MARI BERJALAN BERSAMA: Uskup Hans Ajak Katekis dan Guru Katolik Membangun Gereja Keuskupan Larantuka

Gereja seperti apa yang ingin kita bangun, dan manusia seperti apa yang hendak kita bentuk? Pertanyaan reflektif ini menjadi salah satu pesan utama Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, ketika mengajak para katekis dan guru Katolik di Kabupaten Lembata untuk berjalan bersama membangun Gereja yang hidup, bersatu, dan berpengharapan.

by Komsos Keuskupan Larantuka

LAMAHORA, Komsos Larantuka — Gereja seperti apa yang ingin kita bangun, dan manusia seperti apa yang hendak kita bentuk? Pertanyaan reflektif ini menjadi salah satu pesan utama Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, ketika mengajak para katekis dan guru Katolik di Kabupaten Lembata untuk berjalan bersama membangun Gereja yang hidup, bersatu, dan berpengharapan.
Ajakan tersebut disampaikan dalam pembinaan rohani bagi sekitar 370 peserta di Aula Paroki Santo Fransiskus Assisi Lamahora, Senin, 19 Oktober 2026. Para peserta terdiri atas katekis PNS dan non-PNS, ASN Katolik pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, guru Katolik di madrasah, guru Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK), serta guru Taman Seminari.
Pertemuan ini menjadi ruang penguatan iman sekaligus dialog pastoral bagi mereka yang terlibat langsung dalam pendidikan dan pembinaan iman umat. Uskup Hans tidak hanya mengajak peserta memperbarui komitmen pelayanan, tetapi juga menempatkan karya mereka sebagai bagian penting dari perjalanan pastoral Keuskupan Larantuka.
Sebelum kegiatan berlangsung, Uskup Hans disambut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata, Jamaludin Malik, bersama jajaran pegawai di kantor yang terletak di Lamahora, Kelurahan Lewoleba Timur. Kunjungan tersebut ditandai dengan penanaman pohon matoa di halaman kantor sebagai kenangan sekaligus simbol kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup.
Dalam sambutannya, Jamaludin menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kehadiran Uskup Larantuka. Ia berharap pertemuan tersebut mempererat silaturahmi dan meneguhkan komitmen para peserta untuk terus berkarya bagi umat dan masyarakat di tempat tugas masing-masing.

Kementerian Agama Kab. Lembata

Katekis Menghadirkan Allah melalui Pelayanan
Mengawali pembinaan, Uskup Hans menegaskan bahwa panggilan seorang katekis berakar pada kesediaan untuk terus mendengarkan Sabda Allah. Sabda yang tidak kelihatan itu menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus dan selanjutnya dihadirkan melalui kehidupan serta pelayanan umat beriman.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada para katekis yang telah berupaya menghadirkan Allah yang tidak kelihatan itu,” ungkapnya.
Pesan ini mengajak para peserta memandang pekerjaan bukan sekadar kewajiban administratif atau rutinitas mengajar, melainkan bagian dari perutusan untuk menghadirkan nilai-nilai Injil. Melalui pendidikan, pendampingan iman, dan pelayanan publik, mereka dipanggil membantu membentuk manusia yang beriman, berkarakter, dan peduli terhadap sesama.
Uskup Hans menjelaskan bahwa kehadirannya juga dimaksudkan untuk mendengarkan pengalaman, pandangan, dan pergumulan para katekis yang memiliki kedekatan dengan umat. Bagi dia, pembangunan Gereja tidak dapat dilakukan seorang diri, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh anggota sesuai panggilan dan tanggung jawab masing-masing.
“Saya datang mengajak untuk berjalan bersama. Kita sama-sama mau menjawab pertanyaan ini: Gereja seperti apa yang ingin kita bangun dan manusia seperti apa yang akan kita bentuk?” tegasnya.
Pertanyaan tersebut menjadi undangan bagi para katekis, guru, dan ASN Katolik untuk melihat kembali kontribusi mereka dalam kehidupan Gereja. Tugas pendidikan dan pelayanan akan semakin bermakna apabila dijalankan dengan kesadaran bahwa setiap pekerjaan merupakan kesempatan untuk menumbuhkan iman, persaudaraan, dan kepedulian sosial.

