LARANTUKA, Komsos Larantuka — Semangat untuk semakin mencintai, memahami, dan mewartakan Sabda Allah kembali digelorakan oleh Forum Katekis Kabupaten Flores Timur melalui kegiatan pembekalan fasilitator Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (24/8/2026) bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur ini menjadi ruang penguatan kapasitas bagi para guru Pendidikan Agama Katolik dan penyuluh agama Katolik dalam mendampingi umat menghidupi Kitab Suci.
Kegiatan pembekalan tersebut diikuti oleh para katekis yang tergabung dalam Forum Katekis Kabupaten Flores Timur. Hadir sebagai pemateri utama Delegatus Kitab Suci Keuskupan Larantuka, Suster Ernesta, PRR, yang memberikan pendalaman berkaitan dengan tema BKSN 2026: “Yesus Guru yang Penuh Kuasa, Wajah Yesus dalam Injil Matius.”
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Seksi Urusan Agama Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Paulus Pedro, Kepala Seksi Pendidikan Agama Katolik Adrianus B. Hariwala, serta Kasubag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Petrus Wai Leton.
Koordinator Forum Katekis Kabupaten Flores Timur, Dom Karwayu, dalam sambutannya mengajak seluruh peserta untuk mensyukuri rahmat kehidupan dan kesempatan untuk kembali merayakan Bulan Kitab Suci Nasional sebagai momentum istimewa bagi umat Katolik untuk semakin dekat dengan Sabda Allah.
Menurut Dom, BKSN bukan hanya sebuah agenda tahunan, tetapi menjadi kesempatan bagi seluruh umat untuk memperbarui hubungan dengan Tuhan melalui Kitab Suci. Karena itu, para katekis memiliki tanggung jawab besar untuk membantu umat menemukan wajah Yesus melalui permenungan Firman Tuhan.
“Katekis adalah garda terdepan dalam pembinaan iman umat. Kita dipanggil untuk memberikan diri dalam tugas pelayanan yang mulia ini, sehingga umat semakin mengenal, mencintai, dan menghidupi Sabda Allah,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dom juga mengutip pesan Santo Hieronimus yang mengatakan bahwa seseorang yang tidak mengenal Kitab Suci tidak akan sungguh mengenal Kristus. Pesan tersebut menjadi ajakan bagi para katekis agar tidak hanya membaca dan memahami Kitab Suci secara pribadi, tetapi juga mampu menghadirkannya dalam kehidupan umat melalui pendampingan iman.
Dom Karwayu menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Uskup Larantuka yang telah memberikan perhatian terhadap pembinaan Kitab Suci dengan mengutus Delegatus Kitab Suci Keuskupan Larantuka untuk mendampingi para katekis.
Sementara itu, Kasubag Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Petrus Wai Leton, mengajak seluruh peserta untuk mengawali kegiatan dengan mendoakan para korban gempa bumi Flores. Ia juga memberikan apresiasi kepada Forum Katekis yang terus mengambil bagian dalam pelayanan dan pembinaan iman umat.
Menurutnya, peran guru agama Katolik dan penyuluh agama Katolik sangat strategis dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat.
“BKSN bukan sekadar kegiatan seremonial. Melalui BKSN, kita belajar menggali nilai-nilai iman dari Firman Tuhan dan menjadikannya sebagai kekuatan dalam menjalankan tugas pelayanan,” katanya.
Dalam sesi pembekalan, Suster Ernesta, PRR, mengajak para peserta mendalami Kitab Suci secara lebih kontekstual. Melalui dialog, diskusi, dan refleksi bersama, para peserta diajak memahami bagaimana menghadirkan pesan Injil Matius dalam realitas kehidupan umat saat ini.
Selain pendalaman tema BKSN, Suster Ernesta juga memberikan pemahaman mengenai perkembangan terjemahan baru Alkitab. Para katekis diharapkan semakin mampu menggunakan Kitab Suci secara tepat dalam kegiatan pendampingan iman, baik di lingkungan keluarga, komunitas basis gerejani, maupun kelompok umat lainnya.
Para peserta mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Berbagai pengalaman pelayanan dibagikan sebagai bentuk refleksi bersama tentang bagaimana BKSN dapat menjadi sarana pembaruan iman umat.
Melalui kegiatan pembekalan ini, Forum Katekis Kabupaten Flores Timur berharap para fasilitator BKSN 2026 semakin siap menjalankan tugas perutusan. Kitab Suci tidak hanya menjadi bahan pembelajaran, tetapi sungguh menjadi Sabda yang hidup: dibaca, direnungkan, dihayati, dan diwujudkan dalam pelayanan kasih kepada sesama. (Apol S.)
118
