MONITORING HARVEST PROGRAM: Caritas Indonesia Dorong Pertanian Organik dan Kemandirian Ekonomi

Harvest merupakan salah satu program pendampingan dari Caritas untuk membantu masyarakat dalam upaya mengembangkan potensi lokal melalui sektor pertanian. Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pertanian sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

by Komsos Keuskupan Larantuka

WAIWADAN, Komsos Larantuka — Upaya membangun ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi masyarakat terus diperkuat melalui kerja sama Caritas Indonesia dan Caritas Keuskupan Larantuka. Melalui Monitoring Harvest Program, Caritas Indonesia melakukan kunjungan pendampingan terhadap kelompok tani di Desa Bugalima dan Dusun Riangduli, Desa Dani Bao, Kecamatan Adonara Barat, Paroki Waiwadan pada Minggu (2/8/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum untuk melihat secara langsung perkembangan program pertanian organik yang telah dijalankan masyarakat sekaligus mendengarkan pengalaman, tantangan, dan harapan para petani dalam mengembangkan usaha pertanian berkelanjutan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredi Rante Taruk, Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD. Adeodatus Hendrikus Leni, Direktur Caritas Keuskupan Larantuka, RD. FX. Wio Hurint, Koordinator Divisi Integral Ecology Development Caritas Indonesia, Ozagma Lorenzo Simorangkir, Tim PSE Caritas Larantuka, Pastor Paroki Waiwadan, RD. Hendrikus Raya Kleden, Camat Adonara Barat, Yohanes Hariono, Penjabat Kepala Desa Dani Bao Fransiskus Kopong Tolan, para ketua kelompok tani, tokoh masyarakat, serta warga binaan.
Harvest merupakan salah satu program pendampingan dari Caritas untuk membantu masyarakat dalam upaya mengembangkan potensi lokal melalui sektor pertanian. Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pertanian sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Monitoring Harvest Program – Paroki Waiwadan (Minggu, 2/8/2026)

MENGEMBANGKAN PERTANIAN ORGANIK DI DESA BUGALIMA
Di Desa Bugalima, program ini dilaksanakan melalui dua kelompok tani, yakni Kelompok Baran Tawa yang berarti “orang sedang bertumbuh” dan Kelompok Tawa Sare yang berarti “orang yang bertumbuh dengan baik”.
Kelompok Baran Tawa beranggotakan 25 orang, terdiri dari 20 laki-laki dan lima perempuan. Sementara Kelompok Tawa Sare juga memiliki 25 anggota dengan tujuh perempuan yang terlibat aktif dalam kegiatan pertanian.
Dengan jumlah penduduk sebanyak 678 jiwa yang tersebar dalam 150 kepala keluarga, masyarakat Bugalima mulai menunjukkan perkembangan dalam mengelola lahan pertanian dengan pendekatan organik.
Berbagai tanaman hortikultura telah dikembangkan, antara lain sawi bunga, sawi mangkok, kangkung, dan kol bunga. Selain mengembangkan tanaman pangan, masyarakat juga belajar membuat pupuk organik secara mandiri menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar lingkungan.
Bahan seperti daun, buah-buahan, dan bonggol pisang diolah melalui proses fermentasi selama dua minggu hingga satu bulan untuk menghasilkan pupuk yang dapat membantu meningkatkan kesuburan tanah.

Monitoring Harvest Program - Paroki Waiwadan (Minggu, 2/8/2026)

Monitoring Harvest Program – Paroki Waiwadan (Minggu, 2/8/2026)

RIANGDULI KEMBANGKAN LAHAN PRODUKTIF
Selain di Bugalima, pendampingan juga dilakukan di Dusun Riangduli, Desa Dani Bao. Di wilayah ini terdapat dua kelompok tani, yaitu Kelompok Ola Ehin dengan 25 anggota dan Kelompok Seni Tawa dengan 20 anggota.
Desa Dani Bao memiliki jumlah penduduk 791 jiwa dalam 203 kepala keluarga, sedangkan Dusun Riangduli berjumlah 231 jiwa dengan 44 kepala keluarga di bawah kepemimpinan Kepala Dusun Damianus Tupen.
Melalui program ini, masyarakat mengelola lahan pertanian sekitar lima hektare. Setelah melalui proses persiapan selama dua bulan, berbagai komoditas mulai dikembangkan, seperti kacang-kacangan, timun, kangkung, ubi jalar, terung, jahe, kunyit, serai, serta usaha peternakan kambing.
Ketua Kelompok Ola Ehin, Elias Bin Beda, dan Ketua Kelompok Seni Tawa, Antonius Lein, menyampaikan bahwa program ini memberikan pengalaman baru bagi masyarakat. Mereka mengatakan bahwa pelatihan pertanian organik yang diikuti empat perwakilan kelompok di Soe, Nusa Tenggara Timur, selama dua minggu telah memberikan pengetahuan penting dalam mengembangkan pertanian.
Namun demikian, mereka mengakui masih terdapat tantangan, terutama dalam pemasaran hasil pertanian agar produk masyarakat dapat memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.

