WULUBLULONG, Komsos Larantuka — Sukacita iman dan rasa syukur memenuhi perayaan Ekaristi Syukur 100 Tahun SDK Wulublolong yang berlangsung pada Rabu, 5 Agustus 2026. Perayaan bersejarah ini menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang karya pendidikan selama satu abad sekaligus meneguhkan komitmen sekolah dalam membentuk generasi yang beriman, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Mengusung tema “Seabad Menjadi Penjaga Tradisi dan Gembala Zaman,” perayaan 100 tahun SDK Wulublolong tidak hanya menjadi ajang mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali peran pendidikan dalam membangun manusia yang mampu menjaga nilai-nilai luhur budaya serta menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.
Dalam homilinya pada Misa Syukur tersebut, Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro menegaskan bahwa para alumni SDK Wulublolong dipanggil untuk menjadi “garam dan terang dunia.” Menurut Bapak Uskup, seorang alumni pendidikan Katolik hendaknya menjadi pribadi yang kehadirannya membawa kebaikan, memberikan pengaruh positif, dan menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih melalui kehidupan, karya, dan pelayanan.
Perjalanan satu abad SDK Wulublolong telah menghasilkan 2.685 lulusan. Jumlah tersebut bukan hanya sekadar angka, melainkan bagian dari sejarah panjang pendidikan yang telah memberikan kontribusi bagi Gereja dan masyarakat. Setiap lulusan diharapkan tidak hanya membawa ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai iman, moral, dan kemanusiaan yang telah ditanamkan selama menjalani pendidikan.
Uskup Larantuka mengajak seluruh keluarga besar SDK Wulublolong untuk memaknai keberhasilan pendidikan bukan hanya dari prestasi akademik, tetapi terutama dari kemampuan menghadirkan kasih dan kebaikan dalam kehidupan. Sebagaimana direnungkan dalam bacaan pertama, manusia dipanggil agar namanya tercatat dalam “buku kehidupan” melalui perbuatan baik dan kesetiaan kepada Allah.
Lebih lanjut, Uskup menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu jalan penting bagi manusia untuk semakin serupa dengan Allah. Pendidikan tidak boleh berhenti pada upaya mencerdaskan pikiran, tetapi harus membentuk manusia yang memiliki hati yang berbelas kasih, menghargai martabat sesama, dan mampu menjadi pelayan bagi kehidupan.
Karena itu, misi Gereja tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan. Melalui pendidikan, Gereja hadir mendampingi manusia agar semakin mengenal kebenaran, menemukan nilai-nilai kehidupan, dan bertumbuh dalam kasih Allah.
Dalam kaitannya dengan budaya, Bapak Uskup juga mengingatkan bahwa generasi masa kini memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur dengan sikap yang bijaksana. Tidak semua warisan budaya dapat diterima begitu saja tanpa melihat dampaknya bagi kehidupan manusia.
Menurutnya, leluhur telah mewariskan banyak nilai luhur yang harus dijaga, namun apabila terdapat unsur budaya atau kebiasaan yang merendahkan martabat manusia, maka hal tersebut perlu dikoreksi. Sebab manusia diciptakan oleh Allah dengan martabat yang luhur dan harus dihargai.
Pendidikan memiliki peran penting untuk membantu manusia membaca budaya secara kritis. Menjadi penjaga tradisi bukan berarti mempertahankan semua kebiasaan tanpa pertimbangan, tetapi menjaga nilai-nilai yang memanusiakan sekaligus berani memperbaiki hal-hal yang bertentangan dengan kasih Allah.
Pada akhirnya, perayaan satu abad SDK Wulublolong menjadi panggilan baru bagi seluruh keluarga besar sekolah untuk terus berjalan bersama Kristus, Sang Terang Dunia. Dengan terang iman, para pendidik, alumni, dan peserta didik diajak menjadi pribadi yang mampu membaca tanda-tanda zaman, menjaga tradisi yang baik, serta menjadi garam dan terang bagi dunia.
Seabad SDK Wulublolong bukan hanya tentang masa lalu yang dikenang, tetapi tentang masa depan yang terus dibangun melalui pendidikan yang melahirkan manusia beriman, berkarakter, dan menjadi gembala zaman. (Ino Koten, Pr)


