Saturday, June 13, 2026
Banner

SEKPAS BUKAN SEKADAR KANTOR: Saat ‘Dapur’ Pastoral Keuskupan Kehilangan Asapnya

by Komsos Keuskupan Larantuka

LARANTUKA, Komsos Larantuka – Acara serah terima jabatan di Sekretariat Pastoral Keuskupan Larantuka (SEKPAS KL), pada Selasa 9 Juni 2026, tidak hanya menjadi momentum pergantian kepemimpinan, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan perjalanan panjang lembaga pastoral tersebut. Dalam catatan reflektif berjudul “Sepenggal Ingatan Menolak Lupa”, RD. Fransiskus Emanuel da Santo (Romo Festo) menyampaikan pengalaman, kegelisahan, sekaligus harapannya bagi masa depan pelayanan pastoral Keuskupan Larantuka.
Serah terima jabatan ini dilaksanakan setelah keluarnya Surat Keputusan Uskup Larantuka Nomor KL 166/V.3/IV/2026 tentang pembebasan dan pengangkatan tugas serta jabatan para imam. Dalam keputusan tersebut, RD. Fransiskus Emanuel da Santo dan RD. Yosef da Silva dibebastugaskan dari jabatan Ketua dan Sekretaris SEKPAS KL untuk menerima tugas pelayanan yang baru.
Bagi Romo Festo, peristiwa ini memiliki makna khusus. Ia bukan sosok baru di lingkungan SEKPAS KL. Selama kurang lebih 26 tahun, sejak 1992, ia telah mengabdikan diri di berbagai bidang pelayanan, mulai dari staf SEKPAS KL, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos), Komisi Kepemudaan hingga Komisi Kateketik (Komkat).

Tim SEKPAS KL

Menelusuri Jejak Awal SEKPAS KL
Dalam refleksinya, Romo Festo mengajak anggota SEKPAS KL untuk mengenang awal terbentuknya pelayanan pastoral Keuskupan Larantuka. Ketika Mgr. Darius Nggawa, SVD memimpin Keuskupan Larantuka pada tahun 1974, struktur pelayanan pastoral masih sangat sederhana. Saat itu hanya terdapat beberapa panitia dan delegatus yang menangani bidang-bidang tertentu, seperti Panitia Kateketik (PanKat), Delegatus Kitab Suci (Delkit), dan Delegatus Sosial Ekonomi (Delsos).
Seiring perkembangan Gereja di Indonesia melalui MAWI dan KWI, berbagai komisi pastoral mulai dibentuk hingga menjangkau tingkat keuskupan. Di Keuskupan Larantuka, komisi-komisi tersebut kemudian bertumbuh dan bekerja bersama dalam koordinasi SEKPAS KL.
Masa-masa awal itu dikenang sebagai periode yang penuh semangat kebersamaan. Di bawah kepemimpinan Romo Yosef Gowing Bataona, Pr., seluruh staf berkantor setiap hari kerja. Para pastor, suster, katekis, dan staf awam bekerja dalam satu tim untuk mendukung karya pastoral keuskupan hingga ke paroki-paroki.

Semangat Berjalan Bersama
Menurut Romo Festo, kekuatan utama SEKPAS KL pada masa lalu bukan terletak pada gedung atau fasilitas, melainkan pada semangat persaudaraan yang hidup di dalamnya.
Kebersamaan itu diwujudkan dalam doa pagi bersama, kerja bakti, jam minum bersama, rekoleksi awal dan akhir tahun, hingga rekreasi bersama. Aktivitas sederhana tersebut menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat kerja sama dan rasa memiliki terhadap karya pastoral Gereja.
“Hal-hal sederhana itu memberi semangat dalam karya dan menjadi cerita menarik sekaligus kenangan tersendiri,” ungkapnya.

