SAROTARI, LARANTUKA, Komsos Larantuka – Semangat pelayanan, pembaruan perutusan, dan kesatuan arah pastoral menjadi inti dari kegiatan Tatap Muka dan Pembaruan Missio Canonica bagi Guru Agama Katolik, Penyuluh Agama Katolik, serta ASN Katolik di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur yang berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026 di Gedung OMK Keuskupan Larantuka, Sarotari.

Tatap Muka dan Pembaruan Missio Canonica bagi Guru Agama Katolik, Penyuluh Agama Katolik, serta ASN Katolik di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur yang berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026
Kegiatan ini menjadi momentum penting yang mempertemukan para pelayan Gereja dari berbagai wilayah di Flores Timur untuk kembali meneguhkan identitas dan panggilan mereka. Lebih dari sekadar agenda seremonial, pertemuan ini menjadi ruang refleksi bersama tentang arah pelayanan Gereja di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
Sekitar 400 peserta hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari Flores daratan, Pulau Adonara, dan Pulau Solor. Peserta terdiri atas Guru Agama Katolik, Penyuluh Agama Katolik, tenaga pendidik taman seminari tingkat PAUD, para katekis, ASN, pensiunan, serta relawan yang selama ini terlibat dalam pelayanan pendidikan dan pembinaan iman.
Sejak awal kegiatan, nuansa kebersamaan dan kekayaan budaya sudah terasa melalui prosesi penyambutan adat kepada Uskup Larantuka. Penyambutan tersebut bukan sekadar bagian dari tata acara, melainkan menjadi simbol penghormatan kepada gembala sekaligus penanda bahwa Gereja bertumbuh dari perjumpaan dengan budaya dan kehidupan umat.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Yosef Aloysius Babaputra, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan yang sangat berharga karena mempertemukan para guru dan penyuluh dengan gembala Keuskupan. Ia menegaskan bahwa para peserta yang hadir membawa kerinduan untuk mendengar secara langsung arah pastoral dan visi pelayanan Gereja Keuskupan Larantuka di tengah tantangan yang terus berkembang.
“Kami rindu bertemu dengan sang gembala yang memberikan wewenang kepada kami untuk menjalankan tugas mengajar. Ini adalah momen yang meneguhkan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa para guru agama dan penyuluh memiliki posisi penting dalam kehidupan Gereja karena melalui tangan mereka nilai iman diteruskan kepada generasi muda dan umat.
Menurutnya, pelayanan pendidikan agama tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosial yang terus berubah. Karena itu dibutuhkan pembaruan semangat, penyegaran visi, dan kesatuan langkah agar pelayanan tetap relevan dengan kebutuhan umat saat ini.
Uskup Larantuka Mgr. Yohanes Hans Monteiro, dalam materinya mengangkat moto episkopal Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes – Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Harapan, sebagai spirit bersama dalam pelayanan pastoral di Keuskupan Larantuka. Uskup menjelaskan bahwa semangat tersebut bukan hanya sebuah semboyan, melainkan cara Gereja hidup dan melayani.
Beliau menegaskan bahwa ketaatan iman menemukan puncaknya dalam Ekaristi, tetapi kehidupan Gereja tidak berhenti di altar. Gereja harus hadir dalam pendidikan, budaya, keluarga, dan kehidupan masyarakat. Refleksi ini, menurut beliau, lahir dari pengalaman dan perjalanan pastoral Keuskupan selama beberapa tahun terakhir.
“Keuskupan Larantuka tidak hanya dipikirkan oleh para imam. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Beliau mengajak para guru agama dan penyuluh untuk melihat diri bukan sebagai pekerja administratif yang menjalankan kewajiban formal, melainkan sebagai bagian dari tubuh Gereja yang ikut menentukan arah pertumbuhan iman umat.
Dalam suasana dialog yang hangat, Uskup juga menyampaikan bahwa pelayanan pastoral saat ini sedang berhadapan dengan perubahan besar yang terjadi secara global. Salah satu tantangan yang mendapat perhatian khusus adalah perkembangan dunia digital dan pengaruh teknologi terhadap kehidupan manusia, terutama kaum muda. Menurut beliau, teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) membawa banyak peluang yang membantu proses belajar, komunikasi, dan pelayanan. Namun di sisi lain, perkembangan tersebut juga dapat menghadirkan tantangan baru jika digunakan tanpa kebijaksanaan.
Beliau menyoroti gejala melemahnya daya hidup, munculnya krisis identitas, serta semakin berkurangnya ruang perjumpaan manusia yang nyata. Karena itu, Gereja dipanggil untuk hadir bukan dengan rasa takut terhadap perubahan, tetapi dengan kemampuan membaca tanda zaman dan menghadirkan pendampingan yang lebih manusiawi.

