PRAKTISI YANG BERTEORI: Belajar Pemberdayaan Ekonomi dari Pengalaman Nyata

WAIWERANG, Komsos Larantuka – Dekenat Adonara menggelar rekoleksi bulanan pada 2–4 Juni 2026 di Rumah Dekenat Adonara, Waiwerang. Selain diisi dengan kegiatan rohani berupa renungan, perayaan Ekaristi, dan refleksi bersama, rekoleksi kali ini menghadirkan sebuah agenda istimewa, yakni sharing tentang pemberdayaan ekonomi bersama para praktisi yang telah lama bergelut di bidang tersebut.
Peserta rekoleksi yang terdiri dari para imam, frater yang berkarya di Dekenat Adonara, serta sejumlah tokoh awam yang diundang secara khusus, mendapat kesempatan belajar langsung dari pengalaman empat narasumber, yaitu Bapak Matias Mia Medo, Bapak Yulius Suban Mengu, Bapak Feliks Lamatwelu, dan Bapak Boro Yakobus.
Kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus refleksi atas salah satu agenda penting Tahun Pastoral Keuskupan, yakni “Pemberdayaan Ekonomi Sebagai Ekspresi Iman”. Kehadiran para praktisi tersebut menjadi ruang belajar yang sangat berharga bagi Gereja untuk memahami lebih dekat dinamika perjuangan ekonomi umat.
Dalam refleksi yang berkembang selama rekoleksi, para peserta menyadari bahwa pemberdayaan ekonomi merupakan bidang yang membutuhkan pengalaman, kompetensi, dan keterlibatan nyata. Kesadaran akan keterbatasan pengalaman tersebut menjadi ungkapan kerendahan hati untuk belajar dari mereka yang telah lebih dahulu menapaki jalan pemberdayaan.
Melibatkan umat yang memiliki pengalaman dalam bidang ekonomi juga menjadi tanda keterbukaan Gereja untuk mendengarkan, belajar, sekaligus memberikan penghargaan kepada umat yang selama ini berjuang membangun kehidupan mereka melalui berbagai usaha ekonomi. Langkah ini sekaligus menunjukkan kehendak kuat Gereja untuk menjadikan Tahun Pastoral tidak sekadar slogan, tetapi sungguh menyentuh realitas kehidupan umat sehari-hari.
Sharing para praktisi menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari tiga aspek yang saling berkaitan, yaitu keterlibatan, pembelajaran, dan aksi nyata.
Pertama, keterlibatan. Para narasumber menunjukkan bahwa keberhasilan pemberdayaan selalu berawal dari keterlibatan langsung dan kemampuan melibatkan pihak lain, baik komunitas, pemerintah maupun pasar. Tanpa keterlibatan, proses belajar dan perubahan tidak akan terjadi.
Kedua, pembelajaran. Pengalaman mereka membuktikan bahwa metode paling efektif dalam pemberdayaan adalah “learning in action” atau belajar sambil melakukan. Banyak usaha yang dimulai dari ketidaktahuan, bahkan dari bidang yang sama sekali baru. Namun melalui proses mencoba, gagal, mencoba lagi, dan terus belajar, usaha tersebut akhirnya berkembang. Dalam konteks ini, kecerdasan ketekunan atau Adversity Quotient (AQ) terbukti memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan seseorang.
Ketiga, aksi nyata. Pemberdayaan pada hakikatnya bersifat action oriented. Ia bukan sekadar wacana atau teori, melainkan tindakan konkret yang menghasilkan perubahan. Spiritualitas inkarnasi yang menjadi dasar kehidupan Gereja menuntut agar nilai-nilai iman diterjemahkan dalam tindakan nyata. Karena itu, etos kerja, pola pikir yang benar, budaya kerja yang sehat, serta kemampuan tata kelola dan manajemen risiko menjadi faktor penting dalam setiap upaya pemberdayaan ekonomi.

Sharing Pemberdayaan Ekonomi bersama: Bapak Matias Mia Medo, Bapak Yulius Suban Mengu, Bapak Feliks Lamatwelu, Bapak Boro Yakobus

Berbagai pesan reflektif yang muncul dalam sharing tersebut juga menjadi bahan permenungan bagi para peserta rekoleksi. Salah satu pesan yang mengemuka adalah ajakan agar para pelayan Gereja sungguh mengenal kehidupan umat secara dekat, “merasakan bau keringat petani, mengalami kepulan asap dan panasnya bara” perjuangan mereka sehari-hari. Gereja diingatkan untuk tidak terjebak dalam gaya hidup yang elitis dan jauh dari realitas umat.
Para narasumber juga mengingatkan bahwa pelayanan Gereja tidak berhenti pada perayaan liturgi dan pelayanan sakramen. Spiritualitas inkarnasi menghendaki kehadiran yang nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi umat. Dalam semangat itu, muncul ungkapan yang menggugah: “hidup dari menghidupkan petani”, sebuah ajakan agar pelayanan pastoral turut memberi dampak nyata bagi kesejahteraan umat.
Selain itu, pengalaman para praktisi menunjukkan bahwa peluang usaha tidak selalu bergantung pada ijazah formal. Potensi lokal yang melimpah dapat menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan apabila dikelola dengan tekun, fokus, ulet, inovatif, memiliki semangat kewirausahaan, melek digital, dan mampu berkolaborasi.
Salah satu gagasan yang menarik perhatian peserta adalah harapan agar suatu saat “umat datang doa KBG, pulang bawa doi”. Ungkapan ini menggambarkan cita-cita pemberdayaan yang tidak hanya membangun kehidupan rohani, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
Refleksi kritis juga muncul terkait berbagai beban keuangan yang dirasakan umat. Pernyataan bahwa “sorganya Gereja Katolik terlalu mahal” menjadi tamparan yang mengundang Gereja untuk mengevaluasi kembali berbagai praktik pastoral agar semakin berpihak pada umat kecil dan tidak menambah beban mereka.
Menutup rangkaian sharing tersebut, para peserta melihat adanya keterkaitan yang kuat antara pengalaman para praktisi dengan seruan “pertobatan struktural” yang digaungkan dalam Perpas II Tahun 2025. Pertobatan itu tidak cukup diwujudkan melalui kunjungan belajar atau sekolah lapangan semata, tetapi juga melalui penataan kembali pola intervensi pastoral, baik dalam pemikiran maupun praktik pelayanan Gereja.
Rekoleksi Dekenat Adonara kali ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan pengalaman nyata para pelaku pemberdayaan dengan refleksi pastoral Gereja. Para praktisi yang berbicara bukan hanya orang yang memiliki teori, melainkan mereka yang telah membuktikan teori itu dalam perjuangan hidup sehari-hari. Dari merekalah Gereja belajar bahwa pemberdayaan sejati selalu dimulai dari keterlibatan, pembelajaran yang berkelanjutan, dan keberanian untuk bertindak. (RD. Yansen Raring)

You may also like