12 TAHUN BERJUANG MEMBANGUN: Gereja Stasi Kolilerek Akhirnya Diberkati

by Komsos Keuskupan Larantuka

KALIKASA, Komsos Larantuka – Sukacita dan rasa syukur memenuhi hati umat Stasi St. Petrus Kolilerek, Paroki Kalikasa, Dekenat Lembata, dalam perayaan pemberkatan gereja baru yang berlangsung pada Kamis, 12 Juni 2026. Peristiwa bersejarah ini menjadi tonggak penting perjalanan iman umat yang selama dua belas tahun dengan suka duka dan berbagai dinamika membangun rumah ibadah sebagai pusat kehidupan rohani dan persekutuan.

Moment Misa Pemberkatan Gereja St. Petrus Kolilerek

Sejak pukul 16.30 WITA, umat stasi ini telah memadati halaman gereja. Dengan penuh antusias mereka menyambut kedatangan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, bersama rombongan. Sapaan adat yang khas serta ungkapan sukacita dari umat mengiringi langkah sang gembala memasuki area gereja. Bagi umat Kolilerek, kehadiran Uskup menjadi jawaban atas penantian panjang yang dipenuhi doa, kerja keras, dan pengorbanan.
Turut hadir dalam perayaan tersebut Deken Lembata, RD. Blasius Masang Kleden, Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq, Pastor Paroki Kalikasa RD. Emanuel Temaluru, para imam, tokoh masyarakat, para donatur, serta utusan umat dari berbagai stasi di wilayah Paroki Kalikasa. Kehadiran berbagai unsur Gereja dan pemerintah menjadi gambaran nyata bahwa pembangunan gereja merupakan buah kebersamaan dan gotong royong seluruh umat.
Sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, dilaksanakan prosesi penandatanganan prasasti oleh Uskup Larantuka di depan pintu utama gereja. Prosesi sederhana namun sarat makna itu kiranya memberikan semangat baru bagi kehidupan iman umat Stasi St. Petrus Kolilerek.
Dalam homilinya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengajak umat untuk memaknai pemberkatan gereja bukan sekadar sebagai peresmian sebuah bangunan fisik. Menurutnya, peristiwa tersebut merupakan bagian dari karya keselamatan Allah yang nyata dalam kehidupan umat beriman.
“Dalam Injil Mateus yang kita dengar, Yesus berbicara tentang misteri hidup bersama Allah. Apa yang terjadi di Kolilerek adalah bagian dari rencana Allah. Di tempat ini, karya agung Tuhan nyata melalui hadirnya rumah tempat kita memuji dan memuliakan Tuhan.” ungkap Uskup.
Uskup menegaskan bahwa hakikat Gereja tidak terletak pada kemegahan bangunan, melainkan pada umat beriman yang hidup dalam persatuan dengan Kristus. Gereja yang sejati adalah umat Allah yang dipanggil untuk menjadi saksi kasih Tuhan di tengah dunia.
“Kita adalah Gereja. Kita adalah batu-batu hidup. Jika kita membuka hati kepada Tuhan, kita akan mengalami damai dan kasih-Nya,” katanya.
Dalam ritus pemberkatan, selain keseluhan bangunan, Uskup juga memberkati altar, tabernakel, dan mimbar sabda. Ia menjelaskan makna mendalam dari ketiga unsur tersebut dalam kehidupan liturgi Gereja Katolik.
“Di altar yang diberkati ini, Yesus hadir dalam Ekaristi. Tabernakel menjadi tempat penyimpanan Sakramen Mahakudus, sementara di mimbar sabda Allah diperdengarkan kepada umat-Nya. Karena itu, mimbar bukan tempat kemarahan, melainkan tempat kita menimba kegembiraan karena kabar sukacita yang disampaikan kepada umat,” tegasnya.
Dalam refleksinya, Uskup juga mengaitkan iman Kristiani dengan nilai-nilai luhur budaya masyarakat setempat. Menurutnya, Allah yang diimani umat saat ini adalah Allah yang sejak dahulu telah dicari dan dihormati oleh para leluhur.
