RIANGKAMIE, Komsos Larantuka – Rangkaian kegiatan Jambore Anak-Remaja Misioner Dekenat Larantuka resmi berakhir pada Minggu, 11 Oktober 2026, yang ditandai dengan Perayaan Ekaristi Minggu Misi dan acara penutupan. Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh RD. Adeodatus Hendrikus Leni, Vikjen Keuskupan Larantuka, dan dihadiri para romo, pater, dan diakon yang berkarya di Dekenat Larantuka, para pendamping, serta umat yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Dalam homilinya, RD. Adeodatus Hendrikus Leni menyapa anak-anak dan remaja misioner dari berbagai paroki. Sapaan dan perhatian yang diberikan menghadirkan suasana kedekatan antara gembala dan anak-anak yang dipercayakan kepadanya, sekaligus menjadi tanda dukungan Gereja terhadap pertumbuhan iman generasi muda.
Semua Anak dan Remaja Diundang ke Perjamuan Tuhan
Mengawali pesan homilinya, RD. Adeodatus Hendrikus Leni menegaskan bahwa semua anak dan remaja yang hadir dalam Jambore merupakan pribadi-pribadi yang diundang secara khusus oleh Tuhan untuk datang ke perjamuan-Nya. Kehadiran mereka dalam kegiatan Jambore bukan sekadar untuk berkumpul dan mengikuti berbagai perlombaan, tetapi menjadi kesempatan istimewa untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus, mendengarkan Sabda-Nya, dan bertumbuh dalam iman.
Romo Vikjen menekankan bahwa undangan Tuhan terbuka bagi semua orang tanpa memandang latar belakang kehidupan maupun situasi hati masing-masing. Setiap anak dan remaja memiliki tempat dalam hati Tuhan dan berharga di mata-Nya. Karena itu, semua anak diundang untuk datang kepada Tuhan, mengalami kasih-Nya, dan mengambil bagian dalam kehidupan Gereja.
Pesan ini mengajak anak-anak dan remaja untuk menyadari bahwa kehadiran mereka dalam Jambore merupakan bagian dari panggilan Tuhan. Mereka tidak hanya datang sebagai peserta kegiatan, tetapi juga sebagai pribadi-pribadi yang dikasihi, dipanggil, dan diutus untuk menjadi saksi Kristus di tengah kehidupan sehari-hari.
Para Pendamping sebagai Pengantar Undangan Tuhan
Lebih lanjut, RD. Adeodatus Hendrikus Leni mengingatkan bahwa para pendamping memiliki peran penting sebagai orang-orang yang mengantarkan undangan Tuhan kepada anak-anak dan remaja. Melalui pendampingan, perhatian, keteladanan, dan pelayanan yang tulus, para pendamping membantu anak-anak mengenal Yesus dan menuntun mereka semakin dekat dengan-Nya.
Para pendamping tidak hanya bertugas menemani peserta selama kegiatan Jambore, tetapi juga mengambil bagian dalam tugas perutusan Gereja untuk membawa anak-anak dan remaja kepada Kristus. Oleh karena itu, pendampingan hendaknya dilaksanakan dengan penuh kasih, kesabaran, dan keterbukaan agar setiap anak merasa diterima, dihargai, dan didukung dalam perjalanan imannya.
Pesan ini sekaligus menjadi penghargaan bagi para pendamping yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan perhatian untuk mendampingi anak-anak serta remaja selama Jambore. Kehadiran mereka menjadi salah satu bentuk nyata pelayanan Gereja dalam menumbuhkan iman dan semangat misioner generasi muda.
Persatuan dan Persaudaraan sebagai Wujud Semangat Misioner
Selain menegaskan undangan Tuhan dan peran para pendamping, RD. Adeodatus Hendrikus Leni juga menekankan pentingnya membangun kesatuan di antara anak dan remaja misioner. Persatuan bukan sekadar berkumpul dalam satu kegiatan, melainkan diwujudkan melalui sikap saling menghargai, menjaga persahabatan, menerima perbedaan, serta menggunakan kreativitas dan energi kaum muda untuk membangun kehidupan bersama.
Anak-anak dan remaja diajak untuk tidak menggunakan kekuatan, kemampuan, dan kreativitas mereka untuk merusak atau menciptakan perpecahan. Sebaliknya, mereka dipanggil menjadi pribadi-pribadi yang membawa kebaikan, kedamaian, dan persaudaraan di tengah keluarga, sekolah, Gereja, serta masyarakat.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa semangat misioner harus tampak dalam tindakan sehari-hari. Anak dan remaja misioner dipanggil untuk merawat persatuan, membangun persahabatan, serta menghadirkan kasih Kristus melalui perkataan dan perbuatan di mana pun mereka berada.
“Sebelum Bermisi, Hal Utama Adalah Berjumpa dengan Tuhan Yesus”
Pesan ini menegaskan bahwa misi Kristiani berawal dari perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus. Sebelum mewartakan kabar gembira kepada orang lain, setiap anak dan remaja perlu membangun kedekatan dengan Kristus melalui doa, mendengarkan Sabda Tuhan, merayakan Ekaristi, dan melakukan tindakan kasih kepada sesama.
