142 Posts
152 Posts
8 Posts

Jangan Biarkan Kitab Suci Berdebu di Sudut Kamar, Pesan Uskup Hans kepada 273 Penerima Krisma di Paroki Lato

Sebanyak 273 umat menerima Sakramen Krisma dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, di Gereja Paroki Santa Perawan Maria La Salette Lato, Rabu, 14 Oktober 2026. Melalui perayaan ini, para penerima Krisma diajak untuk semakin mengenal Yesus Kristus, bertumbuh dalam iman, dan berani memberikan kesaksian tentang Kristus melalui kehidupan sehari-hari.

by Komsos Keuskupan Larantuka

LATO, Komsos Larantuka — Sebanyak 273 umat menerima Sakramen Krisma dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, di Gereja Paroki Santa Perawan Maria La Salette Lato, Rabu, 14 Oktober 2026. Melalui perayaan ini, para penerima Krisma diajak untuk semakin mengenal Yesus Kristus, bertumbuh dalam iman, dan berani memberikan kesaksian tentang Kristus melalui kehidupan sehari-hari.
Dalam homilinya, Uskup Hans mengajak para penerima Sakramen Krisma untuk menyadari bahwa perjalanan iman mereka tidak terlepas dari karya Allah yang senantiasa hadir, menjemput, mengarahkan, dan menuntun manusia menuju kehidupan yang semakin dekat dengan-Nya.
Refleksi tersebut berangkat dari bacaan Kitab Suci, yakni Yehezkiel 36:24-28, Galatia 3:1-5, dan Injil Yohanes 14:23-26. Ketiga bacaan itu menjadi landasan bagi Uskup Hans untuk menjelaskan makna pembaruan hidup, peran Roh Kudus, serta tanggung jawab setiap orang yang telah menerima penguatan melalui Sakramen Krisma.
Mengawali homilinya, Uskup Hans menyoroti kata menjemput dalam bacaan pertama. Ia mengajak umat untuk merenungkan sebuah pertanyaan sederhana tetapi mendalam: siapa yang menjemput mereka sehingga dapat hadir dalam perayaan penerimaan Sakramen Krisma?
Menurutnya, Tuhanlah yang menjemput manusia. Allah tidak pernah berhenti memanggil, mengarahkan, dan menuntun umat-Nya dalam perjalanan kehidupan. Kehadiran para penerima Krisma di hadapan altar bukan sekadar perjalanan fisik menuju gereja, melainkan juga menjadi kesempatan untuk menyadari panggilan Allah yang terus bekerja dalam hidup mereka.
Penerimaan Sakramen Krisma hendaknya tidak dipandang hanya sebagai sebuah upacara keagamaan atau pemenuhan tahap tertentu dalam kehidupan menggereja. Sakramen ini merupakan bagian penting dari perjalanan iman, ketika umat diteguhkan untuk semakin mengenal Allah dan menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

273 Umat Menerima Sakramen Krisma di Paroki Lato

Dari Air Baptis Menuju Penguatan Roh Kudus
Memperjelas makna Sakramen Krisma, Uskup Hans menghubungkannya dengan pengalaman iman umat ketika menerima Sakramen Baptis. Ia menjelaskan bahwa air merupakan salah satu materi sakramental yang sangat dikenal dalam kehidupan Gereja Katolik. Melalui air dan doa Gereja, seseorang dibaptis dan dilahirkan kembali dalam kehidupan baru sebagai anak Allah.
Peristiwa pembaptisan juga mengingatkan umat akan rahmat Roh Kudus yang bekerja dalam kehidupan orang beriman. Sementara itu, dalam Sakramen Krisma, pengurapan dengan minyak Krisma menjadi tanda penguatan melalui karunia Roh Kudus bagi perjalanan iman dan perutusan umat.
Uskup Hans menegaskan bahwa Roh Kudus yang diterima umat adalah Roh yang satu dan sama. Namun, setiap orang dianugerahi karunia yang beragam. Karunia-karunia tersebut bukan untuk dibanggakan atau digunakan demi kepentingan diri sendiri, melainkan untuk membantu setiap orang menjalankan panggilannya dan membangun kehidupan bersama.
Dengan demikian, 273 umat yang menerima Sakramen Krisma dipanggil untuk menyadari bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Roh Kudus senantiasa menyertai, menguatkan, dan menuntun mereka agar mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan iman yang teguh.
Penguatan oleh Roh Kudus juga menuntut keterbukaan hati. Umat diharapkan tidak hanya menerima sakramen secara lahiriah, tetapi sungguh-sungguh membiarkan Roh Kudus bekerja dalam diri mereka sehingga terjadi perubahan sikap, cara berpikir, dan cara bertindak.

