800-an Anak dan Remaja Misioner Padati Riangkemie: Uskup Buka Jambore Dekenat Larantuka

 Sukacita iman, semangat persaudaraan, dan kekayaan budaya mewarnai pembukaan Jambore Anak-Remaja Misioner Dekenat Larantuka 2026 di Paroki Santo Yosef Riangkemie, Jumat, 9 Oktober 2026. Sebanyak 800-an anak dan remaja misioner dari 22 paroki dan satu titik pelayanan hunian sementara (Huntara) berkumpul untuk merayakan persatuan dalam Kristus sekaligus memperbarui semangat perutusan sebagai saksi Injil.

by Komsos Keuskupan Larantuka

RIANGKEMIE, Komsos Larantuka — Sukacita iman, semangat persaudaraan, dan kekayaan budaya mewarnai pembukaan Jambore Anak-Remaja Misioner Dekenat Larantuka 2026 di Paroki Santo Yosef Riangkemie, Jumat, 9 Oktober 2026. Sebanyak 800-an anak dan remaja misioner dari 22 paroki dan satu titik pelayanan hunian sementara (Huntara) berkumpul untuk merayakan persatuan dalam Kristus sekaligus memperbarui semangat perutusan sebagai saksi Injil.

Mengusung tema “One in Christ, United in Mission” atau “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi”, jambore ini menjadi ruang perjumpaan bagi anak dan remaja untuk mempererat persahabatan, merayakan keberagaman budaya, dan bertumbuh dalam iman serta semangat misioner.

800-an Anak dan Remaja Misioner Padati Riangkemie

Dari Rumah Dekenat, Berarak Menuju Riangkemie

Rangkaian kegiatan diawali di Rumah Dekenat Larantuka dengan registrasi peserta dan animasi bersama. Suasana penuh kegembiraan tampak ketika anak dan remaja dari berbagai paroki berkumpul, saling menyapa, bernyanyi, dan mempersiapkan diri mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Sebelum bertolak menuju Riangkemie, para peserta dilepas oleh Ketua Karya Misi Kepausan Indonesia (KMKI) Keuskupan Larantuka, Romo Silu Wutun. Rombongan kemudian berarak menyusuri jalan-jalan Kota Larantuka menuju Paroki Santo Yosef Riangkemie. Perarakan ini menjadi ungkapan sukacita iman sekaligus kesaksian tentang semangat generasi muda Gereja yang bersatu dalam Kristus dan siap menjalankan misi.

Kedatangan peserta disambut meriah dengan penampilan drumband SMPK Maria Goreti Riangkemie, tarian adat, dan sapaan adat dari Keba Baipito. Kekayaan tradisi setempat menghadirkan suasana penerimaan yang hangat sekaligus menegaskan bahwa budaya menjadi bagian penting dalam membangun persaudaraan.

Prosesi penyambutan dilengkapi dengan pengalungan kepada Ketua KMKI Keuskupan Larantuka, Moderator KMKI Dekenat Larantuka, Ketua KMKI Dekenat Larantuka, serta perwakilan pastor yang melayani umat di Huntara.

800-an Anak dan Remaja Misioner Padati Riangkemie

“Kamu Diutus dan Kami Menerima dengan Sukacita”

Dalam sapaan awal, Pastor Paroki Santo Yosef Riangkemie, Romo Andreas Fernandez, menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta. Ia mengungkapkan kegembiraan umat atas kehadiran ratusan anak dan remaja misioner yang datang dari berbagai paroki.

“Kami sangat bersukacita karena dikunjungi. Kamu diutus dan kami menerima dengan sukacita,” ungkapnya.

Sukacita tersebut tidak berhenti pada seremoni penyambutan. Umat mewujudkannya melalui keterlibatan nyata dengan membuka rumah-rumah mereka bagi para peserta yang mengikuti kegiatan live in di Kelompok Basis Gerejani (KBG) wilayah Lingkungan Riangkemie dan Lewohala.

Melalui pengalaman tinggal bersama keluarga umat, anak dan remaja belajar menerima dan diterima, berbagi kehidupan, serta membangun persaudaraan melampaui batas paroki dan latar belakang. Keramahan keluarga-keluarga tersebut menjadi pengalaman konkret tentang Gereja sebagai rumah bersama, tempat setiap orang diterima dan dikasihi.

800-an Anak dan Remaja Misioner Padati Riangkemie

Parade Budaya Merayakan Keberagaman

Pada sore hari, semangat persaudaraan diwujudkan melalui Parade Budaya. Setiap paroki menampilkan kekhasan tradisinya melalui pakaian adat yang beragam, menghadirkan warna-warni budaya dalam satu perarakan.