“Allah yang kita imani hari ini adalah Allah yang juga telah diimani oleh leluhur kita dalam ungkapan Lera Wulan Tanah Ekan. Karena itu, kita patut bersyukur atas peristiwa bersejarah ini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Stasi St. Petrus Kolilerek, Raimundus Boli Ujan, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pembangunan gereja. Ia menegaskan bahwa bangunan gereja tersebut merupakan simbol nyata perjuangan panjang umat yang dipersatukan oleh iman dan harapan.
“Bangunan ini adalah simbol perjuangan dan iman umat. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik melalui tenaga, pikiran, doa, maupun dukungan material. Semoga segala kebaikan Bapak dan Ibu sekalian dibalas oleh Tuhan sendiri. Momentum ini kiranya membangkitkan semangat iman umat di Stasi Kolilerek,” tuturnya.
Ungkapan syukur juga disampaikan oleh Pastor Paroki Kalikasa, RD. Emanuel Temaluru. Ia mengenang perjalanan panjang yang dilalui umat hingga gereja tersebut dapat diselesaikan dan diberkati.
“Pada pesta Hati Kudus Yesus ini, kita boleh memberkati gereja ini. Kita telah berjuang dan melakukan banyak hal hingga akhirnya gereja ini selesai dibangun. Terima kasih kepada para donatur, pemerintah, dan semua pihak yang terlibat, khususnya umat Stasi Kolilerek yang dengan setia bekerja dan berkorban,” katanya.
Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada umat yang telah menunjukkan semangat persatuan dan kerja sama. Menurutnya, semangat membangun gereja hendaknya juga menjadi semangat dalam membangun kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Kita harus memiliki semangat baru, semangat untuk terus berdoa dan membangun kehidupan bersama. Gereja ini memberi kenyamanan batin bagi umat. Pada saat yang sama, pemerintah sedang berupaya keras membangun ekonomi masyarakat. Mari kita berjuang bersama. Kita memiliki sumber daya alam yang baik dan perlu diberdayakan demi kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Menutup rangkaian acara, Uskup Larantuka kembali menyampaikan pesan pastoral kepada umat. Ia mengajak seluruh umat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup sebagai bagian dari tanggung jawab iman.
“Saya berharap alam yang hijau tetap hijau. Mari kita menjaga lingkungan hidup kita. Terima kasih kepada RD. Emanuel Temaluru yang telah berjuang bersama umat membangun gereja ini. Terima kasih atas segala pemberianmu untuk Tuhan. Mari kita menjaga rumah ibadat ini agar tetap sakral dan menjadi tempat perjumpaan yang mendalam dengan Allah,” pesannya.
Pemberkatan Gereja Stasi St. Petrus Kolilerek bukan sekadar perayaan atas selesainya sebuah bangunan. Peristiwa ini menjadi momentum pembaruan iman, peneguhan persaudaraan, serta ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan umat. Gereja yang kini berdiri megah di tengah masyarakat Kolilerek diharapkan menjadi pusat kehidupan rohani, tempat umat bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.
Lebih dari itu, gereja ini menjadi tanda nyata bahwa ketika umat bersatu dalam semangat pelayanan dan pengorbanan, tidak ada cita-cita yang terlalu besar untuk diwujudkan. Setelah dua belas tahun perjuangan, rumah Tuhan itu akhirnya berdiri kokoh sebagai saksi iman generasi kini sekaligus warisan berharga bagi generasi yang akan datang. Dari altar yang baru diberkati inilah doa-doa akan dipanjatkan, Sabda Allah akan terus diwartakan, dan kasih Kristus akan senantiasa dihidupi dalam kehidupan sehari-hari umat Stasi St. Petrus Kolilerek. (@sly)

You may also like