10 Posts
20 Posts
1 Post

HADIRKAN 900 ANAK DAN REMAJA: Dekenat Lembata Gelar Jambore Misioner

by Komsos Keuskupan Larantuka

LEMBATA – Komsos Larantuka, Jambore Anak dan Remaja Misioner Dekenat Lembata menjadi momentum penting dalam upaya pembinaan generasi muda Gereja di wilayah tersebut. Kegiatan ini berlangsung tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, 24–26 April 2026, dan dipusatkan di Paroki St. Fransiskus de Sales Pada. Jambore ini diikuti sekitar 600 Anak, 300 Remaja dan lebih dari 200 Pendamping Sekami yang berasal dari 19 paroki di Dekenat Lembata, mencerminkan semangat kebersamaan dan persaudaraan yang hidup dalam Gereja lokal Keuskupan Larantuka khususnya di Dekenat Lembata.
Pelaksanaan jambore ini tidak terlepas dari keprihatinan Gereja terhadap berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat, pengaruh pergaulan bebas, melemahnya peran keluarga dalam pendampingan iman, serta menurunnya keterlibatan kaum muda dalam kehidupan menggereja menjadi latar belakang utama kegiatan ini. Dalam situasi tersebut, Gereja merasa terpanggil untuk hadir secara konkret dan berkelanjutan guna membina anak dan remaja agar tetap berakar dalam iman serta memiliki karakter Kristiani yang kuat.
Jambore ini juga diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Minggu Panggilan Sedunia ke-62 yang mengangkat tema “One in Christ, United in Mission.” Tema ini menegaskan pentingnya persatuan dalam Kristus sebagai dasar perutusan Gereja. Dalam terang sabda Tuhan, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku,” Gereja melihat anak dan remaja sebagai anugerah sekaligus benih panggilan yang perlu dirawat dan dikembangkan. Mereka dipandang sebagai peziarah pengharapan yang sedang berjalan dalam rencana kasih Allah, sehingga membutuhkan pendampingan yang tepat agar mampu mengenali dan menanggapi panggilan hidupnya.
Selain itu, jambore ini juga menjadi bagian dari implementasi program T’SOM Angkatan I di Dekenat Lembata sebagai tindak lanjut dari pencanangan nasional pada tahun 2025. Program ini diarahkan sebagai langkah awal kaderisasi remaja misioner yang terstruktur dan berkelanjutan, dengan harapan dapat melahirkan generasi muda yang siap menjadi pewarta Injil di tengah masyarakat. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan minat dan kesiapsediaan untuk menjawab panggilan khusus, seperti menjadi imam, biarawan, atau biarawati.
Berbagai rangkaian kegiatan disiapkan secara matang untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan diawali dengan pawai misioner yang menjadi simbol sukacita iman sekaligus identitas sebagai anak dan remaja misioner. Dalam pawai ini, setiap paroki menampilkan kreativitas melalui atribut dan simbol yang menggambarkan semangat pewartaan Injil. Suasana penuh warna dan kegembiraan mewarnai pembukaan jambore, sekaligus menjadi tanda bahwa Gereja hidup di tengah umatnya.
Selanjutnya, kegiatan promosi panggilan dan pembakaran obor panggilan menjadi salah satu momen yang paling berkesan. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk mengenal berbagai bentuk panggilan dalam Gereja melalui kesaksian hidup bakti. Obor yang dinyalakan menjadi simbol terang Kristus yang diharapkan menyala dalam hati setiap peserta, meneguhkan mereka untuk berani menjawab panggilan Tuhan dengan penuh iman dan kemurahan hati.
Dimensi liturgi juga menjadi pusat dari seluruh rangkaian kegiatan. Ibadat pembukaan, ibadat pagi, serta Perayaan Ekaristi Hari Minggu Panggilan menjadi puncak perjumpaan iman seluruh peserta. Dalam suasana doa bersama, para peserta diteguhkan dan dipersatukan dalam persekutuan Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Selain pembinaan rohani, jambore ini juga menghadirkan kegiatan edukasi dan outbound yang dirancang secara kreatif. Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan, kepemimpinan, kerja sama, serta kedisiplinan. Suasana yang penuh keceriaan membuat proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan sekaligus membangun karakter peserta.
Tidak kalah menarik, perlombaan paduan suara dan yel-yel paroki turut memeriahkan kegiatan ini. Melalui kompetisi tersebut, para peserta mengekspresikan iman mereka secara kreatif dan penuh semangat. Kekompakan dan kerja sama tim menjadi kunci utama dalam setiap penampilan, sekaligus mempererat relasi antarparoki.
Kegiatan ini juga diwarnai dengan aksi misioner yang konkret. Para peserta diajak untuk mengumpulkan derma, menyediakan bantuan berupa kebutuhan harian bagi para seminaris, serta melakukan aksi kebersihan lingkungan. Melalui kegiatan ini, nilai kepedulian sosial ditanamkan sejak dini sebagai bagian dari spiritualitas misioner yang tidak hanya berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata.
Pemilihan lokasi kegiatan di Paroki St. Fransiskus de Sales Pada juga memiliki makna tersendiri. Sebagai salah satu paroki baru di wilayah tersebut, paroki ini menjadi simbol pertumbuhan Gereja lokal. Selain itu, spiritualitas Santo Fransiskus de Sales yang menekankan kelembutan, ketekunan, dan cinta kasih dalam pewartaan Injil menjadi inspirasi bagi seluruh rangkaian kegiatan jambore.
Melalui pelaksanaan jambore ini, Gereja lokal Keuskupan Larantuka, khususnya Dekenat Lembata berharap dapat menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya kuat dalam iman, tetapi juga memiliki semangat misioner yang tinggi. Anak dan remaja diharapkan mampu menjadi peziarah pengharapan yang berani menjawab panggilan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Dukungan dari berbagai pihak pun sangat diharapkan agar kegiatan ini dapat memberikan buah yang nyata bagi perkembangan Gereja dan masyarakat di masa depan. (Komsos Dekenat Lembata)

You may also like