Perjumpaan dengan Yesus menjadi sumber kekuatan bagi setiap misioner untuk menjalankan tugas perutusannya. Dengan mengenal dan mengalami kasih Tuhan, anak-anak dan remaja diharapkan semakin berani menjadi saksi Kristus, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi terutama melalui sikap hidup yang mencerminkan kebaikan, pengampunan, kepedulian, dan persaudaraan.
Pesan homili tersebut menjadi inti perutusan Jambore Anak-Remaja Misioner Dekenat Larantuka. Anak-anak dan remaja diajak untuk pulang ke paroki masing-masing dengan semangat baru, sementara para pendamping diharapkan terus menjalankan tugasnya sebagai pembawa undangan Tuhan yang menuntun generasi muda semakin dekat dengan Kristus.
Pengumuman Kejuaraan dan Pembagian Hadiah
Usai Perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan pengumuman hasil perlombaan, pembagian hadiah kepada para pemenang dari masing-masing paroki, serta penyerahan sertifikat kepada peserta. Momen ini menjadi bentuk apresiasi atas partisipasi, kreativitas, dan semangat anak-anak serta remaja selama mengikuti seluruh rangkaian Jambore.
Kegiatan perlombaan tidak hanya menjadi ajang untuk menunjukkan kemampuan dan bakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran tentang kerja sama, sportivitas, disiplin, dan persaudaraan. Setiap peserta diharapkan dapat menerima hasil perlombaan dengan sukacita serta menjadikan pengalaman tersebut sebagai motivasi untuk terus mengembangkan potensi diri demi pelayanan Gereja.
Makan Siang Bersama, Mempererat Persaudaraan
Setelah rangkaian pengumuman kejuaraan, pembagian hadiah, dan penyerahan sertifikat, seluruh peserta, pendamping, panitia, serta para pelayan pastoral mengikuti acara makan siang bersama.
Suasana penuh keakraban dan sukacita mewarnai kebersamaan tersebut. Makan siang bersama bukan sekadar kegiatan untuk menikmati hidangan, tetapi juga menjadi kesempatan mempererat persaudaraan, berbagi pengalaman, dan membangun relasi yang lebih dekat di antara anak dan remaja misioner dari berbagai paroki.
Kebersamaan ini menjadi salah satu buah nyata Jambore, yakni terbangunnya persahabatan dan semangat persatuan yang diharapkan terus terpelihara setelah seluruh peserta kembali ke lingkungan masing-masing.
Berjabatan Tangan, Acara Bebas, dan Sayonara
Rangkaian kegiatan Jambore kemudian dilanjutkan dengan acara berjabatan tangan, acara bebas, dan sayonara sebagai penanda berakhirnya seluruh kegiatan. Momen berjabatan tangan menjadi ungkapan persaudaraan, penghargaan, dan rasa terima kasih atas kebersamaan yang telah terjalin selama Jambore berlangsung.
Dalam suasana haru dan sukacita, para peserta memanfaatkan acara bebas untuk menikmati kebersamaan terakhir, bertukar cerita, mengabadikan kenangan, serta berpamitan dengan teman-teman, para pendamping, panitia, dan para pelayan pastoral.
Ucapan sayonara bukan sekadar perpisahan, melainkan ungkapan harapan agar persahabatan dan semangat persaudaraan yang telah dibangun tetap terpelihara meskipun setiap peserta kembali ke paroki dan rumah masing-masing. Pengalaman selama Jambore diharapkan menjadi kenangan berharga sekaligus bekal untuk terus bertumbuh dalam iman dan semangat pelayanan.
Pemberkatan Penutup dan Perutusan Kembali ke Paroki
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemberkatan yang dipimpin langsung oleh RD. Adeodatus Hendrikus Leni bersama para imam yang hadir. Dari atas panggung, para imam menumpangkan tangan dan memberkati seluruh peserta, memohon penyertaan Tuhan agar mereka dapat kembali ke paroki dan rumah masing-masing dengan selamat.
Pemberkatan penutup menjadi momen penuh makna yang meneguhkan semangat perutusan anak dan remaja misioner. Mereka diharapkan tidak hanya membawa pulang pengalaman, kenangan, hadiah, dan sertifikat, tetapi juga nilai-nilai iman, persatuan, persahabatan, dan kasih untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan berakhirnya Jambore Anak-Remaja Misioner Dekenat Larantuka, semangat misioner diharapkan terus bertumbuh dalam diri setiap anak dan remaja. Mereka dipanggil menjadi generasi Gereja yang berakar dalam Kristus, terbuka terhadap sesama, serta berani mewartakan Injil melalui tindakan nyata.
Semua anak diundang untuk datang kepada Yesus. Para pendamping dipanggil untuk mengantarkan undangan-Nya. Dan setiap anak serta remaja misioner diutus untuk membawa kasih Kristus kepada dunia.
Sebelum bermisi, berjumpalah dengan Tuhan Yesus. Setelah berjumpa dengan-Nya, bawalah kasih-Nya kepada semua orang. Semangat inilah yang diharapkan terus hidup dalam diri setiap anak dan remaja misioner, bahkan setelah seluruh rangkaian Jambore berakhir.
Kontributor: Komsos (Patrisius)




