419 Orang Terima Sakramen Krisma di Koli Sagu: Uskup Larantuka Titip Pesan Persatuan

Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menerimakan Sakramen Krisma kepada 419 orang di Gereja Paroki Santo Petrus Koli Sagu, Minggu, 11 Oktober 2026. Perayaan ini menjadi momen penting bagi para penerima Krisma untuk semakin meneguhkan iman dan menyadari panggilan mereka sebagai anggota Gereja yang diutus untuk menghadirkan kasih Allah di tengah kehidupan sehari-hari.

by Komsos Keuskupan Larantuka

KOLI SAGU, Komsos Larantuka — Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menerimakan Sakramen Krisma kepada 419 orang di Gereja Paroki Santo Petrus Koli Sagu, Minggu, 11 Oktober 2026. Perayaan ini menjadi momen penting bagi para penerima Krisma untuk semakin meneguhkan iman dan menyadari panggilan mereka sebagai anggota Gereja yang diutus untuk menghadirkan kasih Allah di tengah kehidupan sehari-hari.
Para penerima Sakramen Krisma berasal dari enam stasi di wilayah Paroki Santo Petrus Koli Sagu, yakni Stasi Kolilanang, Tikatukan, Lamahoda, Kolimasang, Lolok, dan Sagu. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Mgr. Yohanes Hans Monteiro, didampingi Deken Adonara, RD. Aloysius Dore, Sekeretaris Uskup, RD. Fransikus Kwaelaga, Ketua Komsos Keuskupan Larantuka, RD. Anselmus Liwun, Pastor Paroki Koli Sagu, RP. Severinus Binsasi, SVD, dan Pastor Rekan, RP. Benediktus Suhendra Justian, SVD.

Hidup Kita Harus Membuat Allah yang Tidak Kelihatan Menjadi Kelihatan

Hidup Kita Harus Membuat Allah yang Tidak Kelihatan Menjadi Kelihatan
Dalam homilinya yang bertolak dari Injil Matius 22:1-14 tentang perumpamaan perjamuan kawin, Uskup Larantuka mengajak umat, khususnya para calon penerima Krisma, untuk memahami makna panggilan Allah dan tanggung jawab iman yang menyertainya. Ia menggunakan gambaran tentang orang yang datang ke pesta tanpa undangan, bahkan membuat kekacauan, untuk menggambarkan sikap manusia yang tidak menghargai panggilan dan kesempatan yang diberikan kepadanya.
“Anak-anak zaman sekarang masuk pesta tanpa diundang. Sudah tidak diundang, datang buat kacau lagi,” ungkap Uskup dalam homilinya.
Pesan tersebut menjadi pintu masuk untuk mengajak para penerima Krisma menyadari bahwa panggilan menjadi pengikut Kristus bukan sekadar identitas atau status keagamaan. Menjadi orang Katolik berarti bersedia menanggapi undangan Tuhan dengan iman yang nyata, sikap hidup yang baik, serta kesediaan untuk membangun persaudaraan.

Hidup Kita Harus Membuat Allah yang Tidak Kelihatan Menjadi Kelihatan

Pakaian Putih dan Tanda Kehadiran Allah

Dalam homilinya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro juga mengajak para penerima Krisma mengingat kembali makna pakaian putih yang dikenakan dalam Sakramen Baptis. Ia bertanya kepada mereka, kapan mereka mengenakan pakaian putih tersebut, seraya mengingatkan bahwa warna putih melambangkan kebersihan, kesucian, dan kekudusan.
Simbol pakaian putih itu mengarahkan umat pada kenyataan iman yang lebih mendalam, yakni panggilan untuk hidup dalam kekudusan dan menghadirkan Allah yang tidak kelihatan melalui tindakan yang dapat dilihat oleh sesama.
Uskup menegaskan bahwa salah satu anugerah terbesar dan terindah yang diterima manusia adalah karunia Roh Kudus dalam Sakramen Baptis. Roh Kudus yang telah dianugerahkan itu terus bekerja, bertumbuh, dan berkembang dalam diri setiap orang beriman.
Karena itu, penerimaan Sakramen Krisma tidak boleh dipahami hanya sebagai sebuah upacara atau perayaan sesaat. Sakramen ini merupakan kesempatan untuk semakin menyadari karunia Roh Kudus dan tanggung jawab untuk menghidupi iman secara dewasa.
“Roh itu terus bertumbuh dan berkembang dalam dirimu. Hari ini kita menerima tanda karunia Roh Kudus. Kita harus menyadari tanda karunia apa yang Tuhan berikan kepada kita,” tegasnya.
Pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh setiap penerima Krisma, lanjut pesan Uskup, adalah apakah kehidupan mereka sungguh-sungguh telah menjadi tanda kehadiran karunia Roh Kudus. Iman tidak cukup hanya diungkapkan melalui doa, kehadiran dalam perayaan Ekaristi, atau penerimaan sakramen. Iman juga harus tampak dalam cara seseorang berbicara, memperlakukan orang lain, mengambil keputusan, dan membangun hubungan dengan sesama.

