DARI ABU ERUPSI MENUJU HIJAU KEHIDUPAN: Kisah Bangkit Penyintas Lewotobi di Konga

Kepedulian dan pendampingan terhadap masyarakat terdampak erupsi Gunung Lewotobi terus dilakukan oleh Tim Peduli Penyintas Lewotobi Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur. Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, tim pendamping hadir bersama para penyintas untuk membangun kembali semangat kemandirian melalui kegiatan pertanian organik di kawasan tempat tinggal sementara pengungsi di Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

by Komsos Keuskupan Larantuka

KONGA, Komsos Larantuka – Kepedulian dan pendampingan terhadap masyarakat terdampak erupsi Gunung Lewotobi terus dilakukan oleh Tim Peduli Penyintas Lewotobi Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur. Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, tim pendamping hadir bersama para penyintas untuk membangun kembali semangat kemandirian melalui kegiatan pertanian organik di kawasan tempat tinggal sementara pengungsi di Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

DARI ABU ERUPSI MENUJU HIJAU KEHIDUPAN: Kisah Bangkit Penyintas Lewotobi di Konga

Pendampingan yang berlangsung pada Kamis (20/8/2026) tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran Kementerian Agama di tengah masyarakat yang sedang menjalani masa pemulihan pascaerupsi. Tidak hanya memberikan dukungan dalam aspek spiritual dan sosial, Tim Peduli Penyintas Lewotobi juga mendorong kegiatan produktif yang dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan hidup serta membuka peluang ekonomi sederhana.
Dalam kegiatan tersebut, tim bersama kelompok penyintas melakukan berbagai aktivitas pertanian organik, mulai dari pendampingan pengelolaan kebun, pembuatan pupuk organik, pemanfaatan bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar, perawatan tanaman, hingga proses pemanenan hasil pertanian yang telah dibudidayakan sebelumnya.
Beberapa jenis tanaman yang dikembangkan oleh kelompok penyintas seperti sawi, kacang panjang, tomat, dan mentimun mulai memberikan hasil. Sebagian tanaman bahkan telah memasuki masa panen dan dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi keluarga. Selain itu, hasil pertanian tersebut juga menjadi peluang untuk dikembangkan sebagai sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat penyintas.
Penyuluh Agama Katolik Kemenag Flores Timur, Yar Lewar, yang tergabung dalam Tim Peduli Penyintas Lewotobi, menyampaikan bahwa pendampingan ini bertujuan agar masyarakat tetap memiliki semangat untuk berkarya meskipun berada dalam situasi pemulihan akibat bencana.
“Kami ingin mendampingi mereka agar tetap produktif dan mampu memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar tempat tinggal mereka. Pembuatan pupuk organik dan pengelolaan kebun menjadi salah satu langkah kecil menuju kemandirian,” ungkap Yar.
Menurutnya, pengembangan pertanian organik memberikan pengalaman baru bagi kelompok penyintas untuk mengolah lingkungan sekitar menjadi sesuatu yang bernilai. Bahan-bahan sederhana yang sebelumnya dianggap tidak memiliki manfaat dapat dimanfaatkan menjadi pupuk alami yang mendukung pertumbuhan tanaman.
Kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran bersama bagi warga untuk membangun pola hidup yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar tempat tinggal sementara, para penyintas diajak untuk terus bergerak, bekerja sama, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga.
Lebih dari sekadar menghasilkan sayuran, kegiatan pertanian organik tersebut menghadirkan semangat kebersamaan dan harapan baru bagi masyarakat yang terdampak erupsi. Aktivitas sederhana seperti mengurus tanaman dan memanen hasil kebun menjadi momen penting untuk menguatkan kembali kehidupan sosial warga.
Pendampingan Tim Peduli Penyintas Lewotobi merupakan bagian dari komitmen Penyuluh Agama Katolik Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur dalam memberikan pelayanan yang menyeluruh kepada masyarakat. Kehadiran penyuluh tidak hanya terbatas pada pendampingan keagamaan, tetapi juga menyentuh aspek pemberdayaan, pemulihan sosial, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Tim Peduli Penyintas Lewotobi berharap kelompok binaan dapat terus mengembangkan pertanian organik, mampu memproduksi pupuk secara mandiri, meningkatkan hasil tanaman, serta perlahan memiliki sumber pendapatan yang dapat menopang kehidupan keluarga.
Bagi para penyintas, hasil panen dari kebun sederhana tersebut bukan hanya berupa sayuran. Setiap tanaman yang tumbuh menjadi tanda perjuangan dan harapan. Dari tempat tinggal sementara, mereka sedang menanam kembali semangat kehidupan, membangun kemandirian, dan menata masa depan setelah melewati masa sulit akibat erupsi Gunung Lewotobi. (Apol)

You may also like