Kementerian Agama Kab. Lembata

Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan
Dalam pembinaannya, Uskup Hans menguraikan moto episkopalnya, Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes, yang bersumber dari Efesus 4:4: satu tubuh, satu Roh, dan satu pengharapan.
Moto tersebut, jelasnya, bukan sekadar semboyan seorang uskup, melainkan ungkapan iman tentang hakikat Gereja dan panggilan seluruh umat untuk hidup dalam kesatuan.
Melalui Unum Corpus, Gereja dipahami sebagai satu tubuh, yakni Tubuh Kristus yang terdiri atas banyak anggota. Setiap anggota memiliki tugas dan karunia berbeda, tetapi semuanya dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan serta perutusan Gereja. Karena itu, kesatuan tidak berarti menyeragamkan peran, melainkan menyatukan perbedaan demi pertumbuhan bersama.
Kesatuan tersebut menemukan ungkapan istimewa dalam perayaan Ekaristi, ketika umat berhimpun dan berpartisipasi dalam perayaan yang berpusat pada Kristus. Bahkan, jawaban “Amin” bukan sekadar ucapan liturgis, melainkan ungkapan iman dan keterlibatan umat dalam perayaan serta kehidupan Gereja.
Sementara itu, Unus Spiritus menegaskan bahwa Roh Kudus merupakan sumber kehidupan dan daya penggerak Gereja. Melalui Sakramen Baptis, umat menerima kehidupan baru dalam Kristus, sedangkan Sakramen Krisma meneguhkan mereka dengan karunia Roh Kudus untuk semakin dewasa dalam iman dan terlibat dalam perutusan Gereja.
Uskup Hans mengingatkan bahwa meskipun Roh yang menghidupkan Gereja adalah satu, karunia yang diterima setiap orang berbeda-beda. Perbedaan itu bukan alasan untuk bersaing, merasa lebih unggul, atau berjalan sendiri-sendiri. Sebaliknya, setiap karunia harus digunakan untuk melayani dan membangun kehidupan bersama.
Adapun Una Spes berarti satu pengharapan. Pengharapan inilah yang menjaga Gereja agar tetap setia pada perutusannya, termasuk ketika menghadapi berbagai tantangan. Gereja memang memiliki dimensi manusiawi yang tampak dalam struktur, lembaga, dan kehidupan umat, tetapi sekaligus merupakan kenyataan rohani yang bersumber dari Kristus.
Kesadaran ini mengajak setiap orang untuk melayani dengan rendah hati, menghargai kontribusi sesama, dan tidak menjadikan dirinya sebagai pusat kehidupan Gereja. Yang terutama bukanlah siapa yang paling menonjol, melainkan bagaimana setiap orang mengambil bagian dalam mewujudkan perutusan bersama.

Kementerian Agama Kab. Lembata

Ekaristi Harus Mengubah Kehidupan
Uskup Hans selanjutnya menghubungkan kehidupan liturgi dengan tanggung jawab umat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan merujuk pada pemikiran Paus Fransiskus dalam dokumen Desiderio Desideravi tentang pembinaan liturgi, ia menegaskan bahwa liturgi tidak boleh berhenti pada perayaan di dalam gereja, tetapi harus membentuk cara umat hidup dan bertindak.
Ekaristi seharusnya berlanjut dalam cara seseorang bekerja, mendidik, melayani, membangun persaudaraan, dan memperjuangkan kebaikan bersama. Iman yang dirayakan dalam liturgi mesti tampak dalam sikap dan keputusan sehari-hari. Dengan demikian, liturgi menjadi sumber pembentukan iman yang menggerakkan umat untuk menghadirkan kasih Kristus di tengah masyarakat.
Dalam kerangka itu, Keuskupan Larantuka akan mengarahkan perhatian pastoral pada Tahun Formasi Liturgi 2027. Langkah ini diharapkan memperdalam pemahaman umat bahwa kehidupan Kristiani tidak dapat dipisahkan dari liturgi yang dirayakan dan dihidupi.
Uskup Hans juga mengajak peserta memahami empat gerakan pastoral: berjumpa, menjadi, diutus, dan mengubah. Melalui perjumpaan, umat membangun relasi yang menghidupkan iman. Dalam proses menjadi, mereka bertumbuh semakin serupa dengan Kristus. Sebagai orang yang diutus, mereka membawa kabar baik melalui pelayanan konkret. Pada akhirnya, kehadiran mereka diharapkan menghasilkan perubahan positif dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.
Bagi para katekis dan guru Katolik, empat gerakan ini memiliki makna nyata. Ruang kelas, lingkungan kerja, komunitas basis, dan kehidupan keluarga dapat menjadi tempat perjumpaan dengan sesama sekaligus ruang untuk menumbuhkan iman, mengembangkan karakter, dan memperjuangkan nilai-nilai Injil.

Kementerian Agama Kab. Lembata

Pembinaan rohani di Lamahora ini menegaskan bahwa masa depan Gereja tidak hanya ditentukan oleh program dan struktur, tetapi juga oleh kualitas iman serta kesediaan setiap orang untuk mengambil bagian dalam perutusan bersama.
Melalui moto Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes, Uskup Hans mengajak para katekis, guru, dan ASN Katolik untuk membangun Gereja sebagai satu tubuh yang digerakkan oleh Roh Kudus dan berjalan dalam satu pengharapan.
Ajakan untuk berjalan bersama itu pada akhirnya menuntut lebih dari sekadar kebersamaan dalam pertemuan. Kesatuan harus tampak dalam cara mendidik, melayani, menghargai perbedaan, dan memperjuangkan kebaikan bersama. Sebab, Gereja yang ingin dibangun bukan hanya Gereja yang berkumpul untuk merayakan iman, melainkan Gereja yang membawa buah iman ke tengah kehidupan manusia. (@sly)

You may also like