Saturday, June 13, 2026
Banner

DIALOG DALAM KEBENARAN DAN KASIH: Komisi HAK Dorong Gerakan Persaudaraan Menjangkau Hingga Akar Rumput

by Komsos Keuskupan Larantuka

SAROTARI, Komsos Larantuka – Di tengah dunia yang semakin terhubung tetapi tidak jarang menghadirkan jarak sosial, Gereja Katolik melalui Komisi Hubungan Antar Agama dan Kemasyarakatan (HAK) terus menghidupkan budaya perjumpaan sebagai jalan pastoral yang konkret. Melalui semangat dialog, keterbukaan, dan kerja bersama, Gereja mengajak umat untuk membangun persaudaraan yang nyata, bukan hanya sebagai gagasan, melainkan sebagai cara hidup yang menghadirkan damai dan sukacita.
Semangat tersebut tampak dalam kegiatan Sosialisasi Komisi HAK yang berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026, di Rusun Patris Corde, Sarotari, Larantuka. Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk memperkenalkan arah pelayanan Komisi HAK sekaligus menggerakkan kesadaran bahwa persaudaraan harus bertumbuh dari lingkungan terkecil dan menjangkau hingga akar rumput.

Sosialisasi Komisi HAK di Keuskupan Larantuka (26 Mei 2026)

Mengangkat tema “Membangun Persaudaraan Insani dalam Keberagaman”, kegiatan ini menegaskan bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk menjaga jarak, tetapi kesempatan untuk saling mengenal dan memperkaya. Tema tersebut diperdalam melalui subtema “Dialog Karya dan Toleransi di Lingkungan Hidup dalam Semangat Ensiklik Fratelli Tutti”, yang mengajak peserta memandang relasi antarmanusia dan relasi dengan alam sebagai bagian dari panggilan iman.
Bagi Komisi HAK, dialog bukan sekadar pertemuan formal ataupun agenda seremonial. Dialog adalah cara hidup. Dialog adalah hembusan napas yang membuat kehidupan bersama menjadi indah, damai, dan penuh sukacita. Dialog dipahami sebagai komunikasi timbal balik yang menghantar setiap orang menuju tujuan bersama.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Rm. Aloysius Budi Purnomo, Pr., yang dalam pemaparannya mengajak peserta untuk kembali memahami jati diri Gereja sebagai rumah yang terbuka bagi semua orang dan sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan.
Menurut Romo Budi, semangat persaudaraan menemukan dasar yang kuat dalam Ensiklik Fratelli Tutti yang mengingatkan bahwa setiap manusia dipanggil menjadi sesama bagi siapa pun. Persaudaraan tidak lahir karena kesamaan identitas, melainkan tumbuh ketika perbedaan diterima sebagai anugerah dan ruang untuk saling melengkapi.
Dalam penjelasannya, Romo Budi juga menekankan bahwa dialog yang sejati tidak berhenti pada relasi antarmanusia. Dialog harus meluas menjadi dialog dengan seluruh ciptaan. Dialog yang damai dan penuh kerendahan hati mencakup relasi dengan sesama makhluk hidup dan perhatian terhadap lingkungan hidup sebagai rumah bersama.
Ia menegaskan bahwa dialog dalam kebenaran dan kasih berarti menghadirkan keberpihakan pada kebenaran yang digerakkan oleh kasih. Sikap ini berakar pada ketaatan terhadap misi ilahi yang dipercayakan Tuhan Yesus kepada Gereja-Nya: menghadirkan keselamatan, membangun persekutuan, dan merawat ciptaan.
Sebanyak 75 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka berasal dari berbagai unsur pelayanan dan komunitas, mulai dari utusan Seksi HAK Paroki, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tarekat hidup bakti, organisasi gerejawi, Orang Muda Katolik (OMK), PMKRI, hingga WKRI.
Keberagaman peserta menjadi gambaran nyata bahwa karya persaudaraan tidak mungkin dikerjakan sendiri. Dibutuhkan keterlibatan banyak pihak agar nilai hidup bersama sungguh menjadi gerakan sosial yang menyentuh masyarakat luas.
Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi dan dilanjutkan dengan ibadat bersama. Dalam suasana doa dan syukur, para peserta diajak menyadari bahwa seluruh karya dialog dan pelayanan sosial berakar pada iman yang menggerakkan keterbukaan hati serta penghormatan terhadap martabat setiap pribadi.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sosialisasi mengenai identitas dan arah pelayanan Komisi HAK dalam konteks kehidupan masyarakat dewasa ini. Para peserta diajak melihat bahwa dialog tidak hanya berbicara tentang hubungan antaragama, tetapi juga keberanian untuk hadir, mendengar, memahami, dan bekerja bersama demi kebaikan bersama.
Salah satu perhatian penting yang mengemuka dalam kegiatan ini adalah pemanfaatan ruang digital sebagai medan baru pewartaan. Di era komunikasi yang berkembang cepat, Gereja menyadari bahwa pesan tentang perdamaian, toleransi, dan persaudaraan perlu disampaikan dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi masa kini.
Karena itu, media seperti Instagram, TikTok, dan YouTube dipandang bukan sekadar sarana berbagi informasi, tetapi juga ruang membangun budaya dialog dan pendidikan sosial. Melalui pendekatan ini, Komisi HAK mendorong lahirnya katekese digital yang kreatif, komunikatif, dan relevan agar pesan Injil dapat menjangkau lebih banyak orang melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sosialisasi Komisi HAK di Keuskupan Larantuka (26 Mei 2026)

Pada sesi dialog, peserta berbagi pengalaman tentang dinamika hidup bersama di lingkungan masing-masing. Dari percakapan yang berlangsung, muncul kesadaran bahwa persaudaraan selalu dimulai dari langkah-langkah sederhana: menyapa tetangga, membuka ruang kerja sama, saling membantu, serta menjaga harmoni dalam kehidupan bersama.
Di akhir kegiatan, satu pesan terus bergema: persaudaraan tidak boleh berhenti menjadi slogan. Persaudaraan harus menjadi gerakan hidup yang diterjemahkan dalam tindakan nyata dan menghadirkan harapan di tengah keberagaman.
Melalui kegiatan ini, Komisi HAK kembali menegaskan komitmennya untuk berjalan bersama umat dan masyarakat dalam membangun dunia yang lebih terbuka, lebih bersaudara, dan semakin manusiawi.
Dengan semangat satu Tubuh, satu Roh, dan satu Pengharapan, para peserta diutus untuk terus menghidupi dialog, menumbuhkan toleransi, dan merawat persaudaraan sebagai wajah nyata Gereja yang hadir bagi semua. (Flori Herin)

You may also like