SIAPKAN PEWARTA DIGITAL YANG BERETIKA DAN INOVATIF: Komsos Regio Nusra Gelar Seminar dan Workshop AI

Kegiatan ini dilaksanakan dalam semangat untuk menjawab kebutuhan zaman. Dunia digital saat ini berkembang sangat cepat. Berbagai platform media sosial, aplikasi kreatif, dan teknologi AI telah mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, bekerja, dan membangun relasi. Gereja pun dipanggil untuk hadir dalam ruang digital tersebut dengan sikap terbuka, kritis, dan bijaksana. KOMSOS Regio NUSRA dalam semangat pelaksanaan kegiatan ini menegaskan bahwa teknologi tidak boleh dipandang hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai kesempatan baru untuk memperluas jangkauan pewartaan. Namun, penggunaan teknologi harus tetap ditempatkan dalam kerangka iman, etika, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Melalui kegiatan ini, para peserta diajak untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi komunikator Gereja yang mampu menghadirkan nilai-nilai Injil dalam dunia digital.

by Komsos Keuskupan Larantuka

LABUAN BAJO, Komsos Larantuka – Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam cara Gereja menjalankan tugas pewartaan Injil. Menyadari tantangan sekaligus peluang tersebut, Komisi Komunikasi Sosial (KOMSOS) Keuskupan-Keuskupan Regio Nusa Tenggara (NUSRA) menyelenggarakan Seminar dan Workshop bertema “Etika dan Teknik Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Artifisial dalam Pastoral Komunikasi Sosial Paroki dan Keuskupan.”
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Unio Keuskupan Labuan Bajo pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 ini menjadi ruang pembelajaran, refleksi, dan penguatan kapasitas bagi para pengurus KOMSOS serta para pegiat komunikasi sosial Gereja di wilayah Regio NUSRA.
Sebanyak 50 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka terdiri dari 7 pastor, 1 frater, dan 42 pegiat KOMSOS yang berasal dari berbagai keuskupan di Regio Nusa Tenggara. Para peserta datang dari Keuskupan Denpasar, Weetebula, Ende, Maumere, Larantuka, Atambua, Kupang, Ruteng, serta Keuskupan Labuan Bajo sebagai tuan rumah. Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan peserta dari komunitas religius, seminari, dan orang muda yang memiliki perhatian terhadap perkembangan komunikasi digital Gereja.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam semangat untuk menjawab kebutuhan zaman. Dunia digital saat ini berkembang sangat cepat. Berbagai platform media sosial, aplikasi kreatif, dan teknologi AI telah mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, bekerja, dan membangun relasi. Gereja pun dipanggil untuk hadir dalam ruang digital tersebut dengan sikap terbuka, kritis, dan bijaksana. KOMSOS Regio NUSRA dalam semangat pelaksanaan kegiatan ini menegaskan bahwa teknologi tidak boleh dipandang hanya sebagai ancaman, tetapi juga sebagai kesempatan baru untuk memperluas jangkauan pewartaan. Namun, penggunaan teknologi harus tetap ditempatkan dalam kerangka iman, etika, dan penghargaan terhadap martabat manusia.
Melalui kegiatan ini, para peserta diajak untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi komunikator Gereja yang mampu menghadirkan nilai-nilai Injil dalam dunia digital.

Seminar dan Workshop bertema “Etika dan Teknik Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Artifisial dalam Pastoral Komunikasi Sosial Paroki dan Keuskupan.” (Labuan Bajo pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026)

