WAIWADAN BERGERAK: Bangun Sekolah Hijau, Lahirkan Generasi Ekologis

Workshop melibatkan unsur pendidikan, Gereja, pemerintah, dan masyarakat. Peserta terdiri atas siswa, guru, kepala sekolah, pengurus komite sekolah, tokoh masyarakat, unsur PSE Caritas Keuskupan Larantuka, Komsos Keuskupan Larantuka, Pastor Paroki Waiwadan, serta pemerintah daerah.

by Komsos Keuskupan Larantuka

WAIWADAN, Komsos Larantuka — Kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama menjadi perhatian utama dalam Workshop Laudato Si’ Pengembangan Sekolah Hijau di Wilayah Paroki Waiwadan dan sekitarnya, yang dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026, bertempat di BLK Sariati Waiwadan.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Caritas Keuskupan Larantuka bekerja sama dengan sekolah-sekolah SMP, SMA dan setingkatnya yang berada di sekitar Paroki Waiwadan – Keuskupan Larantuka ini mengusung tema “Merawat Bumi, Membangun Generasi Ekologis: Sekolah Hijau sebagai Wujud Nyata Laudato Si’ di Paroki Waiwadan dan Sekitarnya.”
Workshop melibatkan unsur pendidikan, Gereja, pemerintah, dan masyarakat. Peserta terdiri atas siswa, guru, kepala sekolah, pengurus komite sekolah, tokoh masyarakat, unsur PSE Caritas Keuskupan Larantuka, Komsos Keuskupan Larantuka, Pastor Paroki Waiwadan, serta pemerintah daerah.
Kegiatan yang difasilitasi oleh RD. Rosarius Yansen Raring ini menjadi langkah awal untuk mendorong sekolah-sekolah di wilayah Waiwadan dan sekitarnya agar tidak hanya mengajarkan pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga membangun budaya ekologis yang diwujudkan melalui tindakan nyata.

Workshop Laudato Si’ Pengembangan Sekolah Hijau – 15 Agustus 2026 di Waiwadan

Laudato Si’ Menjadi Dasar Membangun Kesadaran Ekologis
Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus pada tahun 2015 menjadi salah satu dasar utama workshop. Melalui dokumen tersebut, Gereja mengajak manusia untuk memandang bumi sebagai rumah bersama yang harus dirawat dan dijaga.
Persoalan ekologis tidak hanya berkaitan dengan lingkungan alam. Kerusakan hutan, pencemaran air, penumpukan sampah, perubahan iklim, berkurangnya sumber daya alam, serta berbagai bentuk eksploitasi lingkungan pada akhirnya juga berdampak langsung terhadap kehidupan manusia. Karena itu, kepedulian ekologis harus dibangun sejak dini.
Sekolah menjadi salah satu tempat strategis untuk menanamkan kesadaran tersebut. Anak-anak dan kaum muda tidak cukup hanya mengetahui bahwa lingkungan harus dijaga. Mereka perlu mengalami, mempraktikkan, dan membangun kebiasaan ekologis dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks ini, pendidikan ekologis bukan sekadar tambahan dalam proses pembelajaran. Ia perlu menjadi bagian dari budaya sekolah.
Peserta workshop diajak melihat bahwa sekolah dapat menjadi tempat pembentukan karakter ekologis. Kebiasaan sederhana seperti membuang dan memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, menghemat air, mematikan lampu ketika tidak digunakan, merawat tanaman, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan bentuk nyata dari spiritualitas ekologis.
Semangat Laudato Si’ juga mengingatkan bahwa manusia bukan penguasa mutlak atas alam. Manusia mempunyai tanggung jawab untuk mengelola ciptaan dengan bijaksana demi keberlangsungan kehidupan.
Karena itu, pendidikan ekologis sekaligus menjadi pendidikan moral. Anak-anak dididik untuk memiliki rasa tanggung jawab, disiplin, solidaritas, kepedulian, dan penghargaan terhadap kehidupan.
Melalui pemahaman tersebut, sekolah diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.