Sambil menyanyikan lagu-lagu Sekami, anak dan remaja mengikuti rute yang telah disiapkan. Penampilan mereka menjadi ungkapan kebanggaan terhadap identitas budaya sekaligus kesempatan untuk mengenal dan menghargai kekayaan tradisi satu sama lain.

Parade ini menyampaikan pesan bahwa persatuan tidak mengharuskan semua orang menjadi sama. Keberagaman justru menjadi kekayaan ketika setiap orang bersedia berjalan bersama, saling menghargai, dan berakar pada iman yang sama.

Di tengah warna-warni pakaian adat dan sukacita nyanyian, para peserta memperlihatkan bahwa semangat misi dapat tumbuh melalui persahabatan, keterbukaan, dan penghargaan terhadap sesama.

800-an Anak dan Remaja Misioner Padati Riangkemie

Uskup Larantuka Pimpin Ekaristi Pembukaan

Usai Parade Budaya, seluruh peserta mengikuti Perayaan Ekaristi pembukaan Jambore Anak-Remaja Misioner Dekenat Larantuka 2026 yang dipimpin langsung oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro.

Perayaan ini dihadiri para imam, diakon, pendamping, serta umat yang turut mendukung penyelenggaraan jambore.

Dalam homilinya, Bapa Uskup menyapa anak dan remaja dari berbagai paroki dengan suasana akrab dan penuh kegembiraan. Ia menekankan pentingnya membangun kesatuan, bukan sekadar melalui kehadiran bersama dalam satu kegiatan, melainkan melalui sikap saling menghargai, menjaga persahabatan, dan menggunakan energi serta kreativitas untuk membangun kehidupan bersama.

Anak dan remaja diajak menjadi pribadi yang membawa kebaikan, kedamaian, dan persaudaraan di tengah keluarga, sekolah, Gereja, maupun masyarakat. Mereka tidak dipanggil untuk menciptakan perpecahan, melainkan untuk merawat persatuan dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut menegaskan bahwa identitas sebagai anak dan remaja misioner harus tampak dalam tindakan nyata. Semangat misi bukan hanya diungkapkan melalui kata-kata dan kegiatan, tetapi juga melalui keberanian untuk mengasihi, kesediaan untuk berbagi, dan komitmen untuk menjadi pembawa damai.

800-an Anak dan Remaja Misioner Padati Riangkemie

“Sebelum Bermisi, Hal Utama Adalah Berjumpa dengan Tuhan Yesus”

Setelah Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan seremoni pembukaan di arena utama. Dalam sambutannya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menginisiasi dan mempersiapkan kegiatan tersebut.

Bapa Uskup mengingatkan bahwa seluruh rangkaian jambore hendaknya mengantar anak dan remaja pada pengalaman perjumpaan pribadi dengan Yesus Kristus.

“Semua kegiatan ini mengantar kita untuk bertemu dengan Tuhan Yesus. Sebelum bermisi, hal utama adalah berjumpa dengan Tuhan Yesus. Kita alami perjumpaan itu dengan teman, orang tua di penginapan, dan pendamping. Kita akhirnya diharapkan dapat menjadi saksi Kristus setelah kegiatan ini,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi inti spiritualitas jambore. Misi tidak pertama-tama dimulai dari banyaknya kegiatan, meriahnya perayaan, atau kemampuan menampilkan kreativitas, tetapi dari perjumpaan dengan Kristus yang mengubah hati dan menggerakkan seseorang untuk melayani sesama.

Perjumpaan itu dialami melalui doa dan Ekaristi, tetapi juga melalui persahabatan dengan teman-teman, keramahan keluarga yang menerima peserta, serta pendampingan para animator dan animatris. Setiap pengalaman menjadi kesempatan untuk mengenali kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Bapa Uskup berharap pengalaman jambore tidak berhenti ketika kegiatan berakhir. Para peserta diharapkan kembali ke paroki masing-masing dengan semangat baru untuk menjadi saksi Kristus melalui tindakan sederhana yang menghadirkan kasih, kepedulian, dan persaudaraan.

Didampingi Ketua KMKI Keuskupan Larantuka, Ketua KMKI Dekenat Larantuka, Pater Amor, CSSR, dan Pastor Paroki Riangkemie, Bapa Uskup secara resmi membuka jambore dengan menabuh Gong Misi.