AI dan Martabat Manusia dalam Terang Gereja
Salah satu perhatian utama dalam kegiatan ini adalah bagaimana Gereja melihat perkembangan kecerdasan artifisial dari perspektif iman. Para peserta diajak merefleksikan bahwa kemajuan teknologi harus selalu berjalan bersama penghormatan terhadap manusia sebagai pribadi yang bermartabat.
Refleksi ini dikaitkan dengan Ensiklik Paus Leo XIV “Magnifica Humanitas” yang menegaskan pentingnya menjaga keagungan martabat manusia di tengah perkembangan teknologi modern. Teknologi, termasuk AI, harus menjadi sarana yang membantu manusia berkembang, bukan menggantikan manusia atau mengurangi nilai kemanusiaannya.
Dalam konteks pastoral komunikasi sosial, AI dapat menjadi alat yang membantu Gereja mempercepat proses pewartaan. Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia yang memiliki kebijaksanaan, tanggung jawab moral, dan kedalaman spiritual.
Para peserta diajak untuk menyadari bahwa komunikasi Gereja bukan hanya soal kecepatan menyebarkan informasi, tetapi terutama bagaimana menghadirkan kebenaran, kasih, pengharapan, dan perjumpaan yang membawa manusia semakin dekat dengan Allah.

Seminar dan Workshop bertema “Etika dan Teknik Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Artifisial dalam Pastoral Komunikasi Sosial Paroki dan Keuskupan.” (Labuan Bajo pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026)

Media Digital sebagai Mimbar Pewartaan Baru
Salah satu materi utama dalam kegiatan ini dibawakan oleh RD. Herman Yeseph Babey dengan tema “Mimbar di Era Digital.” Dalam paparannya, ia mengajak para peserta melihat dunia digital sebagai medan perutusan baru bagi Gereja.
Menurutnya, media sosial tidak boleh hanya dipahami sebagai tempat membagikan berita atau informasi kegiatan Gereja. Lebih dari itu, ruang digital merupakan tempat menghadirkan kesaksian iman, dialog, dan perjumpaan dengan manusia zaman ini.
Di era digital, banyak orang mencari informasi, inspirasi, bahkan jawaban atas pertanyaan hidup melalui internet dan media sosial. Karena itu, Gereja perlu hadir secara aktif dengan komunikasi yang bermutu dan menyentuh kehidupan nyata manusia.
Para pewarta digital dipanggil untuk menghadirkan konten yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memberi makanan rohani bagi umat.
“Pewartaan digital bukan sekadar mengejar jumlah pengikut, popularitas, atau viralitas. Yang utama adalah bagaimana komunikasi itu membawa orang kepada Kristus dan menghadirkan pengalaman akan kasih Allah,” menjadi salah satu pesan penting dalam sesi tersebut.
RD. Herman juga menekankan bahwa komunikasi yang baik harus dibangun atas dasar kebenaran, kasih, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Media digital harus menjadi sarana membangun komunitas iman, memperkuat persaudaraan, dan menghadirkan harapan.

Seminar dan Workshop bertema “Etika dan Teknik Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Artifisial dalam Pastoral Komunikasi Sosial Paroki dan Keuskupan.” (Labuan Bajo pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026)

AI untuk Mendukung Katekese Digital
Materi berikutnya disampaikan oleh RD. Yohanes Kiri dengan tema “AI untuk Katekese Digital.” Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan dengan berbagai kemungkinan pemanfaatan AI dalam karya pewartaan dan pendidikan iman.
RD. Yohanes menegaskan bahwa AI merupakan alat bantu yang dapat memperkaya kreativitas para pewarta, tetapi tidak pernah menggantikan peran manusia dalam pewartaan iman.
“AI bukan pengganti Roh Kudus, bukan pengganti Kitab Suci, bukan pengganti Gereja, dan bukan pengganti pewarta. AI hanyalah sarana yang membantu manusia menjalankan tugas pewartaan,” tegasnya.
Dalam dunia katekese, AI dapat membantu para pewarta menghasilkan berbagai bentuk materi kreatif seperti renungan, bahan pendalaman iman, infografik, video pendek, kuis interaktif, hingga konten media sosial.
Namun, penggunaan AI membutuhkan tanggung jawab. Setiap materi yang dihasilkan harus tetap diperiksa, disesuaikan, dan dipastikan sesuai dengan ajaran Gereja.
Peserta juga dibekali kemampuan menyusun prompt atau instruksi kepada AI secara efektif. Sebuah prompt yang baik perlu memperhatikan tujuan pastoral, kelompok sasaran, tema yang hendak disampaikan, dasar Kitab Suci atau ajaran Gereja, bentuk konten yang diinginkan, serta nilai spiritualitas yang hendak dibangun.
Dengan kemampuan tersebut, para pewarta digital diharapkan mampu menghasilkan konten yang bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki kedalaman iman.

