LEREK, Komsos Larantuka – Minggu, 14 Juni 2026, menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh umat Komunitas Basis Gerejawi (KBG) Motong, bagian dari Stasi Lerek, Paroki Hati Amat Kudus Lerek. Di sebuah kampung kecil yang hanya dihuni 51 jiwa dari 18 kepala keluarga, sukacita meluap ketika Kapela Santo Andreas Motong diberkati oleh Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Pada hari yang sama, Uskup juga menerimakan Sakramen Krisma kepada 139 krismawan dan krismawati dari seluruh Paroki Hati Amat Kudus Lerek.

Pemberkatan Kapela KBG St. Andreas Motong, Stasi Lerek, Paroki Hati Amat Kudus Lerek
Peristiwa bersejarah ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mewujudkan impian besar. Di tengah medan pegunungan dan jumlah umat yang sedikit, KBG Motong kini memiliki rumah ibadah sendiri. Kapela berukuran 8 x 20 meter itu berdiri kokoh sebagai lambang keteguhan iman umat yang selama ini berjuang dalam kesederhanaan.
Sejak pagi, suasana di Motong dipenuhi antusiasme. Wajah umat memancarkan sukacita besar ketika menyambut kedatangan Bapa Uskup bersama rombongan. Hadir pula dalam perayaan tersebut Sekretaris Uskup RD. Fransiskus Kwaelaga, Deken Lembata RD. Blasius Masang Kleden, Pastor Paroki Lerek RD. Kristo Soge, para imam konselebran, serta Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, Camat Atadei, Adrianus Demor dan sejumlah pejabat pemerintah daerah.
Perayaan yang mengangkat tema “Menjadi Bait Allah yang Hidup dalam Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Harapan” itu berlangsung dalam suasana syukur dan kekeluargaan. Bagi umat KBG Motong, kapela ini bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah hasil dari doa yang panjang, kerja keras, dan kepedulian banyak pihak yang percaya bahwa umat kecil di pelosok pun berhak memiliki tempat yang layak untuk memuliakan Tuhan.
Dalam homilinya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro mengajak seluruh umat untuk menyadari betapa berharganya mereka di mata Allah.
“Kamu sungguh berharga di mata-Ku,” tegas Uskup.
Beliau kemudian menyinggung realitas sosial masyarakat Lamaholot yang mengenal adanya orang asli dan pendatang. Namun, menurutnya, dalam terang iman Kristiani, semua orang memiliki martabat yang sama sebagai anak-anak Allah.
Uskup juga memberikan peneguhan khusus kepada anak-anak penerima Sakramen Krisma. Dari 139 krismawan dan krismawati yang menerima sakramen tersebut, empat di antaranya berasal dari KBG Motong.
“Hidup sebelum mengenal Kristus harus berbeda dengan hidup sesudah mengenal Kristus. Sebetulnya Roh Kudus sudah ada dalam diri kita sejak baptisan. Krisma membuat kita semakin kuat untuk memberi kesaksian hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Mari kita menjadi saksi Kristus yang tangguh,” pesannya.

Penerimaan Sakramen Krisma Paroki Lerek
Ungkapan syukur turut disampaikan oleh Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP), Philipus Pelile Watun. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada Bapa Uskup, Bupati Lembata, serta seluruh tamu undangan yang telah hadir dan berbagi sukacita bersama umat KBG Motong.
Secara khusus, ia menyampaikan apresiasi kepada Komunitas Jala Kasih, yang menjadi donatur utama pembangunan kapela tersebut.
“Terima kasih kepada donatur dari Komunitas Jala Kasih yang telah mempersembahkan bangunan gereja yang kokoh dan indah,” ujarnya.
Dalam kesederhanaannya, Philipus menyampaikan kalimat yang menyentuh hati banyak orang yang hadir.
“Kami orang yang berada di gunung, yang tidak sempurna itulah kami. Bagi kami, itulah yang sempurna,” katanya.
Ketua Panitia pembangunan kapela KBG Motong, Rudi Witin, juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses pembangunan Kapela ini. Menurutnya, kapela ini berdiri berkat kerja sama dan pengorbanan banyak orang.
Hal senada disampaikan oleh Pastor Paroki Lerek, RD. Kristo Soge. Ia mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran Bapa Uskup yang tidak hanya memberkati kapela baru, tetapi juga menerimakan Sakramen Krisma kepada generasi muda Paroki Lerek.
“Terima kasih kepada donatur utama dari Komunitas Jala Kasih yang menghadirkan kapela mungil dan indah ini. Terima kasih kepada Bapak Bupati yang telah memberikan perhatian kepada umat Paroki Lerek. Terima kasih kepada panitia dan para tukang yang berjuang mengerjakan kapela ini, serta kepada semua pihak yang terlibat dalam perayaan hari ini,” tuturnya.
Perwakilan Komunitas Jala Kasih Jakarta, Albert Gregori Tan, mengaku bahagia bisa hadir langsung di tengah umat KBG Motong.
“Kami hadir di tengah umat dan berusaha membantu sesuai kemampuan kami. Doakan kami, semoga kami bisa membantu lebih banyak umat di sini,” katanya.
Sementara itu, Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kehadiran Bapa Uskup di tengah masyarakat menjadi inspirasi bagi pemerintah untuk semakin dekat dengan rakyat.
“Di tempat yang jauh dari kota dan di pegunungan ini, pasti kita butuh jalan raya yang baik. Saya tidak janji, tetapi hari ini saya ada di sini. Kalau kita bekerja tulus, Tuhan pasti memberkati,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan semangat kebersamaan dalam membangun daerah.
“Mari kita jaga persatuan dan kebersamaan dalam membangun ekonomi. Atadei harus menjadi lumbung ekonomi Kabupaten Lembata,” tambahnya.

Pemberkatan Kapela KBG St. Andreas Motong dan Penerimaan Sakramen Krisma Paroki Lerek
Menutup seluruh rangkaian acara, Mgr. Yohanes Hans Monteiro kembali mengingatkan bahwa gereja yang sesungguhnya bukan hanya bangunan yang tampak megah, tetapi juga kehidupan umat yang mencerminkan kasih Allah.
“Saya bersyukur atas waktu yang boleh mempertemukan kita. Tuhan tidak jauh. Tuhan dekat dengan kita melalui orang-orang baik. Bersama pemerintah, kita tetap berjuang bersama demi umat dan masyarakat yang sama,” katanya.
Uskup kemudian mengajak umat untuk menjadikan kapela KBG yang baru diberkati ini sebagai tempat bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih.
“Mari, dengan kapela baru ini kita memuji Tuhan. Tetapi pujian yang terpenting adalah melalui hidup kita,” pesannya.
Bagi umat KBG Motong, hari itu bukan sekadar peresmian sebuah bangunan. Hari itu adalah perayaan atas harapan yang terjawab, doa yang dikabulkan, dan iman yang menemukan rumahnya. Dari sebuah kampung kecil dengan 51 jiwa, lahir sebuah kesaksian besar bahwa ketika Tuhan menjadi pusat kehidupan, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Kapela KBG Santo Andreas Motong kini berdiri sebagai tanda bahwa kasih Allah mampu menjangkau siapa saja, bahkan mereka yang tinggal jauh di lereng-lereng pegunungan Lembata. (@sly)
