NINI TANAEKAN: Ibu Bumi dalam Sukacita Iman dan Budaya Lamaholot di Lewotala

Penghormatan kepada Bunda Maria harus diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui sikap mencintai, menjaga, dan merawat alam. Pesan ini selaras dengan semangat Ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus yang mengajak seluruh umat manusia untuk bertanggung jawab terhadap rumah bersama, yakni bumi.

by Komsos Keuskupan Larantuka

LEWOTALA, Komsos Larantuka — Sosok Nini Tanaekan menjadi simbol perjumpaan antara iman Katolik dan kearifan budaya Lamaholot dalam perjalanan iman umat di Keuskupan Larantuka, khususnya di Paroki Santo Alfonsus Maria de Liguori Lewotala. Dalam pemahaman masyarakat setempat, Nini Tanaekan menggambarkan sosok ibu yang melambangkan bumi, tempat manusia menerima kehidupan dari Allah. Makna mendalam inilah yang diangkat dalam pemberkatan Gua Maria Bunda Kristus Penebus Nini Tanaekan oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro pada Selasa (4/8/2026).
Pemberkatan gua Maria tersebut menjadi bagian dari Perayaan Pesta Pelindung Paroki Santo Alfonsus Maria de Liguori Lewotala yang dihadiri oleh umat paroki. Peristiwa iman ini menjadi momentum istimewa karena menghadirkan perpaduan harmonis antara spiritualitas Kristiani, budaya Lamaholot, dan kepedulian terhadap keutuhan ciptaan.
Dalam homilinya, Uskup Larantuka menegaskan bahwa nama “Bunda Kristus Penebus Nini Tanaekan” memiliki makna yang kaya. Bunda Maria tidak hanya dihormati sebagai Bunda Kristus, tetapi juga mengingatkan umat akan tanggung jawab untuk menghargai bumi sebagai anugerah Allah.
Menurut Uskup, penghormatan kepada Bunda Maria harus diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui sikap mencintai, menjaga, dan merawat alam. Pesan ini selaras dengan semangat Ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus yang mengajak seluruh umat manusia untuk bertanggung jawab terhadap rumah bersama, yakni bumi.
Sukacita umat Lewotala semakin lengkap dengan kehadiran Uskup Larantuka yang memimpin Perayaan Ekaristi sekaligus memberkati Gua Maria, Patung Bunda Maria, serta meresmikan 14 Perhentian Jalan Salib yang mengelilingi kawasan gua sebagai sarana doa dan pendalaman iman.
Kehadiran Bapa Uskup disambut dengan tata cara adat Lamaholot yang penuh makna. Para tua adat menyampaikan sapaan adat, menyuguhkan sirih pinang, arak, dan rokok sebagai tanda persaudaraan, serta mengalungkan selendang sebagai simbol penghormatan.
Penyambutan semakin meriah melalui Tarian Hama oleh para tua adat dan Tarian Hedung yang dibawakan anak-anak Lewotala. Perpaduan budaya dan iman tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai Injil telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Sebagai tanda kepedulian terhadap lingkungan hidup, Mgr. Yohanes Hans Monteiro juga menanam pohon matoa di sekitar lokasi gua. Tindakan simbolis ini menegaskan bahwa pembangunan tempat rohani harus selalu berjalan bersama dengan upaya menjaga kelestarian alam.
Setelah Perayaan Ekaristi, umat melanjutkan sukacita dalam acara syukuran bersama melalui tradisi pindah meja makan. Setiap lingkungan dan stasi membawa makanan terbaik untuk dinikmati bersama sebagai tanda persaudaraan tanpa sekat.
Berbagai penampilan seni dari anak-anak PAUD, TK, SD, SMPK Isidorus Lewotala, hingga SMA Negeri 1 Lewolema turut memperkaya suasana syukur. Puncak kegembiraan terjadi ketika Uskup, para imam, dan umat bergandengan tangan dalam Tarian Dolo-Dolo sebagai simbol Gereja yang berjalan bersama dalam persatuan.
Pemberkatan Gua Maria Bunda Kristus Penebus Nini Tanaekan bukan hanya sebuah peristiwa liturgis, tetapi menjadi tanda bahwa iman Katolik terus bertumbuh ketika berakar dalam budaya lokal, memperkuat persaudaraan, dan menggerakkan umat untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama. (Bora, CSsR)

You may also like