Workshop Laudato Si’ Pengembangan Sekolah Hijau – 15 Agustus 2026 di Waiwadan

Sekolah Hijau Harus Diwujudkan dalam Rencana Aksi Nyata
Sekolah Hijau tidak sekadar berarti sekolah yang memiliki banyak pohon atau halaman yang bersih. Konsep tersebut mencakup integrasi nilai-nilai lingkungan hidup ke dalam pembelajaran, budaya sekolah, perilaku warga sekolah, serta tata kelola lembaga pendidikan.
Karena itu, workshop tidak berhenti pada ceramah. Peserta diajak berdiskusi dan mengidentifikasi potensi serta tantangan yang dimiliki masing-masing sekolah.
Setiap sekolah mempunyai kondisi yang berbeda. Ada sekolah yang mempunyai lahan luas dan dapat mengembangkan kebun sekolah. Ada sekolah yang menghadapi keterbatasan lahan, tetapi dapat mengembangkan penghijauan dengan pot atau tanaman vertikal. Ada pula sekolah yang lebih membutuhkan perhatian pada persoalan sampah, air bersih, sanitasi, atau penghematan energi.
Perbedaan tersebut menjadi dasar untuk menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah.
Dalam diskusi kelompok, peserta diarahkan untuk menyusun Rencana Aksi Sekolah Hijau. Rencana tersebut diharapkan memuat program yang konkret, terukur, realistis, serta memiliki penanggung jawab yang jelas.
Program dapat dimulai dari hal-hal sederhana.
Misalnya, gerakan membawa botol minum sendiri untuk mengurangi sampah plastik, pemilahan sampah organik dan anorganik, pembuatan kompos, kebun sekolah, penghijauan halaman, penghematan air dan listrik, serta kegiatan edukasi lingkungan.
Sekolah juga dapat mengembangkan kegiatan yang menghubungkan lingkungan dengan proses pembelajaran. Lingkungan sekitar dapat menjadi ruang belajar bagi siswa untuk mengenal keanekaragaman hayati, sumber daya alam, persoalan sampah, pertanian, air, dan berbagai persoalan ekologis yang terjadi di wilayah mereka.
Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi belajar langsung dari kehidupan.
Rencana aksi juga perlu memperhatikan keberlanjutan. Program ekologis tidak boleh hanya dilaksanakan ketika ada lomba atau kegiatan tertentu. Ia harus menjadi kebiasaan yang berlangsung sepanjang tahun.
Jika gerakan tersebut dilakukan secara konsisten, sekolah dapat menjadi contoh nyata bagi keluarga dan masyarakat.
Dari sekolah, nilai-nilai ekologis dapat dibawa pulang oleh siswa. Anak yang belajar memilah sampah di sekolah dapat mengajak keluarganya melakukan hal yang sama di rumah. Anak yang belajar menghemat air dapat mengingatkan orang tuanya. Anak yang belajar menanam dan merawat pohon dapat membawa semangat tersebut ke lingkungan tempat tinggalnya.
Dengan demikian, sekolah dapat menjadi pusat perubahan ekologis di tengah masyarakat.

Workshop Laudato Si’ Pengembangan Sekolah Hijau – 15 Agustus 2026 di Waiwadan

Membangun Komitmen dan Jaringan Sekolah Hijau
Gerakan Sekolah Hijau tidak berhenti setelah workshop selesai. Salah satu keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah terbentuknya Deklarasi Bersama Komitmen Sekolah Hijau Paroki Waiwadan dan sekitarnya.
Deklarasi tersebut menjadi tanda bahwa sekolah-sekolah yang terlibat memiliki tekad untuk berjalan bersama dalam merawat bumi.
Namun, komitmen tersebut harus diwujudkan dalam tindakan. Karena itu, diperlukan koordinasi berkelanjutan antara sekolah, Paroki Waiwadan, PSE Caritas Keuskupan Larantuka, Komsos, pemerintah, komite sekolah, dan masyarakat.
Jaringan Sekolah Hijau dapat menjadi ruang untuk saling berbagi pengalaman. Sekolah yang telah berhasil mengembangkan program tertentu dapat membagikan praktik baiknya kepada sekolah lain. Sekolah yang menghadapi kesulitan dapat memperoleh dukungan dan pendampingan.
Dalam kerangka yang lebih luas, gerakan ini juga dapat membangun kerja sama antara Gereja dan pemerintah dalam bidang pendidikan lingkungan.
Kehadiran unsur pemerintah dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa gerakan ekologis membutuhkan kerja sama lintas sektor. Pemerintah memiliki kebijakan dan program lingkungan, sementara Gereja memiliki kekuatan moral dan pastoral untuk membangun kesadaran umat.
Sekolah berada di tengah kedua kekuatan tersebut dan menjadi ruang strategis untuk membentuk generasi masa depan.
Selain diskusi dan penyusunan rencana aksi, workshop juga memberikan ruang bagi generasi muda melalui Ekologi Kreatif, berupa kompetisi seni dan permainan. Pendekatan kreatif tersebut penting agar pesan ekologis dapat disampaikan dengan cara yang menarik dan sesuai dengan dunia anak-anak serta kaum muda.
Seni, permainan, kreativitas, dan kegiatan bersama dapat membantu peserta didik mengalami bahwa merawat lingkungan bukan sesuatu yang membosankan, melainkan gerakan yang menyenangkan dan bermakna.
Pada akhirnya, Workshop Laudato Si’ di Waiwadan bukan sekadar kegiatan sehari untuk berbicara tentang lingkungan. Kegiatan ini merupakan sebuah gerakan awal untuk membangun budaya ekologis melalui pendidikan.
Dari tiga pokok utama—kesadaran ekologis berdasarkan Laudato Si’, rencana aksi Sekolah Hijau yang konkret, serta komitmen dan jaringan bersama—diharapkan lahir perubahan nyata di sekolah-sekolah wilayah Paroki Waiwadan dan sekitarnya.
Merawat bumi memang tidak selalu harus dimulai dengan tindakan besar. Perubahan dapat dimulai dari satu sekolah, satu kelas, satu guru, satu siswa, dan satu kebiasaan sederhana.
Dari sana, gerakan dapat berkembang menjadi budaya bersama.
Semangat Laudato Si’ mengingatkan bahwa manusia dan alam saling terhubung. Ketika manusia merawat bumi, manusia sesungguhnya sedang merawat kehidupan.
Karena itu, gerakan Sekolah Hijau di Waiwadan diharapkan menjadi benih yang terus bertumbuh: merawat bumi hari ini, membangun generasi ekologis, dan mewariskan rumah bersama yang lebih baik kepada generasi mendatang. (@sly)

You may also like