WAIWERANG, Komsos Larantuka – Dua puluh lima tahun lalu, beberapa suster misionaris datang ke Pulau Adonara dengan bekal yang sangat sederhana: semangat Injil, keberanian meninggalkan tanah air, dan keyakinan bahwa Allah akan membuka jalan. Mereka tidak membawa banyak harta, tetapi membawa kasih yang kemudian bertumbuh menjadi karya pelayanan yang terus berbuah hingga hari ini. Dari Waiwerang, jejak misi Kongregasi Murid-Murid Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (DST) kini menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.

Dari Waiwerang, jejak misi Kongregasi Murid-Murid Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (DST) kini menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.
Perjalanan itu sesungguhnya berawal jauh sebelumnya. Kongregasi DST didirikan pada 31 Oktober 1932 di Qualiano, Napoli, Italia, oleh seorang imam diosesan, Canon Antonio Migliaccio. Ia tergerak oleh penderitaan anak-anak terlantar dan keluarga miskin yang tidak memperoleh pendidikan maupun pendampingan iman yang memadai. Dari keprihatinan itu lahirlah sebuah komunitas religius yang mengabdikan diri pada pendidikan, pelayanan pastoral, pendampingan anak-anak, perawatan lanjut usia, dan karya katekese.
Sebagai pelindung kongregasi, Canon Antonio memilih Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus. Spiritualitas “jalan kecil” Santa Theresia menjadi jiwa pelayanan para suster: menghadirkan kasih Allah melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan dengan cinta yang besar.
Perjalanan kongregasi berkembang pesat. Setelah dipimpin oleh Mother Luisa Esposito sebagai Pemimpin Umum pertama, Kongregasi DST memperoleh pengakuan resmi dari Takhta Suci pada 16 Juli 1969 melalui Paus Paulus VI. Pengakuan tersebut membuka jalan bagi karya misioner ke berbagai negara, termasuk Filipina, Madagaskar, dan Indonesia.
Kehadiran Kongregasi DST di Indonesia dimulai pada tahun 1999 ketika Sr. Antida Di Francesco, DST, bersama Sr. Loredana datang untuk memperkenalkan kongregasi sekaligus melakukan promosi panggilan. Setelah sempat mengunjungi Maumere, mereka diterima oleh Uskup Larantuka saat itu, Mgr. Darius Nggawa, SVD, yang menyambut baik kehadiran mereka dan membuka ruang bagi karya misi di wilayah Keuskupan Larantuka. Melalui dukungan Sr. Marietis, CIJ, para suster memperkenalkan kongregasi melalui mimbar gereja dan siaran radio hingga akhirnya memperoleh lima calon suster pertama asal Flores yang kemudian menjalani masa pembinaan di Filipina.

Dari Waiwerang, jejak misi Kongregasi Murid-Murid Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (DST) kini menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.
Tonggak penting sejarah kongregasi terjadi pada 4 September 2001 ketika para suster menetap di Waiwerang, Pulau Adonara. Atas arahan Mgr. Darius Nggawa, para suster memulai karya misi di wilayah yang saat itu masih sangat membutuhkan tenaga pastoral. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di Riang Muko A sambil membantu pelayanan di Paroki Kristus Raja Waiwerang. Dukungan Romo Lazarus Laga Koten, Pr. dan Romo Lukas Laba Erap, Pr. menjadi penopang penting dalam masa-masa awal pelayanan mereka.
Tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Para suster harus beradaptasi dengan bahasa, budaya, serta keterbatasan sarana hidup. Bahkan, salah seorang misionaris sempat terserang malaria berat. Namun berbagai kesulitan itu tidak memadamkan semangat pelayanan. Mereka terus mengunjungi sekolah-sekolah, keluarga, dan paroki-paroki untuk memperkenalkan panggilan hidup membiara sekaligus terlibat aktif dalam pelayanan pastoral umat. Perlahan tetapi pasti, benih panggilan mulai bertumbuh dan karya kongregasi semakin dikenal masyarakat.
Perkembangan tersebut ditandai dengan dibukanya rumah formasi di Maumere pada tahun 2005, pemberkatan rumah induk Indonesia di Waiwerang pada 2 April 2007, serta pemindahan rumah novisiat ke Larantuka sebelum akhirnya berdiri rumah novisiat dan rumah studi di Pohon Bao pada tahun 2008. Langkah-langkah ini menjadi fondasi penting bagi pembinaan generasi baru suster DST di Indonesia.
Seiring bertambahnya anggota, karya kongregasi terus meluas. Komunitas baru dibuka di Wangatoa, Lembata (2009), Wolofeo, Maumere (2010), kemudian dipercaya mengelola Asrama Putri Don Bosco di Keuskupan Maumere (2011). Pelayanan selanjutnya berkembang ke Paroki Santo Yosef Doki, Mauponggo, Keuskupan Agung Ende (2016), hingga membuka komunitas baru di Seminari Menengah Santo Fransiskus Asisi, Jayapura, pada tahun 2025 atas undangan Uskup Jayapura.

Dari Waiwerang, jejak misi Kongregasi Murid-Murid Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus (DST) kini menjangkau berbagai wilayah di Indonesia.
Kini, ketika Kongregasi DST mengenang seperempat abad karya misinya di Indonesia dan di Dekenat Adonara, perjalanan panjang itu menjadi kesaksian nyata bahwa penyelenggaraan Allah senantiasa menyertai setiap langkah pelayanan. Dari sebuah rumah kontrakan sederhana di Waiwerang, karya itu terus berkembang menjadi jaringan pelayanan yang menyentuh pendidikan, pembinaan kaum muda, pendampingan umat, karya sosial, serta berbagai pelayanan pastoral di sejumlah keuskupan.
Perjalanan dari Qualiano hingga Adonara menjadi bukti bahwa benih kasih yang ditaburkan Canon Antonio Migliaccio tidak pernah berhenti berbuah. Dalam semangat Santa Theresia dari Kanak-Kanak Yesus, para suster DST terus setia menapaki “jalan kecil” pelayanan, menghadirkan kasih Kristus melalui kesederhanaan hidup dan pengabdian tanpa pamrih bagi Gereja dan masyarakat. (@sly)