Seminar dan Workshop bertema “Etika dan Teknik Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Artifisial dalam Pastoral Komunikasi Sosial Paroki dan Keuskupan.” (Labuan Bajo pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026)

Kreativitas Musik dan Audio dengan Suno AI
Selain materi tentang katekese digital, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan AI dalam bidang audio dan musik melalui materi “SUNO AI” yang dibawakan oleh RD. Usno Wodo.
Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan dengan Suno AI sebagai salah satu platform kecerdasan buatan yang mampu membantu menciptakan lagu berdasarkan teks, lirik, maupun ide kreatif yang diberikan pengguna.
Teknologi ini membuka peluang baru bagi karya pastoral komunikasi sosial. Para pegiat KOMSOS dapat memanfaatkannya untuk membuat lagu rohani, musik latar video, podcast, doa digital, maupun berbagai bentuk konten audio yang mendukung pewartaan.
RD. Usno menjelaskan bahwa meskipun AI mampu menghasilkan karya secara cepat, unsur manusia tetap menjadi bagian yang tidak tergantikan.
Kreativitas, pengalaman iman, doa, refleksi, dan sentuhan hati seorang pewarta tetap menjadi kekuatan utama agar sebuah karya komunikasi memiliki makna dan mampu menyentuh kehidupan banyak orang.
Menurutnya, teknologi harus digunakan secara kreatif namun tetap memiliki arah pastoral. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan konten, tetapi menghadirkan pesan Injil yang dapat menjangkau lebih banyak orang.

Seminar dan Workshop bertema “Etika dan Teknik Pemanfaatan Teknologi Kecerdasan Artifisial dalam Pastoral Komunikasi Sosial Paroki dan Keuskupan.” (Labuan Bajo pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026)

Membangun Komunikator Gereja di Era Digital
Selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga mengikuti praktik pemanfaatan berbagai aplikasi digital dan teknologi AI. Melalui proses belajar bersama, peserta diajak menemukan cara-cara baru dalam mengembangkan karya KOMSOS di tingkat paroki maupun keuskupan.
Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para pegiat KOMSOS Regio NUSRA untuk saling berbagi pengalaman, tantangan, dan strategi dalam mengelola komunikasi Gereja di tengah perubahan zaman.
Dunia digital membutuhkan komunikator yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan pastoral. Seorang pewarta digital harus mampu membaca kebutuhan umat, memahami budaya digital, dan menghadirkan pesan yang relevan dengan kehidupan manusia masa kini.
Melalui kegiatan ini, KOMSOS Regio NUSRA berharap semakin banyak lahir komunikator Gereja yang kreatif, profesional, dan berintegritas.
Mereka diharapkan mampu menjadikan teknologi sebagai jembatan pewartaan, bukan sekadar alat publikasi. Media digital dipandang sebagai ruang misi baru tempat Gereja menghadirkan suara kasih, kebenaran, dan pengharapan.
Seminar dan Workshop AI KOMSOS Regio NUSRA di Labuan Bajo akhirnya menjadi sebuah langkah penting dalam mempersiapkan Gereja memasuki era digital. Teknologi boleh berubah dan berkembang, tetapi inti pewartaan tetap sama: menghadirkan Kristus yang hidup melalui komunikasi yang penuh kasih, bijaksana, dan membangun kehidupan manusia. (Fr. Rikard Ujan)

You may also like