Monitoring Harvest Program - Paroki Waiwadan (Minggu, 2/8/2026)

Monitoring Harvest Program – Paroki Waiwadan (Minggu, 2/8/2026)

PERTANIAN SEBAGAI JALAN MEMBANGUN DESA
Rangkaian kegiatan Monitoring Harvest Program dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredi Rante Taruk, sebagai selebran utama, didampingi Vikjen Keuskupan Larantuka, RD. Adeodatus Hendrikus Leni, Direktur Caritas Keuskupan Larantuka, RD. FX. Wio Hurint dan Pastor Paroki Waiwadan, RD. Hendrikus Raya Kleden.
Setelah perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama masyarakat serta penyerahan bantuan alat pertanian kepada empat kelompok tani penerima manfaat program.
Penjabat Kepala Desa Dani Bao, Fransiskus Kopong Tolan, mengapresiasi kehadiran Caritas Indonesia yang memberikan perhatian terhadap pengembangan ekonomi masyarakat desa.
Ia berharap para peserta pelatihan pertanian organik dapat menjadi penggerak perubahan dengan membagikan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat luas.
“Ilmu yang diperoleh harus ditularkan kepada masyarakat agar mampu meningkatkan ekonomi desa. Laksanakan pekerjaan ini dengan sungguh-sungguh, manfaatkan pupuk organik secara maksimal, dan libatkan kaum muda agar mereka ikut berperan aktif membangun desa melalui sektor pertanian,” ujarnya.
Direktur Caritas Keuskupan Larantuka, RD. FX. Wio Hurint, mengajak masyarakat untuk terus mengembangkan kegiatan pertanian produktif sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada pekerjaan di luar daerah.
“Dua desa ini diharapkan menjadi pionir. Semoga tahun depan, ketika Direktur Caritas Indonesia kembali berkunjung, semakin banyak lahan yang dibuka dan dimanfaatkan untuk kegiatan produktif,” katanya.
Menurutnya, pertanian bukan hanya berbicara tentang hasil panen, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat membangun harapan dan masa depan bersama.

Monitoring Harvest Program - Paroki Waiwadan (Minggu, 2/8/2026)

Monitoring Harvest Program – Paroki Waiwadan (Minggu, 2/8/2026)

GEREJA HADIR MEMBAWA HARAPAN
Vikaris Jenderal Keuskupan Larantuka, RD. Adeodatus Hendrikus Leni, menegaskan bahwa Gereja menyambut penuh sukacita program yang dihadirkan Caritas Indonesia karena mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan umat.
Menurutnya, program ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menciptakan lapangan kerja dari desa sendiri.
“Selama ini banyak masyarakat memilih merantau. Melalui program ini kita diajak menciptakan lapangan pekerjaan di kampung sendiri. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Kesetiaan, kesabaran, dan kerja keras akan memberikan hasil yang baik bagi kesejahteraan bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Romo Fredi Rante Taruk, menegaskan bahwa pertanian memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar kegiatan ekonomi.
Menurutnya, pertanian merupakan bagian dari panggilan manusia untuk menjaga dan mengembangkan ciptaan Tuhan.
“Dalam Kitab Kejadian, Allah menciptakan segala sesuatu dengan baik. Kita dipanggil untuk mengusahakan kebaikan itu. Walaupun pertanian memiliki banyak tantangan, kita harus terus mengembangkan pertanian organik,” tuturnya.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah menyerah dalam mengembangkan usaha pertanian. Menurutnya, usaha kecil yang dilakukan dengan tekun dapat menghasilkan dampak besar bagi kehidupan bersama.
“Benih sesawi yang kecil dapat bertumbuh menjadi tanaman yang besar. Demikian pula usaha kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa manfaat besar bagi masyarakat,” katanya.
Romo Fredi juga mengingatkan bahwa penggunaan pupuk organik merupakan langkah penting untuk menghasilkan pangan sehat serta menjaga kesehatan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa bantuan alat pertanian yang diberikan Caritas bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membangun semangat kerja sama dan tanggung jawab bersama.
“Jangan hanya berpikir tentang alat, tetapi bangun motivasi kerja dan semangat persaudaraan. Alat yang diserahkan hari ini adalah milik bersama sehingga harus dijaga dan dipelihara dengan penuh tanggung jawab,” pesannya.
Melalui Monitoring Harvest Program ini, Caritas Indonesia bersama Keuskupan Larantuka berharap agar Desa Bugalima dan Desa Dani Bao dapat menjadi contoh pengembangan pertanian organik berbasis kelompok, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta menghadirkan harapan baru bagi generasi muda untuk membangun masa depan dari desa sendiri. (Son Kolin)

You may also like