Ketika Kebersamaan Mulai Memudar
Namun refleksi tersebut juga memuat catatan kritis. Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir, semangat kebersamaan yang dahulu menjadi ciri khas SEKPAS KL mulai memudar.
Kehadiran para tenaga pastoral di kantor semakin berkurang. Banyak pekerjaan dilakukan secara mandiri dari rumah atau tempat pelayanan masing-masing. Tradisi kebersamaan yang dulu terbangun perlahan menghilang.
Akibatnya, ruang-ruang kantor dan komisi yang dahulu hidup dengan aktivitas pelayanan kini sering kali kosong dan tidak terawat.
“Ketika SEKPAS KL diharapkan menjadi ‘dapur’ pastoral Keuskupan untuk melayani paroki-paroki, situasi itu menjadi tidak mudah, bahkan tidak berjalan,” tulisnya.
Ia mengakui bahwa pengalaman memimpin SEKPAS KL selama kurang lebih delapan bulan terakhir menjadi tantangan tersendiri. Setelah tujuh tahun berada di luar Keuskupan, ia harus berhadapan dengan situasi yang jauh berbeda dari yang pernah dikenalnya.

SEKPAS atau PUSPAS?
Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam refleksi tersebut adalah perlunya meninjau kembali identitas dan fungsi lembaga pastoral keuskupan.
Menurutnya, istilah SEKPAS (Sekretariat Pastoral) secara konseptual lebih menekankan fungsi administrasi dan kesekretariatan. Karena itu, sulit mengharapkan SEKPAS KL menjadi pusat pengembangan program pastoral apabila tidak didukung dengan struktur dan sumber daya yang memadai.
Sebagai alternatif, ia mengusulkan konsep PUSPAS (Pusat Pastoral) yang tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga menjadi “dapur” pastoral yang menghasilkan bahan-bahan pembinaan, modul pemberdayaan umat, serta menindaklanjuti hasil-hasil pertemuan pastoral keuskupan.
Gagasan tersebut, menurutnya, harus diikuti dengan penataan tenaga pastoral yang tepat dan berkelanjutan.

Usulan Rumpun Komisi
Menghadapi keterbatasan tenaga dan kebutuhan koordinasi yang semakin kompleks, Romo Festo juga mengusulkan agar komisi-komisi di lingkungan keuskupan dikelompokkan dalam beberapa rumpun pelayanan.
Rumpun tersebut meliputi:
Rumpun Pewartaan: Komkat, KKM, Komsos, Liturgi, dan Delkit.
Rumpun Pembinaan: Komkep, Komkel, Komisi Pendidikan, dan Komisi Kerawam.
Rumpun Kemasyarakatan: Komisi HAK, Komisi KKPMP, SGPP, dan PSE.
Rumpun Pendukung: Pimpinan SEKPAS dan Sekretariat.
Menurutnya, model ini dapat memperkuat sinergi antarkomisi sekaligus mengoptimalkan tenaga yang tersedia.

Harapan untuk Masa Depan
Mengakhiri refleksinya, Romo Festo menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Uskup Larantuka serta seluruh rekan kerja di lingkungan SEKPAS KL.
Dengan penuh kerendahan hati, ia mengakui bahwa dirinya belum banyak berbuat selama masa kepemimpinannya yang relatif singkat. Namun ia berharap SEKPAS ke depan mampu bangkit kembali menjadi pusat koordinasi dan penggerak karya pastoral Keuskupan Larantuka.
“Semoga SEKPAS KL ke depannya dapat bekerja dengan baik dalam mendukung Bapa Uskup dan karya pastoral di Keuskupan ini dalam semangat satu Tubuh, satu Roh, dan satu Pengharapan,” tutupnya.
Refleksi tersebut bukan sekadar catatan perpisahan seorang pimpinan lembaga. Lebih dari itu, ia menjadi sebuah ajakan untuk menghidupkan kembali semangat berjalan bersama, agar SEKPAS KL sungguh menjadi jantung yang memompa kehidupan pastoral ke seluruh paroki di Keuskupan Larantuka. (Dari Refleksi Kritis RD. Fransiskus Emanuel da Santo)

You may also like