273 Umat Menerima Sakramen Krisma di Paroki Lato

Kitab Suci Jangan Hanya Disimpan di Sudut Kamar
Uskup Hans selanjutnya mengarahkan perhatian umat pada Injil Yohanes 14:23-26. Dalam Injil tersebut, Yesus menjanjikan Roh Kudus sebagai Penolong yang akan mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan para murid akan semua yang telah disampaikan-Nya.
Roh Kudus, jelasnya, membantu umat untuk memahami Kitab Suci dan semakin mengenal Yesus Kristus. Karena itu, ia mengingatkan agar Kitab Suci tidak hanya disimpan di sudut kamar atau dibiarkan menjadi buku yang jarang dibuka.
Kitab Suci harus dibaca, direnungkan, dan dihidupi. Melalui kebiasaan membaca serta merenungkan Sabda Allah, umat dapat mengenal kehendak Tuhan dan menemukan tuntunan bagi kehidupan sehari-hari.
Pesan ini menjadi penting terutama bagi para penerima Krisma yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan iman. Mengenal Yesus tidak cukup hanya melalui pelajaran agama, pengetahuan tentang ajaran Gereja, atau keikutsertaan dalam perayaan Ekaristi. Pengenalan akan Kristus perlu dibangun melalui relasi pribadi dengan-Nya, yang dipelihara dalam doa, pendalaman Kitab Suci, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan menggereja.
Sabda Allah yang direnungkan juga harus menjadi pedoman dalam menghadapi persoalan kehidupan. Ketika berhadapan dengan pilihan yang sulit, perselisihan, godaan, atau pengaruh lingkungan yang tidak sejalan dengan iman, umat perlu membiarkan Sabda Tuhan menerangi hati dan membimbing keputusan mereka.
Dengan demikian, karya Roh Kudus tidak berhenti pada pengalaman sakramental, tetapi terus berlangsung dalam kehidupan nyata setiap orang yang bersedia membuka diri terhadap tuntunan-Nya.

273 Umat Menerima Sakramen Krisma di Paroki Lato

Jangan Kembali kepada Berhala dan Meninggalkan Kristus
Mengulas bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia, Uskup Hans mengangkat teguran keras Paulus kepada jemaat yang dinilai tidak memahami dengan baik karya Allah dalam kehidupan mereka. Paulus bahkan menyebut mereka sebagai orang-orang bodoh karena mereka seolah-olah meninggalkan jalan iman yang telah mereka terima.
Melalui pesan tersebut, Uskup Hans mengingatkan para penerima Krisma agar tidak kembali kepada berhala atau hal-hal yang menjauhkan mereka dari Allah yang benar.
Peringatan ini tidak hanya berkaitan dengan penyembahan berhala dalam pengertian harfiah, tetapi juga mengajak umat untuk memeriksa kembali apa yang sungguh-sungguh menjadi pusat kehidupan mereka. Segala sesuatu yang mengambil tempat Allah, menguasai hati secara berlebihan, atau mendorong seseorang meninggalkan nilai-nilai Injil dapat menjadi penghalang dalam perjalanan iman.
Bagi para penerima Krisma, pesan ini menjadi ajakan untuk tetap setia kepada Yesus Kristus. Mereka tidak boleh membiarkan iman hanya menjadi identitas yang dikenakan ketika berada di dalam gereja, tetapi dilupakan ketika kembali ke rumah, sekolah, tempat kerja, atau lingkungan pergaulan.
Uskup Hans menghendaki agar penerimaan Sakramen Krisma menjadi momentum untuk memperbarui komitmen iman. Setelah menerima penguatan Roh Kudus, para penerima Krisma diharapkan semakin mengenal Yesus, semakin erat bersatu dengan-Nya, dan semakin berani menjadikan ajaran-Nya sebagai dasar kehidupan.
Semakin seseorang mengenal dan bersatu dengan Kristus, semakin nyata pula kehadiran Kristus melalui dirinya. Dengan kata lain, iman yang hidup seharusnya dapat dilihat dan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

273 Umat Menerima Sakramen Krisma di Paroki Lato

Krisma Bukan Akhir, Melainkan Awal Perutusan
Pesan penting yang ditekankan Uskup Hans dalam homilinya ialah bahwa Sakramen Krisma tidak boleh berhenti sebagai sebuah perayaan liturgis. Penerimaan sakramen ini membawa tanggung jawab untuk menghidupi iman dan memberikan kesaksian tentang Kristus.
Para penerima Krisma dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, lingkungan sekolah, tempat kerja, komunitas Gereja, dan masyarakat. Kesaksian tersebut tidak selalu harus dilakukan melalui kata-kata atau tindakan besar. Justru, iman sering kali menjadi nyata melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan tulus dan konsisten.
Panggilan ini juga berarti keberanian untuk mempertahankan nilai-nilai Kristiani di tengah berbagai pengaruh lingkungan. Menjadi saksi Kristus menuntut kesungguhan untuk memilih apa yang benar, sekalipun pilihan tersebut tidak selalu mudah atau populer.
Roh Kudus yang diterima dalam Sakramen menjadi sumber kekuatan bagi umat untuk menjalankan perutusan tersebut. Dengan bimbingan-Nya, para penerima Krisma diharapkan mampu bertumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya mengenal ajaran Kristus, tetapi juga menghadirkan kasih-Nya melalui perkataan dan perbuatan.
Penerimaan Sakramen Krisma di Paroki Santa Perawan Maria La Salette Lato pun menjadi momentum untuk memperbarui kehidupan iman seluruh umat. Perayaan ini mengingatkan bahwa Allah terus menjemput dan menuntun manusia, sementara setiap orang beriman dipanggil untuk menjawab panggilan itu melalui kesetiaan kepada Kristus.
Pada akhirnya, ukuran kedewasaan iman bukan semata-mata terletak pada berapa banyak sakramen yang telah diterima, melainkan pada sejauh mana rahmat Allah sungguh-sungguh mengubah kehidupan seseorang. Sakramen Krisma menjadi bermakna ketika umat semakin dekat dengan Kristus, semakin terbuka terhadap karya Roh Kudus, dan semakin berani menghadirkan wajah Kristus di tengah dunia. (@sly)

You may also like