Hidup Kita Harus Membuat Allah yang Tidak Kelihatan Menjadi Kelihatan

Menjadi Tanda yang Mempersatukan
Salah satu pesan utama yang ditekankan Uskup Larantuka dalam perayaan tersebut adalah panggilan untuk membangun persatuan. Karunia Roh Kudus yang diterima setiap orang bukanlah anugerah yang berhenti pada kepentingan pribadi, melainkan kekuatan yang menggerakkan setiap orang untuk menjadi pembawa damai dan pemersatu dalam keluarga, lingkungan masyarakat, serta kehidupan menggereja.
Uskup mengajak umat untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah hidup kita sudah menjadi tanda karunia Roh Kudus? Apakah kehadiran kita sungguh menjadi tanda yang mempersatukan, atau justru menjadi sumber perpecahan?
Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, para penerima Krisma diajak memahami bahwa menjadi saksi Kristus berarti menghadirkan sesuatu yang baik dan membangun bagi orang lain. Sikap saling menghormati, kesediaan mengampuni, kepedulian terhadap sesama, dan keberanian merawat persaudaraan merupakan wujud nyata dari iman yang bertumbuh dalam Roh Kudus.
Menurut Uskup, Yesus Kristus adalah gambaran Allah yang kelihatan. Melalui Yesus, manusia dapat mengenal kasih Allah yang sebelumnya tidak dapat dilihat secara langsung. Demikian pula, umat beriman dipanggil untuk mengambil bagian dalam tugas menghadirkan kasih Allah melalui kehidupan mereka.
Dengan demikian, Sakramen yang diterima bukan sekadar tanda yang dirayakan di dalam gereja, tetapi juga panggilan untuk menjadi tanda yang hidup di tengah dunia. Melalui perkataan dan perbuatan, umat diharapkan menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih, yang menghendaki persaudaraan dan persatuan di antara manusia.

Hidup Kita Harus Membuat Allah yang Tidak Kelihatan Menjadi Kelihatan

Dimeteraikan Menjadi Milik Kristus
Uskup Larantuka juga mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak berakhir hanya pada kehidupan di dunia ini. Karena itu, iman dan penerimaan sakramen harus dilihat dalam perspektif panggilan hidup yang lebih luas, yakni hidup dalam persekutuan dengan Kristus.
Sakramen Krisma memeteraikan umat sebagai milik Kristus dan meneguhkan mereka untuk mengambil bagian dalam perutusan Gereja. Meterai tersebut membawa konsekuensi bahwa setiap orang yang telah menerima Krisma dipanggil untuk hidup sesuai dengan iman yang diakuinya.
Para penerima Krisma diharapkan tidak berhenti pada kebanggaan karena telah menerima sakramen, tetapi melanjutkan perjalanan iman dengan tanggung jawab yang semakin besar. Mereka dipanggil menjadi pribadi yang mampu menghadirkan kebaikan, memelihara persatuan, dan memberikan kesaksian tentang Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
“Hidup kita membuat Allah yang tidak kelihatan menjadi kelihatan dalam hidup kita,” demikian inti pesan Uskup Larantuka kepada umat.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kesaksian iman tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Dalam kehidupan keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, maupun komunitas Gereja, setiap orang dapat menghadirkan kasih Allah melalui tindakan sederhana yang dilakukan dengan tulus.

Harapan bagi Umat Paroki Koli Sagu
Menutup pesan pastoralnya, Mgr. Yohanes Hans Monteiro menitipkan harapan dan doa bagi seluruh umat Paroki Santo Petrus Koli Sagu agar terus bertumbuh dalam semangat persatuan sebagai satu tubuh Kristus.
Persatuan menjadi buah penting dari kehidupan yang digerakkan oleh Roh Kudus. Karena itu, penerimaan Sakramen Krisma hendaknya semakin memperkuat komitmen umat untuk membangun Gereja yang hidup dalam persaudaraan, saling mendukung, dan bersama-sama mewartakan Injil.
Bagi 419 penerima Krisma, perayaan Minggu itu bukanlah akhir dari perjalanan persiapan iman, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih mendalam untuk menjadi saksi Kristus. Mereka diutus untuk membawa semangat Roh Kudus ke tengah keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan, dan masyarakat.
Harapan Uskup Larantuka sederhana, tetapi mendasar: agar setiap orang yang telah menerima karunia Roh Kudus sungguh menjadi tanda kehadiran Allah yang dapat dirasakan oleh sesama. Dengan hidup yang membawa damai, mempersatukan, dan menumbuhkan kasih, umat Paroki Santo Petrus Koli Sagu diharapkan semakin mampu menghadirkan wajah Kristus di tengah dunia.
Sebab, pada akhirnya, buah Sakramen Krisma tidak hanya terlihat dari banyaknya orang yang menerima sakramen, tetapi terutama dari perubahan hidup yang dihasilkannya. Ketika umat semakin mampu mengasihi, mengampuni, dan mempersatukan, di situlah Allah yang tidak kelihatan menjadi nyata melalui kehidupan manusia. (@sly)

You may also like