesta mengajak peserta untuk kembali menyadari bahwa Kitab Suci bukan hanya sebuah buku bacaan keagamaan, tetapi merupakan sumber dan pusat kehidupan iman umat.
Ia menjelaskan bahwa teks dasar Kitab Suci yang berasal dari bahasa Ibrani, Aram, dan Yunani kuno tetap memiliki pesan yang sama. Namun, bahasa manusia terus mengalami perkembangan sesuai perubahan zaman.
Karena itu, TB II hadir bukan untuk mengubah pesan Kitab Suci, melainkan untuk “membersihkan lensa bahasa” agar makna teks suci dapat dipahami secara lebih tepat oleh umat zaman sekarang. Dalam sosialisasi tersebut dijelaskan empat pilar pembaruan makna dalam TB II, yaitu: Tata bahasa dan ejaan, yang disesuaikan dengan perkembangan bahasa Indonesia. Pembaruan kosa kata, dengan mengganti istilah yang sudah usang, ambigu, atau mengalami perubahan makna. Presisi penerjemahan, agar susunan kalimat semakin sesuai dengan nuansa bahasa asli Kitab Suci. Konteks sumber dan kosmologi, berdasarkan pemahaman yang semakin berkembang tentang dunia Alkitab.
Sebagai contoh, Sr. Ernesta menjelaskan perubahan kata “ganja” dalam 1 Raja-raja 7:2 pada TB 1974. Pada konteks dahulu, kata tersebut merujuk pada bagian kepala tiang atau keris, tetapi dalam perkembangan bahasa Indonesia modern, kata “ganja” lebih dikenal sebagai istilah narkotika. Karena itu, dalam TB II istilah tersebut diperbarui menjadi “balok-balok” agar pembaca tidak mengalami kesalahpahaman.

Pelatihan Sharing Kitab Suci dan Sosialisasi Kitab Suci Terjemahan Baru II tingkat Dekenat Adonara (Waiwerang, 21 Agustus 2026)
Fasilitator Dipanggil Menjadi Pewarta Sabda
Sesi berikutnya dibawakan oleh RP. Benediktus Suhendra Yustisiyanto, SVD, dengan tema “Menjadi Fasilitator Katekese Kitab Suci.”
Berangkat dari amanat Yesus dalam Matius 28:18-20, RP. Hendra menegaskan bahwa tugas pewartaan Sabda Allah merupakan panggilan semua orang yang telah dibaptis. Menurutnya, fasilitator Kitab Suci bukanlah seorang pengajar yang merasa paling tahu, melainkan pribadi yang membantu umat menemukan dan mengalami kehadiran Tuhan melalui Sabda-Nya.
RP. Hendra menjelaskan tiga dimensi tugas perutusan umat beriman: Sebagai imam, fasilitator dipanggil untuk menghantar sesama semakin dekat kepada Tuhan. Sebagai nabi, fasilitator dipanggil menyuarakan kebenaran dan membangun ruang dialog yang terbuka. Sebagai raja, fasilitator harus menjadi pelayan yang memberikan teladan nyata.
Selain itu para peserta juga dibekali empat hal penting sebagai dasar pelayanan fasilitator: 1. Memiliki iman yang kokoh, agar mampu menghadapi dinamika kelompok dan tetap mengarahkan peserta kepada Tuhan. 2. Mencintai Sabda Tuhan, dengan membiasakan diri membaca, merenungkan, dan menghidupi Kitab Suci. 3. Aktif dalam kehidupan Gereja, sehingga pelayanan berjalan searah dengan gerak Gereja. 4. Memiliki keterbukaan terhadap sesama, agar tercipta suasana sharing yang nyaman dan penuh kepercayaan.
Selain itu, para peserta dibekali keterampilan mendengarkan, merefleksikan pengalaman hidup dalam terang Kitab Suci, mengomunikasikan pesan secara sederhana, serta melakukan evaluasi dalam setiap pertemuan.
Fasilitator Kitab Suci Menjadi Benih Perubahan
Kegiatan ini diikuti oleh utusan dari berbagai paroki di wilayah Dekenat Adonara. Setiap paroki mengutus dua orang fasilitator. Turut hadir pula empat penyuluh agama Katolik, yakni: Antonia Lama Witak dari Paroki Kristus Raja Waiwerang; Eusebia Sena dari Paroki Waibreno; Fransiska Kerong Eban dari Paroki Koli Sagu; Patrisius Poa Pada dari Paroki Hati Kudus Yesus Ritawolo.
Pada akhir kegiatan, perwakilan peserta menyampaikan apresiasi kepada para narasumber atas materi yang diberikan. Mereka menilai pembekalan tersebut sangat membantu para fasilitator untuk semakin memahami tugas pelayanan Kitab Suci.
Sebagai tindak lanjut, peserta mengusulkan pembentukan kelompok fasilitator Kitab Suci di tingkat dekenat maupun paroki serta pelaksanaan pembinaan secara berkala.
Dari Waiwerang, semangat Sabda Allah diharapkan terus bergerak menuju paroki, stasi, KBG, keluarga, dan seluruh umat. Para fasilitator tidak hanya dipanggil untuk memahami Kitab Suci, tetapi juga menjadi pewarta yang menghadirkan Sabda Tuhan dalam kehidupan nyata.
Menyongsong BKSN 2026, Dekenat Adonara menyalakan kembali api Sabda Allah agar semakin banyak umat mengalami, menghidupi, dan mewartakan kasih Tuhan. (Patrisius Poa Pada)
