KAMI BUKAN PEWARIS KERUSAKAN ALAM: OMK Waiwadan Bergerak Menyelamatkan Rumah Bersama

WAIWADAN, Komsos Larantuka – Orang Muda Katolik (OMK) Paroki St. Maria Goreti Waiwadan, Dekenat Adonara, mengikuti Lokakarya Laudato Si yang diselenggarakan oleh Caritas Keuskupan Larantuka dalam Program Harvest 2.0 (29 Mei 2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi, dialog, dan perumusan aksi nyata kaum muda dalam menjawab krisis lingkungan hidup yang semakin mengkhawatirkan.
Lokakarya ini berangkat dari semangat Ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015. Dalam dokumen tersebut, umat manusia diajak untuk menyadari bahwa bumi adalah “rumah bersama” yang saat ini sedang mengalami berbagai ancaman serius akibat perubahan iklim, pemanasan global, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial. Refleksi tersebut dipadukan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang menawarkan harapan dan arah pembangunan manusia yang lebih berkeadilan dan ramah lingkungan.
Dalam lokakarya ini, para peserta diajak mendalami enam bab utama Ensiklik Laudato Si’, mulai dari kesadaran akan kondisi bumi yang semakin rusak, penghayatan akan keindahan ciptaan Allah, pengakuan bahwa banyak kerusakan berakar pada ulah manusia, hingga pentingnya membangun ekologi integral melalui pendidikan, dialog, pertobatan ekologis, dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Lokakarya Laudato Si – OMK Paroki Waiwadan

Bumi yang Berseru kepada Generasi Muda
Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah penyusunan “Narasi Imaginatif Alam”, sebuah monolog yang menempatkan bumi sebagai subjek yang berbicara kepada manusia. Dalam narasi tersebut, bumi digambarkan sebagai “rahim kehidupan” yang telah ada sebelum manusia ada. Alam menyampaikan keluhannya karena hutan dirusak, sungai dicemari, udara tercemar, dan keanekaragaman hayati terus berkurang akibat gaya hidup manusia yang semakin menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap ciptaan.
Melalui narasi itu, OMK diajak untuk menyadari bahwa kemajuan teknologi dan gaya hidup modern sering kali membuat manusia semakin terputus dari realitas alam yang menjadi sumber kehidupannya. Alam menyerukan pertobatan dan mengajak manusia kembali membangun relasi yang harmonis dengan bumi sebagai rumah bersama.
Mengakui Dosa Ekologis
Dalam sesi berikutnya, para peserta menyusun Litani Dosa yang menggambarkan berbagai bentuk kerusakan relasi manusia dengan Allah, sesama, semesta, dan diri sendiri. Mereka mengakui bahwa manusia sering bertindak seolah-olah menjadi pencipta, melupakan Tuhan sebagai sumber kehidupan, bersikap egois terhadap sesama, mengeksploitasi alam tanpa tanggung jawab, serta terjebak dalam budaya pamer dan penggunaan media sosial yang berlebihan.
Melalui refleksi ini, OMK menyadari bahwa krisis lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan alam, tetapi juga merupakan cerminan dari rusaknya relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Karena itu, pertobatan ekologis harus dimulai dari perubahan hati dan gaya hidup.

Lokakarya Laudato Si – OMK Paroki Waiwadan

Menyampaikan Kritik terhadap Berbagai Lembaga
Sebagai bagian dari proses refleksi sosial, peserta juga menyampaikan kritik konstruktif kepada lembaga agama, politik, dan ekonomi. Terhadap lembaga agama, OMK menyoroti masih kurangnya tindakan nyata dalam isu lingkungan hidup serta minimnya pendidikan ekologis yang berkelanjutan. Mereka berharap Gereja tidak hanya menyampaikan pesan lingkungan dari mimbar, tetapi juga membimbing umat melalui aksi konkret.
Kepada lembaga politik, para peserta mengkritisi berbagai kebijakan pembangunan yang dinilai kurang memperhatikan keberlanjutan lingkungan, termasuk perampasan lahan, maraknya proyek tambang, dan lemahnya perhatian terhadap Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL). Sementara itu, terhadap lembaga ekonomi, mereka menyoroti praktik-praktik yang merusak ekosistem darat dan laut serta kecenderungan mengejar keuntungan tanpa memperhatikan kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat kecil.

Lokakarya Laudato Si – OMK Paroki Waiwadan

Merumuskan Aksi Nyata
Tidak berhenti pada kritik, para peserta juga menyusun berbagai rencana aksi sebagai bentuk komitmen mereka terhadap gerakan ekologi integral. Dalam relasi dengan Allah, OMK berkomitmen mengadakan misa dan ibadat ekologis, memperdalam refleksi Kitab Suci tentang ciptaan, serta membangun pertobatan ekologis melalui Sakramen Pengampunan.
Dalam relasi dengan sesama, mereka berencana menghidupkan kembali budaya gotong royong atau gemohing, melaksanakan aksi sosial bagi kelompok lemah, miskin, tertindas, dan difabel, serta mendukung ekonomi lokal melalui penggunaan produk-produk hasil karya masyarakat sekitar.
Untuk menjaga semesta, OMK berkomitmen melakukan penanaman mangrove, reboisasi kawasan kritis dan sumber mata air, membersihkan lingkungan serta daerah aliran sungai, dan mendorong penggunaan pestisida organik yang lebih ramah lingkungan. Sementara itu, dalam relasi dengan diri sendiri, mereka bertekad mengurangi penggunaan plastik, menghemat energi dan air, serta menerapkan pola hidup sehat dengan mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang berdampak buruk bagi kesehatan.

Lokakarya Laudato Si – OMK Paroki Waiwadan

Menyongsong Matahari dengan Harapan
Lokakarya ditutup dengan doa bersama bertajuk “Menyongsong Matahari”. Dalam doa tersebut, OMK memohon ampun atas sikap acuh tak acuh terhadap lingkungan, sekaligus memohon rahmat agar menjadi generasi yang bertanggung jawab menjaga bumi. Mereka juga menyatakan kerinduan akan bumi yang subur, sungai yang jernih, udara yang bersih, dan kehidupan yang harmonis antara manusia dan alam.
Melalui kegiatan ini, Caritas Keuskupan Larantuka bersama OMK Paroki St. Maria Goreti Waiwadan menegaskan bahwa kaum muda memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam menghadapi krisis ekologi zaman ini. Lokakarya ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran, memperkuat spiritualitas ekologis, serta mendorong lahirnya aksi nyata yang berakar pada relasi yang sehat dengan Allah, sesama, semesta, dan diri sendiri.
“Sudah waktunya dan seharusnya: Kita Bisa!” Demikian seruan penutup yang menggema dari hasil lokakarya tersebut, menjadi harapan bahwa generasi muda mampu bergerak dari kesadaran menuju pertobatan ekologis yang sejati, dari refleksi menuju gaya hidup yang lebih integral, dan dari niat baik menuju tindakan nyata demi merawat rumah bersama. (RD. Yansen Raring)

You may also like