DELKIT LARANTUKA GAUNGKAN TB2: Bahasa Diperbarui, Makna Terjaga

Delegatus Kitab Suci (Delkit) Keuskupan Larantuka terus menggiatkan sosialisasi Alkitab Terjemahan Baru 2 (TB2) sebagai bagian dari program pelayanan Kitab Suci tahun 2026. Kali ini, sosialisasi menyasar Forum Kerja Sama Kaum Religius (FKKR) se-Dekenat Larantuka yang berlangsung di Aula Lamenais, Sarotari, Senin (25/8/2026).

by Komsos Keuskupan Larantuka

LARANTUKA, Komsos Larantuka — Delegatus Kitab Suci (Delkit) Keuskupan Larantuka terus menggiatkan sosialisasi Alkitab Terjemahan Baru 2 (TB2) sebagai bagian dari program pelayanan Kitab Suci tahun 2026. Kali ini, sosialisasi menyasar Forum Kerja Sama Kaum Religius (FKKR) se-Dekenat Larantuka yang berlangsung di Aula Lamennais, Sarotari, Senin (25/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 16.30–18.00 WITA tersebut diikuti 53 biarawan dan biarawati dari berbagai kongregasi yang berkarya di wilayah Dekenat Larantuka. Sosialisasi dibawakan langsung oleh Ketua Delegatus Kitab Suci Keuskupan Larantuka, Sr. M. Ernesta, PRR.
Dalam pemaparannya, Sr. Ernesta menegaskan bahwa kehadiran Alkitab Terjemahan Baru 2 bukan untuk mengubah isi maupun pesan Kitab Suci, melainkan membantu umat memahami sabda Allah dengan bahasa yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.
“TB2 hadir untuk membersihkan lensa bahasa agar pesan kuno kembali terlihat dengan lebih presisi. Bahasa terus berubah dari generasi ke generasi, sehingga diperlukan pembaruan agar umat dapat menangkap makna Kitab Suci secara tepat,” jelas Sr. Ernesta.
Menurutnya, pembaruan dalam TB2 berangkat dari kebutuhan untuk menghadirkan teks Kitab Suci yang semakin mudah dipahami tanpa kehilangan makna asli yang terkandung dalam teks sumber.
Sr. Ernesta menjelaskan bahwa terdapat empat pilar utama dalam proses restorasi makna TB2. Pertama, tata bahasa dan ejaan, yakni penyesuaian dengan kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) terbaru untuk meningkatkan ketepatan bahasa.
Kedua, pembaruan kosa kata, yaitu mengganti kata-kata yang sudah usang, memiliki makna ganda, atau mengalami pergeseran arti yang cukup jauh dalam perkembangan bahasa saat ini.
Ketiga, presisi penerjemahan, yakni penyempurnaan kalimat agar lebih sesuai dengan struktur gramatikal bahasa sumber, terutama bahasa Ibrani dan Yunani.
Keempat, konteks sumber dan kosmologi, yaitu penyesuaian berdasarkan pemahaman terbaru terhadap teks kuno serta latar belakang budaya dan pandangan dunia masyarakat pada zaman Kitab Suci ditulis.
Ketua Delkit Keuskupan Larantuka berharap melalui sosialisasi ini para biarawan dan biarawati semakin memahami TB2 sehingga mampu membantu umat dalam pelayanan pewartaan Sabda Allah di tempat tugas masing-masing.
Selain sosialisasi TB2, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 dengan tema “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Menemukan Wajah Yesus Sang Pengajar Ilahi dalam Injil Matius.”
Para biarawan dan biarawati diharapkan dapat menjadi fasilitator BKSN 2026 di komunitas maupun wilayah pelayanan masing-masing, sehingga gerakan mencintai Kitab Suci semakin berkembang di tengah umat.
Ketua FKKR se-Dekenat Larantuka, Sr. Yasinta, DST, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Keuskupan Larantuka, khususnya kepada Delegatus Kitab Suci, yang telah memberikan pendampingan melalui sosialisasi TB2 dan pengenalan bahan BKSN 2026.
“Kegiatan ini sangat membantu kami dalam pelayanan Sabda kepada umat,” ungkap Sr. Yasinta.
Kegiatan sosialisasi ditutup dengan doa Angelus dan kebersamaan dalam suasana kekeluargaan melalui acara santap bersama. Melalui kegiatan ini, Delkit Keuskupan Larantuka terus menguatkan komitmen agar Kitab Suci semakin dikenal, dipahami, dan dihidupi oleh seluruh umat. (Flory Herin)

You may also like