Ada sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah kota kecil di Amerika Serikat dan berakhir di sebuah pulau kecil bernama Lembata. Perjalanan itu adalah kisah hidup Pastor Nicholas Strawn, SVD, seorang imam misionaris yang mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk melayani umat Katolik di Keuskupan Larantuka.
Bagi banyak orang, ia hanyalah seorang imam asing yang datang dari negeri jauh. Namun bagi umat Lembata, ia adalah seorang bapak, sahabat, dan gembala yang telah menyatu dengan kehidupan mereka.
Pater Nicky Strawn, demikian ia akrab disapa, lahir di Oelwein, Iowa, Amerika Serikat, pada 24 September 1934. Ia adalah putra pasangan Loren David Strawn dan Loretta Mary Bauer, serta anak keempat dari enam bersaudara.
Dari keluarga sederhana itu, tumbuh seorang anak yang kemudian menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi imam dan misionaris. Ia memilih jalan hidup dalam Serikat Sabda Allah (SVD), sebuah kongregasi yang dikenal dengan semangat pewartaan Injil lintas bangsa dan budaya.
Setelah menjalani masa formasi, ia menerima tahbisan diakon pada tahun 1961 di Techny, Illinois, Amerika Serikat, dan kemudian ditahbiskan menjadi imam pada 2 Februari 1962.
Tidak lama setelah menjadi imam, hatinya terpanggil untuk pergi jauh meninggalkan tanah kelahirannya. Ia bersedia menjadi seorang misionaris dan diutus ke Indonesia, sebuah negeri yang belum ia kenal, tetapi kelak menjadi rumah pelayanannya.
DATANG KE TANAH MISI DENGAN TANGAN KOSONG, MEMBAWA HATI YANG PENUH KASIH
Pada 20 Oktober 1963, Pastor Nicholas memulai perjalanan bersejarahnya. Dari Pelabuhan San Francisco, Amerika Serikat, ia berlayar menuju Indonesia dengan kapal SS President Madison.
Sebagai seorang misionaris muda, ia membawa 16 peti berisi obat-obatan, buku, dan pakaian. Semua itu dipersiapkan sebagai bekal awal untuk melayani umat di tanah misi.
Namun Tuhan menyiapkan kisah lain.
Dalam perjalanan menuju Flores, ketika menumpang KM Stella Maris, kapal tersebut mengalami kebakaran di perairan Madura. Dalam situasi darurat, seluruh 16 petinya harus dibuang ke laut demi menyelamatkan para penumpang.
Semua perlengkapan yang ia persiapkan hilang di dasar laut.
Peristiwa itu menjadi pengalaman yang sangat membekas. Ia merasa datang ke tanah misi tanpa membawa apa-apa.
Namun justru di situlah ia menemukan makna terdalam seorang misionaris: bahwa yang paling utama bukanlah barang yang dibawa, melainkan hati yang siap diberikan bagi Tuhan dan umat-Nya.
LEMBATA: TANAH MISI YANG MENJADI RUMAHNYA
Pada akhir tahun 1963, Pastor Nicholas tiba di Ende. Dari sana ia mendapat tugas untuk melayani di wilayah Lomblen, yang kini dikenal sebagai Lembata.
Ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju Larantuka dan akhirnya tiba di Lewoleba.
Sejak saat itu, Lembata menjadi tanah yang mengukir seluruh perjalanan hidup pelayanannya.
Pada Februari 1964, ia dipercaya menjadi Pastor Paroki Hati Kudus Lerek.
Selama 24 tahun, ia menggembalakan umat Lerek. Ia hadir bukan hanya di altar dan mimbar gereja, tetapi juga di rumah-rumah umat, di kampung-kampung, dan di tengah kehidupan masyarakat.
Ia berjalan bersama umat dalam suka dan duka. Ia mengunjungi umat dengan kendaraan sederhana, bahkan terkadang menunggang kuda untuk menjangkau wilayah pelayanan.
Bagi umat, kehadiran Pater Niko membawa rasa damai. Ia dikenal sebagai pribadi yang ramah, murah senyum, tenang, dan sederhana.
Ia tidak pernah membuat jarak dengan umat. Ia duduk bersama mereka, mendengarkan cerita mereka, dan menjadi bagian dari kehidupan mereka.
GEMBALA YANG DICINTAI UMAT
Setelah 24 tahun di Lerek, pada tahun 1987 Pastor Nicholas mendapat tugas baru sebagai Pastor Paroki Santo Yosef Boto.
Di tempat baru itu, ia tetap membawa semangat yang sama: melayani dengan hati.
Selama 17 tahun, ia menjadi gembala bagi umat Boto.
Bagi umat Lerek dan Boto, Pater Niko bukan sekadar seorang pastor paroki. Ia adalah sosok yang hadir ketika umat membutuhkan penguatan, ketika keluarga mengalami kesulitan, dan ketika masyarakat membutuhkan seorang sahabat.
Ia mewartakan Injil bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui sikap hidupnya yang sederhana.
Kesetiaannya menjadi kesaksian bahwa seorang imam misionaris tidak hanya tinggal di sebuah tempat, tetapi memberikan seluruh dirinya bagi umat yang dipercayakan kepadanya.
JEJAK KASIH YANG TIDAK TERHAPUS
Lebih dari enam dekade hidup Pastor Nicholas Strawn, SVD dipersembahkan bagi Gereja di Indonesia. Dari seorang anak Amerika Serikat, ia berubah menjadi bagian dari keluarga besar umat Lembata.
Ia datang sebagai orang asing, tetapi pergi sebagai saudara.
Ia datang membawa panggilan, tetapi meninggalkan warisan kasih.
Ia datang untuk mewartakan Injil, tetapi justru ikut membangun sejarah iman umat yang dilayaninya.
Pada Selasa, 4 Agustus 2026 pukul 12.20 WITA, Pastor Nicholas Strawn, SVD menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Bukit Lewoleba.
Kepergiannya meninggalkan duka, tetapi juga rasa syukur yang mendalam.
Sebab melalui hidupnya, umat Lembata mengalami bahwa kasih Tuhan dapat hadir melalui seorang imam yang datang dari negeri jauh.
Selamat jalan, Pater Nicholas Strawn, SVD.
Terima kasih atas cinta dan kesetiaanmu.
Engkau telah menabur benih iman, merawat umat Tuhan, dan meninggalkan jejak kasih di tanah Lembata. Kini beristirahatlah dalam damai bersama Bapa di Surga.***
66
