SAKIT BOLEH, MENYERAH JANGAN: Penyuluh Agama Katolik Rayon Adonara Hadir Menguatkan Pasien di Rumah Sakit Pratama Adonara

Kehadiran di rumah sakit merupakan bagian dari panggilan untuk menghadirkan Gereja di tengah realitas kehidupan masyarakat. Gereja tidak hanya hadir ketika umat berkumpul dalam perayaan liturgi, tetapi juga ketika seseorang berada dalam situasi sulit, sakit, terluka, atau membutuhkan penghiburan.

by Komsos Keuskupan Larantuka

NARASAOSINA, Komsos Larantuka –  Sakit sering kali membuat seseorang berada dalam situasi yang tidak mudah. Ketika tubuh kehilangan kekuatan, muncul pula rasa cemas, takut, dan kekhawatiran akan masa depan. Dalam kondisi seperti itu, kehadiran seseorang yang datang untuk menyapa, mendengarkan, mendoakan, dan memberikan penguatan dapat menjadi kekuatan tersendiri.

Semangat inilah yang dihadirkan Penyuluh Agama Katolik Rayon Adonara melalui pelayanan rohani kepada para pasien di Rumah Sakit Pratama Adonara, Narasaosina, Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pelayanan Komunikasi Sosial (Komsos) yang dilaksanakan secara rutin setiap bulan sebagai bentuk kepedulian dan pendampingan kepada umat serta masyarakat yang sedang mengalami sakit.

Rumah Sakit Pratama Adonara, Narasaosina, Rabu (19/8/2026).

Pelayanan kali ini mengangkat tema “Datanglah Kepada-Ku, Kamu yang Letih Lesu dan Berbeban Berat”, yang terinspirasi dari sabda Yesus dalam Injil Matius 11:28: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Sabda tersebut menjadi kekuatan utama dalam pelayanan para penyuluh. Di tengah suasana rumah sakit yang dipenuhi berbagai pengalaman manusia, mulai dari kesakitan, kecemasan, penantian, hingga harapan akan kesembuhan, para penyuluh hadir membawa pesan bahwa setiap orang yang sedang menderita tidak pernah berjalan sendirian.

Kehadiran mereka tidak dimaksudkan untuk menggantikan pelayanan medis yang diberikan oleh tenaga kesehatan. Sebaliknya, pelayanan rohani menjadi bagian yang melengkapi proses pendampingan pasien. Sebab, manusia yang sedang sakit tidak hanya membutuhkan obat dan perawatan tubuh, tetapi juga membutuhkan perhatian, kasih, dukungan moral, doa, serta kekuatan iman.

Dalam kunjungan tersebut, para Penyuluh Agama Katolik menyapa para pasien dan keluarga, mendengarkan pengalaman serta pergumulan mereka, memberikan motivasi, dan mengajak mereka untuk tetap menaruh harapan kepada Tuhan. Percakapan sederhana menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan dan menghadirkan rasa bahwa ada orang-orang yang peduli terhadap keadaan mereka.

Para penyuluh juga memberikan penguatan bahwa pengalaman sakit bukanlah akhir dari perjalanan kehidupan. Sakit memang dapat membuat seseorang merasa lemah dan tidak berdaya, tetapi situasi tersebut tidak harus mematikan harapan. Dalam iman Kristiani, setiap pergumulan dapat menjadi kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyerahkan seluruh kehidupan ke dalam penyelenggaraan-Nya.

Pesan tersebut menjadi penting terutama bagi pasien yang harus menjalani perawatan dalam waktu tertentu. Ketika proses penyembuhan membutuhkan kesabaran, harapan menjadi kekuatan yang tidak kalah penting dibandingkan pengobatan. Karena itu, para pasien dan keluarga diajak untuk terus berdoa, saling menguatkan, dan percaya bahwa Tuhan tetap bekerja dalam setiap situasi kehidupan.

Pelayanan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi Penyuluh Agama Katolik untuk membangun komunikasi dan persaudaraan dengan berbagai pihak di lingkungan rumah sakit. Tidak hanya pasien, tetapi juga keluarga pasien dan tenaga kesehatan menjadi bagian dari ruang perjumpaan tersebut.

Kegiatan pelayanan dikoordinasikan langsung oleh Kepala Ruangan Rawat Inap, Yohanes Nuba Ola. Koordinasi dan dukungan dari pihak Rumah Sakit Pratama Adonara turut membantu sehingga pelayanan rohani tersebut dapat berlangsung dengan baik, tertib, dan sesuai dengan situasi pelayanan di rumah sakit.

Bagi para penyuluh, kehadiran di rumah sakit merupakan bagian dari panggilan untuk menghadirkan Gereja di tengah realitas kehidupan masyarakat. Gereja tidak hanya hadir ketika umat berkumpul dalam perayaan liturgi, tetapi juga ketika seseorang berada dalam situasi sulit, sakit, terluka, atau membutuhkan penghiburan.

Dalam semangat itulah, pelayanan kepada orang sakit menjadi bentuk konkret dari kasih Kristiani. Kasih tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu diwujudkan melalui kehadiran dan tindakan nyata. Sebuah sapaan, senyuman, percakapan singkat, doa, atau kesediaan untuk mendengarkan dapat menjadi tanda bahwa seseorang tetap diperhatikan dan tidak ditinggalkan.

Para Penyuluh Agama Katolik Rayon Adonara berharap pelayanan rutin ini dapat terus dikembangkan. Melalui Komsos, mereka ingin membangun komunikasi yang semakin dekat dengan umat sekaligus memperluas ruang pelayanan pastoral di tengah masyarakat.

Tim Penyuluh Agama Katolik Rayon Adonara yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri dari Paskali Kopong Libat, Patrisius Poa Pada, Eusebia Sena, Irma Barek Hada, Antonia Lama Witak, Mariana Inadai, Fransiska Kerong Eban, dan Marta Ubas Bataona.

Pelayanan kemudian ditutup dengan doa bersama. Para pasien, keluarga, serta tenaga kesehatan diserahkan ke dalam penyelenggaraan Tuhan. Doa menjadi peneguhan bahwa di tengah keterbatasan manusia, masih ada ruang untuk berharap dan percaya.

Pelayanan sederhana di Rumah Sakit Pratama Adonara itu meninggalkan sebuah pesan penting: ketika tubuh menjadi lemah, jangan biarkan harapan ikut melemah. Sebab, bagi mereka yang datang kepada Kristus dengan segala keletihan dan beban hidupnya, selalu ada kekuatan, penghiburan, dan kelegaan.

Penyuluh Agama Katolik Rayon Adonara pun terus membawa semangat yang sama: hadir untuk melayani, datang untuk menguatkan, dan berjalan bersama mereka yang membutuhkan. (Patris)

You may also like