SMK ANCOP LIKOTUDEN: Perkuat Wawasan Migrasi Aman bagi Generasi Muda

Melalui pelayanan pastoral migran perantau, Gereja hadir untuk mendampingi umat yang memilih jalan perantauan. Pendampingan tersebut mencakup penguatan iman, pelayanan sakramen, pendampingan keluarga, serta perhatian terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi para migran.

by Komsos Keuskupan Larantuka

LIKOTUDEN, Komsos Larantuka — Menyiapkan generasi muda yang siap memasuki dunia kerja secara aman, kompeten, dan bermartabat menjadi perhatian SMK ANCOP Berasrama Likotuden. Melalui kegiatan penguatan wawasan migrasi aman dan kewiraan, para peserta didik dibekali pemahaman tentang peluang kerja, kesiapan tenaga kerja, serta tantangan yang dihadapi pekerja migran.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 19 Agustus 2026 di SMK ANCOP Berasrama Likotuden, Kabupaten Flores Timur ini merupakan bagian dari Program Bantuan Pemerintah Akses Kebekerjaan Luar Negeri Tahun 2026. Dalam kegiatan tersebut, Ketua Komisi Migran Perantau Keuskupan Larantuka, RD. Lukas Laba Erap hadir sebagai narasumber untuk memberikan sosialisasi Pastoral Migran Perantau.
RD. Lukas mengajak para peserta didik memahami bahwa migrasi merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia. Sejak dahulu manusia melakukan perjalanan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Dalam konteks zaman sekarang, migrasi menjadi realitas global yang membuka peluang, tetapi juga menghadirkan berbagai tantangan.
“Manusia pada dasarnya adalah makhluk peziarah atau pengembara (homo viator). Perjalanan mencari kehidupan yang lebih baik merupakan bagian dari dinamika hidup manusia,” ungkap RD. Lukas.
Menurutnya, migrasi tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut martabat manusia. Karena itu, setiap orang yang hendak bekerja di luar daerah maupun luar negeri perlu mempersiapkan diri dengan baik, memiliki keterampilan, memahami aturan, serta menempuh jalur yang resmi.
Dalam sosialisasi tersebut, peserta didik diberikan pemahaman tentang pentingnya migrasi aman dan legal. Mereka diajak untuk tidak mudah percaya pada tawaran pekerjaan yang tidak jelas, terutama dari pihak-pihak yang menjanjikan pekerjaan mudah dengan penghasilan besar tanpa proses resmi.
RD. Lukas juga menjelaskan bahwa pekerja migran harus memenuhi berbagai persyaratan, seperti dokumen identitas, sertifikat kompetensi, pemeriksaan kesehatan, paspor, visa kerja, perjanjian penempatan, dan kontrak kerja yang sah. Selain dokumen pemerintah, para perantau Katolik juga perlu memperhatikan dokumen gerejawi sebagai bagian dari identitas iman.
Perhatian khusus diberikan terhadap bahaya Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Para peserta didik diajak mengenali berbagai modus perekrutan ilegal yang sering menyasar kelompok rentan melalui janji palsu tentang pekerjaan dan masa depan yang lebih baik.
Dalam konteks masyarakat Flores Timur dan Lembata, RD. Lukas melihat budaya merantau sebagai sebuah peluang sekaligus tantangan. Banyak orang memilih bekerja di luar daerah atau luar negeri karena faktor ekonomi, keterbatasan lapangan kerja, maupun pengaruh jaringan keluarga. Namun, hal tersebut harus diimbangi dengan pendidikan, keterampilan, dan semangat kewiraan.
Pendidikan vokasi seperti yang dikembangkan SMK ANCOP Likotuden menjadi salah satu jalan penting untuk membangun generasi yang mandiri. Para peserta didik tidak hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja, tetapi juga diharapkan mampu menciptakan peluang usaha berdasarkan potensi lokal.
Melalui pelayanan pastoral migran perantau, Gereja hadir untuk mendampingi umat yang memilih jalan perantauan. Pendampingan tersebut mencakup penguatan iman, pelayanan sakramen, pendampingan keluarga, serta perhatian terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi para migran.
Kegiatan ini diharapkan mampu membuka wawasan peserta didik agar lebih bijaksana dalam mengambil keputusan tentang masa depan. Migrasi bukan sekadar perjalanan mencari penghasilan, tetapi juga perjalanan membawa nilai, iman, dan tanggung jawab.
Dengan pengetahuan yang benar, keterampilan yang memadai, serta pendampingan yang baik, generasi muda Flores Timur diharapkan mampu menjadi tenaga kerja yang membawa harapan bagi keluarga, Gereja, dan masyarakat. (Komisi Migran KL)

You may also like