OHE – WAIPUKANG, Komsos Larantuka — Sebanyak 424 umat Paroki Santa Maria Bintang Laut Waipukang, Dekenat Lembata, menerima Sakramen Krisma dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro, di Gereja Stasi Santo Petrus Ohe pada Minggu, 18 Oktober 2026. Perayaan bersejarah bagi umat paroki ini dirangkaikan dengan pemberkatan Gereja Stasi Santo Petrus Ohe, yang akan menjadi rumah persekutuan, doa, dan pertumbuhan iman umat.
Dalam homilinya, Uskup Hans menegaskan bahwa penerimaan Sakramen Krisma bukan sekadar peristiwa seremonial dalam perjalanan iman, melainkan peneguhan panggilan setiap orang Kristiani untuk menjadi saksi Kristus dan tanda keselamatan bagi sesama. Melalui pengurapan Roh Kudus, umat diutus membawa kabar sukacita serta menghadirkan kasih Allah secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Mengawali pesannya, Uskup Hans menyinggung kekayaan budaya yang diwariskan oleh para leluhur, termasuk lagu dan tarian kolo beo. Warisan budaya tersebut merupakan bagian dari identitas masyarakat yang patut dihargai dan dijaga. Dalam kehidupan beriman, kebudayaan dan tradisi menjadi bagian dari perjalanan masyarakat, sementara iman mengarahkan manusia untuk memahami makna kehidupan dalam hubungannya dengan Allah.
Uskup selanjutnya mengajak umat membedakan hal-hal duniawi yang bersifat sementara dari kehidupan yang berakar pada Allah dan mengarah kepada keabadian. Menurutnya, melalui Sakramen Baptis, manusia telah menjadi milik Allah. Identitas sebagai anak-anak Allah itu menjadi dasar bagi umat untuk menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah.
Makna tersebut semakin diteguhkan melalui Sakramen Krisma. Krisma berarti pengurapan, sebagaimana Yesus Kristus diurapi untuk melaksanakan perutusan Bapa, yakni membebaskan dan menyelamatkan umat manusia. Dengan menerima pengurapan Roh Kudus, umat pun dipanggil untuk mengambil bagian dalam perutusan Kristus.
“Yesus diurapi, kita pun diurapi. Dia diurapi untuk membebaskan umat manusia. Kita diurapi untuk menjadi tanda keselamatan,” demikian penegasan Uskup Hans.
Ia menjelaskan bahwa panggilan menjadi tanda keselamatan harus tampak dalam perilaku konkret. Orang yang telah menerima Sakramen Krisma hendaknya membawa sukacita, menumbuhkan harapan, dan menghadirkan kebaikan di tengah keluarga maupun masyarakat. Kehadiran seorang pengikut Kristus seharusnya memberikan kekuatan kepada orang lain, bukan menjadi sumber kesulitan atau penderitaan.
“Kehadiran kita membahagiakan orang lain, jangan membuat orang susah,” pesannya.
Bagi Uskup Hans, kesaksian iman tidak cukup diwujudkan melalui kata-kata, doa, atau keterlibatan dalam kegiatan keagamaan. Iman perlu menjelma dalam sikap hidup yang mencerminkan kasih Kristus, terutama melalui kesediaan mengampuni, membantu mereka yang membutuhkan, membangun persaudaraan, dan menghargai martabat setiap orang.
Uskup juga menghubungkan panggilan tersebut dengan ajaran Kitab Suci bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia memiliki martabat luhur karena diciptakan oleh Allah dan dipanggil untuk mencerminkan kebaikan-Nya. Kehadiran Yesus Kristus membuat gambaran itu semakin nyata, sebab melalui Yesus, manusia mengenal wajah kasih Allah yang menyelamatkan.
Uskup Hans menegaskan bahwa Yesus bukan hanya tanda keselamatan, melainkan keselamatan itu sendiri. Karena itu, umat yang telah menerima Krisma dipanggil untuk memberikan kesaksian tentang Kristus melalui seluruh aspek kehidupannya. Dengan demikian, orang lain dapat mengenal kasih Allah bukan hanya melalui pewartaan lisan, tetapi juga melalui perbuatan nyata orang-orang beriman.
Dalam penjelasannya mengenai karya Roh Kudus, Uskup Hans mengingatkan bahwa Roh Kudus telah hadir dalam perjalanan iman umat sejak penerimaan Sakramen Baptis. Melalui Sakramen Krisma, umat diteguhkan dan menerima karunia Roh Kudus untuk semakin dewasa dalam iman serta mampu menjalankan tanggung jawab sebagai pengikut Kristus.
