PATER YAN WEIJS, SVD: Hati Bersih Urus Air Bersih, Berjuang Bersama Ribu Ratu Tanah Boleng Mengalirkan Harapan

Dengan semangat pelayanan tersebut, Pastor Aloysius membangun komunikasi dan kemitraan bersama Tokoh Adat Nuba Tanah Boleng, pemerintah desa, serta pengurus Gereja. Gagasan pemulihan jaringan air bersih mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Maka dimulailah gerakan bersama dengan motto “Hati Bersih Urus Air Bersih” demi kesejahteraan Ribu Ratu Tanah Boleng.

by Komsos Keuskupan Larantuka

TANAH BOLENG, Komsos Larantuka — Air bersih bukan sekadar kebutuhan hidup, tetapi juga tanda kasih, solidaritas, dan perjuangan bersama. Kisah menghadirkan air minum bersih bagi umat Paroki Tanah Boleng, Adonara, menjadi sebuah perjalanan iman dan gotong royong yang telah berlangsung hampir enam dekade. Dengan semangat “Hati Bersih Urus Air Bersih”, umat Ribu Ratu Tanah Boleng terus berjuang menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi generasi sekarang dan yang akan datang.
Perjuangan ini berawal pada tahun 1968 ketika Pastor Paroki Tanah Boleng pertama, Pater Yan Weijs, SVD, bersama para tokoh adat Nuba Tanah Boleng berinisiatif menghadirkan sumber air bersih bagi umat. Dengan hati seorang misionaris yang melihat kebutuhan nyata umat, Pater Yan mendekati masyarakat Lewoalat Puhu Gelong untuk memohon agar mata air Waipedeng dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan umat Tanah Boleng.

HATI BERSIH URUS AIR BERSIH: Perjuangan Panjang Ribu Ratu Tanah Boleng Mengalirkan Harapan

Dari sinilah sebuah karya besar dimulai. Pipa-pipa besi berukuran tiga inci didatangkan dari Jerman melalui kapal misi Stella Maris dan diturunkan di Pelabuhan Waiwerang. Dengan semangat kebersamaan, umat bergotong royong memikul pipa-pipa tersebut dari Waiwerang menuju sumber mata air hingga ke Tanah Boleng dengan jarak kurang lebih 20 kilometer.
Pemasangan jaringan perpipaan dilakukan secara manual dengan keterampilan sederhana yang dimiliki umat pada masa itu. Berkat kerja keras dan ketekunan bersama, akhirnya air bersih mengalir ke Tanah Boleng. Sukacita umat saat menikmati air bersih menjadi buah dari sebuah perjuangan panjang yang lahir dari kepedulian dan kebersamaan.
Namun perjalanan waktu membawa tantangan. Setelah kurang lebih dua puluh tahun, jaringan perpipaan mulai mengalami kerusakan akibat usia dan bencana alam. Umat kembali menghadapi kesulitan memperoleh air bersih. Banyak keluarga bertahan hidup dengan membeli air dari luar serta mengandalkan tampungan air hujan di bak-bak milik mereka.
Melihat kondisi tersebut, pada tahun 2018 Pastor Paroki Tanah Boleng saat itu, RD. Aloysius Dore, merasa terpanggil untuk mencari solusi. Ia menyadari bahwa pelayanan pastoral Gereja tidak hanya berhenti di altar, tetapi juga harus hadir menjawab kebutuhan nyata umat di tengah kehidupan sehari-hari.

HATI BERSIH URUS AIR BERSIH: Perjuangan Panjang Ribu Ratu Tanah Boleng Mengalirkan Harapan

Dengan semangat pelayanan tersebut, Pastor Aloysius membangun komunikasi dan kemitraan bersama Tokoh Adat Nuba Tanah Boleng, pemerintah desa, serta pengurus Gereja. Gagasan pemulihan jaringan air bersih mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Maka dimulailah gerakan bersama dengan motto “Hati Bersih Urus Air Bersih” demi kesejahteraan Ribu Ratu Tanah Boleng.
Gerakan ini kemudian berkembang menjadi gerakan solidaritas. Dana swadaya dihimpun dari umat yang tinggal di Tanah Boleng maupun umat diaspora yang berada di berbagai tempat perantauan. Semua memberikan dukungan sesuai kemampuan masing-masing. Umat bekerja bersama, mencari bantuan, sekaligus mengambil bagian langsung dalam pekerjaan fisik di lapangan.
Harapan semakin besar ketika pada tahun 2025 bantuan datang dari Yayasan Tunas Bakti Nusantara Jakarta melalui program “Mengalirkan Kebaikan Hingga Adonara”. Atas koordinasi Ketua Yayasan, Bapak Teguh Dwi Nugroho, bantuan tahap pertama berupa 386 batang pipa besi tiga inci beserta perlengkapannya dikirim melalui kapal TNI Angkatan Laut dari Surabaya menuju Adonara.
Dengan semangat gotong royong, umat Tanah Boleng bersama para relawan membongkar, mengangkut, dan memasang seluruh pipa bantuan tersebut hingga jaringan kembali tersambung.
Pada Juni 2026, bantuan tahap kedua kembali diterima. Sebanyak 484 batang pipa besi tiga inci beserta asesorisnya dikirim melalui kapal TNI Angkatan Laut. Umat kembali menunjukkan semangat luar biasa dengan bekerja bersama hingga pemasangan selesai pada Agustus 2026.
Melihat antusiasme dan perjuangan umat yang begitu besar, pihak Yayasan Tunas Bakti Nusantara bersama para donatur berkomitmen memberikan bantuan tahap ketiga sebagai tahap akhir penyelesaian program air bersih Tanah Boleng pada tahun ini.
Dalam proses pendampingan, koordinator lapangan dari Yayasan Tunas Bakti Nusantara, Bapak Fauzan Farand, hadir langsung bersama umat. Sementara itu, para teknisi, Bapak Muddo Aryanto dan Herman Maiwati, memberikan arahan teknis serta pelatihan praktis kepada kaum muda dan para relawan agar jaringan air minum ini dapat dikelola secara baik dan berkelanjutan.
Untuk menjaga keberlangsungan pelayanan air bersih, Paroki Tanah Boleng membentuk Badan Pengelola Air Minum Paroki Tanah Boleng (BPAM-PTB) yang dipimpin oleh Bapak Yulius Peduli Hala dan Mikael Notan Lier. Badan ini bertugas mengkoordinasikan perencanaan, pembangunan, pemeliharaan, serta pengelolaan aset Gereja sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Pastor Paroki Tanah Boleng saat ini, RD. David Doni, bersama Ketua Dewan Paroki Bapak Bernadus Mado Dini berkomitmen melanjutkan karya para pendahulu dengan terus membangun kerja sama bersama semua pihak yang peduli terhadap kebutuhan air bersih umat dan masyarakat.
Karya air bersih Tanah Boleng menjadi bukti bahwa ketika hati manusia bersih dan penuh kepedulian, maka kebaikan dapat mengalir seperti air yang memberi kehidupan. Pastor Paroki, pengurus BPAM-PTB, dan seluruh umat menyampaikan limpah terima kasih kepada para donatur, Yayasan Tunas Bakti Nusantara, TNI, pemerintah, para tokoh adat, pemilik mata air Waipedeng, serta para pemilik lahan yang dengan tulus mendukung perjalanan panjang ini.
Air yang mengalir hari ini adalah hasil dari iman, kerja keras, dan persaudaraan yang telah dirawat sejak 1968. (A12,PR)

You may also like