Tabuhan gong disambut sorak-sorai peserta, pertunjukan kembang api, dan animasi bersama yang menambah semarak suasana. Momen tersebut menandai dimulainya seluruh rangkaian kegiatan sekaligus membangkitkan antusiasme anak dan remaja untuk mengikuti agenda berikutnya.

800-an Anak dan Remaja Misioner Padati Riangkemie

Yel-Yel Anak Misioner: Kreativitas dalam Persaudaraan

Setelah seremoni pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan lomba yel-yel kategori Anak Misioner. Perlombaan ini menjadi ruang bagi setiap paroki untuk menampilkan kreativitas, kekompakan, dan semangat misioner melalui nyanyian, gerakan, serta seruan khas kelompok masing-masing.

Dewan juri terdiri atas Romo Wenslaus Herin, Romo Antonius Ago Tukan, dan Suster Suri, DST.

Setiap paroki tampil dengan ciri khas dan kreativitasnya masing-masing. Melalui yel-yel, anak-anak mengolah pesan misioner menjadi ekspresi yang dekat dengan dunia mereka, sekaligus menunjukkan keberanian, kekompakan, dan kegembiraan dalam kebersamaan.

Di tengah suasana perlombaan, persaudaraan tetap menjadi nilai utama. Anak-anak belajar bekerja sama, menghargai kreativitas kelompok lain, dan memahami bahwa setiap talenta dapat menjadi sarana untuk mewartakan kasih Kristus.

800-an Anak dan Remaja Misioner Padati Riangkemie

Remaja Misioner Mengolah Pengalaman dalam Keheningan

Setelah perlombaan yel-yel, peserta kategori Remaja Misioner diajak memasuki suasana hening untuk berefleksi dan menuliskan pengalaman mereka dalam buku refleksi TSoM yang disiapkan panitia.

Di tengah padatnya kegiatan dan semarak perayaan, keheningan menjadi kesempatan bagi para remaja untuk berhenti sejenak, menengok kembali pengalaman yang telah dijalani, dan menemukan makna di balik setiap peristiwa.

Dengan pendampingan animator dan animatris, mereka diberi ruang untuk mengenali pengalaman yang paling berkesan, memahami nilai yang diperoleh, serta merumuskan harapan dan doa bagi perjalanan hidup mereka.

Refleksi menjadi bagian penting dalam pembinaan misioner. Pengalaman jambore tidak sekadar menjadi kenangan tentang perarakan, parade budaya, Ekaristi, atau perlombaan, tetapi diolah menjadi pembelajaran iman yang diharapkan membawa perubahan sikap dan tindakan.

Melalui proses ini, remaja belajar bahwa menjadi misioner tidak hanya berarti aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi juga bersedia mendengarkan suara Tuhan, mengenali kehendak-Nya, dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

800-an Anak dan Remaja Misioner Padati Riangkemie

Dari Riangkemie, Diutus Menjadi Saksi Kristus

Hari pertama Jambore Anak-Remaja Misioner Dekenat Larantuka 2026 memperlihatkan bahwa semangat misi bertumbuh melalui banyak cara: berjalan bersama, merayakan keberagaman budaya, menerima keramahan keluarga umat, merayakan Ekaristi, mengembangkan kreativitas, dan menyediakan waktu untuk berefleksi.

Pesan Uskup Larantuka menegaskan bahwa perjumpaan dengan Yesus Kristus merupakan dasar setiap perutusan. Dari perjumpaan itu lahir keberanian untuk mengasihi, kesediaan untuk melayani, dan komitmen untuk membangun persaudaraan.

Bagi 800-an anak dan remaja misioner dari 22 paroki dan satu titik pelayanan Huntara, jambore ini menjadi kesempatan untuk mengalami Gereja sebagai rumah bersama, tempat setiap orang diterima, dihargai, dan diajak bertumbuh dalam iman.

Dari Riangkemie, mereka diharapkan kembali ke paroki dan lingkungan masing-masing bukan hanya membawa kenangan indah, melainkan juga semangat baru untuk menjadi pembawa damai, sahabat bagi sesama, dan saksi kasih Kristus.

Sebab, misi sejati tidak berakhir ketika jambore usai. Misi justru dimulai ketika setiap anak dan remaja kembali ke rumah, sekolah, dan lingkungannya, lalu menghadirkan Kristus melalui tindakan sederhana: mengasihi tanpa membeda-bedakan, menolong tanpa mengharapkan balasan, serta membangun persatuan di tengah perbedaan. (RD. Vian Watu)

You may also like