Peneguhan ini secara khusus ditujukan kepada anak-anak dan kaum muda yang menerima Sakramen Krisma. Uskup mengajak mereka mulai memikirkan masa depan dan menentukan pilihan hidup dengan bijaksana. Ia melontarkan pertanyaan mengenai cita-cita mereka, apakah ingin menjadi imam, suster, tentara, pegawai, atau menjalani profesi lainnya.
Pertanyaan tersebut bukan sekadar untuk mengetahui pekerjaan yang diinginkan, melainkan mengajak kaum muda menyadari bahwa setiap pilihan hidup mengandung tanggung jawab dan kesempatan untuk melayani. Kedewasaan iman yang diteguhkan melalui Sakramen Krisma hendaknya membantu mereka mengambil keputusan dengan lebih matang, berani, dan bertanggung jawab.
Karena itu, Uskup Hans berpesan agar kaum muda senantiasa mendengarkan dan mengikuti bimbingan Roh Kudus. Dalam menentukan masa depan, mereka tidak cukup hanya mengandalkan keinginan pribadi, tetapi juga perlu membuka hati terhadap kehendak Allah serta mempertimbangkan bagaimana hidup mereka dapat menjadi berkat bagi orang lain.
Gereja Diberkati, Umat Dipanggil Bersatu dalam Misi
Selain penerimaan Sakramen Krisma, pemberkatan Gereja Stasi Santo Petrus Ohe menjadi bagian penting dalam perayaan tersebut. Pemberkatan ini menandai peneguhan fungsi gereja sebagai tempat umat berkumpul untuk berdoa, merayakan Ekaristi, mendengarkan Sabda Allah, serta mempererat persaudaraan dalam Kristus.
Uskup Hans mengingatkan bahwa Sabda Tuhan mengajak umat untuk bersatu dalam Kristus, bersatu dalam Gereja, dan berjalan bersama dalam menjalankan misi pewartaan Injil. Persatuan tersebut tidak berhenti pada kesamaan tempat ibadah atau kehadiran dalam perayaan liturgi, tetapi perlu diwujudkan dalam semangat saling melayani dan bekerja sama membangun kehidupan menggereja.
Gereja yang diberkati, dengan demikian, bukan hanya bangunan yang secara khusus diperuntukkan bagi kegiatan keagamaan. Gereja menjadi ruang perjumpaan umat dengan Allah sekaligus tempat persaudaraan dipelihara dan iman dikuatkan. Dari rumah Tuhan ini, umat diutus kembali ke tengah keluarga dan masyarakat untuk membawa nilai-nilai Injil.
Uskup Hans menggambarkan pintu gereja yang telah dibuka melalui pemberkatan sebagai undangan bagi umat untuk masuk dan berhimpun dalam rumah Tuhan. Pintu yang terbuka mengingatkan umat bahwa mereka dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Gereja dan memelihara persekutuan sebagai satu keluarga Allah.
Namun, undangan tersebut juga menuntut tanggung jawab. Umat diharapkan menunjukkan kesungguhan dalam beribadah, termasuk dengan menjaga kedisiplinan dan datang tepat waktu untuk mengikuti perayaan Ekaristi. Ia mengingatkan agar umat tidak terlambat ketika pintu gereja telah dibuka dan perayaan liturgi dimulai.
Pesan kedisiplinan ini menegaskan bahwa kehidupan menggereja membutuhkan komitmen nyata. Menghormati rumah Tuhan tidak hanya berarti menjaga kebersihan dan keutuhan bangunan, tetapi juga menghargai waktu, mengikuti perayaan dengan penuh perhatian, serta mengambil bagian secara aktif dalam kehidupan iman bersama.
Pemberkatan Gereja Stasi Santo Petrus Ohe dan penerimaan Sakramen Krisma oleh 424 umat pun menjadi dua peristiwa yang saling melengkapi. Gereja diberkati sebagai rumah persekutuan, sedangkan umat diteguhkan oleh Roh Kudus untuk menjadi Gereja yang hidup di tengah dunia.
Melalui perayaan ini, umat Stasi Santo Petrus Ohe diajak memperbarui komitmen untuk bertumbuh dalam iman, memelihara persatuan, dan menjalankan perutusan Kristiani dengan penuh tanggung jawab. Sebab, buah dari penerimaan Sakramen Krisma tidak hanya terlihat dalam perayaan hari itu, tetapi terutama dalam kehidupan sesudahnya: ketika umat berani menjadi saksi Kristus, menghadirkan sukacita, dan membawa keselamatan bagi sesama.
Dengan semangat tersebut, Gereja Stasi Santo Petrus Ohe diharapkan menjadi pusat kehidupan rohani yang terus menghidupkan iman umat, sementara 424 penerima Sakramen Krisma melangkah sebagai pribadi-pribadi yang semakin dewasa dalam iman dan siap mengambil bagian dalam misi Gereja. (@sly)

