LEWOLEBA, Komsos Larantuka — Hari ini (Kamis, 6/8/2026) Gereja Katolik merayakan Pesta Transfigurasi Tuhan, sebuah peristiwa iman ketika Yesus berubah rupa di atas Gunung Tabor dan menyatakan kemuliaan-Nya kepada para murid. Dalam suasana iman yang penuh harapan itu, umat Keuskupan Larantuka mengantar kepergian seorang misionaris sejati, Pater Nikolaus Strawn, SVD, yang telah menyelesaikan perjalanan pelayanannya di dunia dan kembali ke rumah Bapa.
Perayaan Ekaristi pelepasan dan penghormatan terakhir bagi Pater Niko Strawn, SVD berlangsung di Gereja Santa Maria Baneux Lewoleba. Misa dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Hadir bersama umat dalam perayaan tersebut Uskup Emeritus Keuskupan Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Provinsial SVD Ende Pater Josef Emanuel Embu, SVD, Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka RD. Adeodatus Hendrikus Leni, Deken Lembata RD. Blasius Masang Kleden, Deken Larantuka RD. Lukas Laba Erap, para imam konselebran, para suster, biarawan-biarawati serta umat yang memenuhi Gereja Santa Maria Baneux Lewoleba.
Dalam refleksi iman pada momen pelepasan tersebut, Pater Niko dikenang sebagai seorang imam misionaris yang sungguh menghidupi semangat Yesus, Sang Anak Manusia, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan diri bagi banyak orang.
Misionaris berkebangsaan Amerika itu memilih meninggalkan kenyamanan hidupnya dan datang tinggal bersama umat di Lembata. Ia tidak membawa kemegahan atau kemewahan diri, tetapi membawa kesederhanaan hati dan ketulusan pelayanan. Ia hadir sebagai seorang gembala yang tidak berjarak dengan umat, melainkan berjalan bersama mereka dalam suka dan duka kehidupan sehari-hari.
Bagi umat Lembata, Pater Niko bukan hanya seorang imam yang melayani di altar, tetapi seorang saudara yang hadir dalam kehidupan nyata. Ia makan apa yang dimakan umat, minum apa yang diminum umat, mendengarkan cerita mereka, serta merasakan perjuangan dan harapan umat yang dilayaninya.
Kedekatan dan kesederhanaan itulah yang membuat Pater Niko begitu dicintai umat. Nama sapaan “Niko Konok” menjadi tanda kedekatan yang melekat dalam ingatan masyarakat. Dalam budaya Lamaholot, konok berarti tempat minum yang terbuat dari tempurung. Nama itu menggambarkan pribadi Pater Niko yang sederhana, bersahaja, dan dekat dengan kehidupan rakyat kecil.
Pater Niko juga dikenal sebagai pribadi yang selalu menghadirkan senyum. Senyum khasnya menjadi bahasa kasih yang membuka hubungan dengan siapa saja. Kehadirannya terutama di tengah anak-anak selalu membawa kegembiraan dan kehangatan. Ia mampu menghadirkan wajah Gereja yang ramah, dekat, dan penuh persaudaraan.
Selama hidup dan pelayanannya di Lembata, Pater Niko telah menunjukkan bahwa misi bukan hanya tentang pewartaan melalui kata-kata, tetapi terutama melalui kesaksian hidup. Ia mewartakan Injil melalui kehadiran, kesederhanaan, keramahan, dan kasih yang nyata bagi umat yang dilayaninya.
Dalam terang Pesta Transfigurasi Tuhan, umat diajak untuk melihat kematian bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai jalan menuju kemuliaan Allah. Sebagaimana Yesus membawa para murid menuju Gunung Tabor untuk menyaksikan kemuliaan-Nya, demikian pula hari ini Gereja menghantar Pater Niko menuju “Gunung Tabor abadi”, tempat ia berjumpa dengan Tuhan yang selama hidupnya ia layani.
“Selamat jalan Pater Niko Konok. Terima kasih atas senyum, kesederhanaan, dan kasih yang telah engkau taburkan di tanah Lembata. Semoga engkau menikmati kemuliaan abadi bersama Bapa di surga.”
Gereja Larantuka percaya bahwa benih-benih kasih yang ditanam Pater Niko selama pelayanan panjangnya akan terus hidup dalam hati umat yang pernah disentuh oleh kehadirannya. Jejak seorang misionaris sederhana, dekat, dan penuh kasih akan tetap menjadi warisan iman bagi Gereja dan masyarakat Lembata. (@sly)

