HOKENG, Komsos Larantuka – Kabar duka menyelimuti Gereja Katolik di Flores, khusnya di Keuskupan Larantuka. Pastor Paroki Santa Maria Ratu Semesta Alam Hokeng, Pater Maximus Seno, SVD, meninggal dunia di Rumah Sakit dr. T.C. Hillers, Maumere, pada Sabtu, 30 Mei 2026, pukul 12.15 WITA. Pater Maxi mengembuskan napas terakhir setelah menderita stroke berat yang menyebabkan dirinya tidak sadarkan diri selama masa perawatan.

MISA PEMBERKATAN JENAZAH PATER MAXIMUS SENO, SVD (Lengkosambi, 1 Nopember 1957 – R.S. dt. T.C. Hillers – Maumere, 30 Mei 2026)
Pater Maximus Seno lahir di Lengkosambi pada 1 November 1957. Ia merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara, pasangan Simon Seno dan Theresia Rawi. Sejak kecil ia telah menunjukkan ketekunan dalam pendidikan. Ia menempuh pendidikan dasar di SDK Lengkosambi pada tahun 1966–1967, kemudian melanjutkannya di SDK Tanawolo pada tahun 1968–1970.
Panggilan imamat mulai bertumbuh ketika pada tahun 1971 ia masuk Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Mataloko dan menyelesaikan pendidikan tingkat SMP dan SMA di sana. Setelah itu ia melamar masuk Serikat Sabda Allah (SVD). Pada 1 Agustus 1979 ia memulai masa novisiat di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Namun karena gangguan kesehatan, ia harus menghentikan sementara masa pembinaannya untuk menjalani pemulihan. Setelah kesehatannya membaik, ia akhirnya mengikrarkan kaul pertama dalam Serikat Sabda Allah pada 1 Agustus 1982.
Sesudah mengikrarkan kaul pertama, Pater Maxi melanjutkan studi filsafat hingga selesai pada tahun 1985. Ia kemudian menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Seminari Menengah Lalian, Atambua. Sepulang dari masa pastoral tersebut pada tahun 1986, ia melanjutkan studi teologi di STFK Ledalero.
Pada 1 Agustus 1987 ia mengikrarkan kaul kekal dalam Serikat Sabda Allah dan ditempatkan di Provinsi SVD Ende. Tiga bulan kemudian, tepatnya pada 3 November 1987, ia ditahbiskan menjadi diaken oleh Mgr. Gregorius Manteiro, SVD di Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Masa diakonatnya dijalani di Paroki St. Yosef Onekore, Ende. Setahun kemudian, pada 12 Agustus 1988, ia ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD di Gereja Paroki St. Petrus dan Paulus Bekek, Riung.
Pelayanan pastoralnya dimulai sebagai Pastor Pembantu Paroki St. Yosef Onekore. Setelah tiga tahun melayani umat di sana, pada 16 Januari 1992 ia dipercaya menjadi Pastor Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Watuneso.
Sesudah dua tahun bertugas di Watuneso, Pater Maxi mendapat kesempatan mengikuti kursus pastoral di East Asian Pastoral Institute (EAPI), Manila, Filipina. Pada Mei 1994 ia berangkat ke Filipina untuk belajar bahasa Inggris dan kemudian mengikuti program pastoral hingga akhir tahun 1995.

PATER MAXIMUS SENO, SVD (Lengkosambi, 1 Nopember 1957 – R.S. dt. T.C. Hillers – Maumere, 30 Mei 2026)
Sepulang dari Manila, ia ditugaskan sebagai staf Pusat Pastoral (PUSPAS) Keuskupan Agung Ende. Selain itu, pada 2 Januari 1998 ia diangkat menjadi anggota Dewan Provinsi SVD Ende. Namun karena kebutuhan tenaga di Provinsi SVD Ende, pada akhir tahun 1999 ia kembali ke komunitas SVD dan ditunjuk sebagai Pemimpin Rumah Retret Kemah Tabor Mataloko.
Selama memimpin Rumah Retret Kemah Tabor, ia juga dipercaya menjadi Pejabat Rektor Seminari Menengah St. Paulus Mataloko. Enam tahun kemudian, pada Desember 2005, ia dibebaskan dari tugas tersebut dan pada Januari 2006 diangkat menjadi Pastor Paroki Mater Dolorosa Mangulewa.
Dalam masa pelayanannya di Mangulewa, Pater Maxi juga mengemban tanggung jawab sebagai Rektor Distrik SVD Ngada periode 2008–2011 serta anggota Dewan Distrik SVD Ngada periode 2011–2014. Pada masa inilah ia mulai mengalami gangguan kesehatan akibat penyakit tiroid yang mengharuskannya menjalani perawatan rutin di Rumah Sakit Santa Elisabeth Semarang.
Setelah bertahun-tahun berkarya di wilayah Keuskupan Agung Ende, pada tahun 2014 ia mendapat penugasan baru di Keuskupan Larantuka. Atas persetujuan Uskup Larantuka, ia ditunjuk menjadi Pastor Paroki St. Ignatius Waibalun. Selain melayani umat di Waibalun, ia juga dipercaya menjadi Wakil Rektor Distrik SVD Larantuka periode 2014–2017, kemudian Rektor Distrik SVD Larantuka selama dua periode berturut-turut, yakni 2017–2020 dan 2020–2023. Setelah itu ia tetap melayani sebagai anggota Dewan Distrik SVD Larantuka periode 2023–2026.

PATER MAXIMUS SENO, SVD (Lengkosambi, 1 Nopember 1957 – R.S. dt. T.C. Hillers – Maumere, 30 Mei 2026)
Setelah sembilan tahun berkarya di Waibalun, pada 22 September 2023 Uskup Larantuka menunjuknya menjadi Pastor Paroki Maria Ratu Semesta Alam Hokeng. Di tengah tugas barunya, bencana erupsi Gunung Lewotobi melanda wilayah tersebut dan membawa penderitaan bagi banyak umat. Dalam situasi sulit itu, Pater Maxi tetap memilih tinggal bersama umatnya. Ia mendampingi, menguatkan, dan melayani mereka dengan penuh kesetiaan.
Hingga akhir hidupnya, Pater Maximus Seno tetap menunjukkan semangat seorang gembala yang tidak meninggalkan kawanan dombanya. Dedikasi, kesederhanaan, dan kesetiaannya dalam melayani Gereja selama hampir empat dekade akan selalu dikenang oleh umat yang pernah disentuh pelayanannya.
Selamat jalan, Pater Maximus Seno, SVD. Terima kasih atas pengabdian, pelayanan, dan kebersamaan yang telah diberikan kepada Gereja dan umat Allah. Kiranya Pater beristirahat dalam damai dan menikmati kebahagiaan abadi bersama Para Kudus di surga. (@sly)