Tatap Muka dan Pembaruan Missio Canonica bagi Guru Agama Katolik, Penyuluh Agama Katolik, serta ASN Katolik di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur yang berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Uskup mengingatkan bahwa Keuskupan Larantuka memiliki kekuatan besar yang perlu terus dipelihara, yakni budaya lokal dan kekayaan iman umat. Beliau menyinggung budaya Lamaholot yang kaya nilai persaudaraan serta tradisi religius yang telah menjadi identitas Gereja lokal. Warisan iman seperti Semana Santa di Larantuka dipandang sebagai kekuatan spiritual dan budaya yang perlu terus dijaga, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikut. Menurut beliau, Gereja tidak boleh kehilangan akar budaya ketika menghadapi modernitas.
Bagian penting dari kegiatan ini adalah penegasan kembali makna Missio Canonica. Dalam tradisi Gereja Katolik, Missio Canonica merupakan pengutusan resmi yang diberikan Gereja kepada mereka yang menerima tugas mengajar, membina, dan mewartakan iman. Melalui pengutusan ini ditegaskan bahwa pelayanan Guru Agama Katolik dan Penyuluh Agama tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari misi Gereja.
Pengutusan itu sekaligus menjadi tanda kepercayaan dan tanggung jawab untuk menghadirkan nilai Injil dalam ruang pendidikan, pelayanan publik, serta kehidupan sosial masyarakat.
Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan dialog dan diskusi bersama yang dipandu oleh Yohanes Bala Darang sebagai moderator. Sesi ini menjadi ruang terbuka bagi peserta untuk membagikan pengalaman pelayanan di lapangan.
Berbagai tantangan dibahas, mulai dari dinamika pendidikan, perubahan karakter peserta didik, kebutuhan pendampingan iman, hingga cara menghadirkan pelayanan yang tetap relevan di era digital. Para peserta juga menyampaikan harapan agar pelayanan pastoral semakin terintegrasi dan memberi ruang kolaborasi yang lebih luas antara Gereja, lembaga pendidikan, dan pemerintah.
Agenda berikutnya adalah Sosialisasi Terjemahan Terbaru Alkitab yang dibawakan oleh Komisi Kitab Suci Keuskupan. Melalui sesi ini, para peserta diajak mengenal perkembangan terbaru dalam penerjemahan Kitab Suci serta memahami bagaimana penggunaan bahasa yang tepat dapat membantu karya pewartaan dan pengajaran iman menjadi lebih dekat dengan kehidupan umat.
Sebagai bentuk tindak lanjut nyata, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyusunan Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL). Penyusunan rencana ini menjadi penanda bahwa hasil pertemuan tidak berhenti pada diskusi dan refleksi, tetapi diarahkan menjadi langkah konkret yang dapat dijalankan di tempat pelayanan masing-masing.

Tatap Muka dan Pembaruan Missio Canonica bagi Guru Agama Katolik, Penyuluh Agama Katolik, serta ASN Katolik di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur yang berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026
Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya dalam Perayaan Ekaristi Kudus dan Pembaruan Missio Canonica yang dipimpin langsung oleh Uskup Larantuka. Dalam suasana doa dan permenungan, para peserta kembali memperbarui komitmen untuk menjalankan tugas pelayanan dengan integritas, kompetensi, dan kesetiaan. Momen ini menjadi pengingat bahwa tugas mengajar dan membina iman bukan hanya pekerjaan, tetapi sebuah panggilan yang menuntut ketekunan, kedekatan dengan umat, dan semangat untuk terus belajar.
Kegiatan ditutup dengan ramah tamah yang semakin mempererat persaudaraan di antara para peserta. Dari perjumpaan ini lahir harapan bahwa Guru Agama Katolik, Penyuluh Agama, dan ASN Katolik di Flores Timur semakin mantap menjadi rekan seperjalanan Gereja, membawa semangat pelayanan yang hidup dan menghadirkan Gereja yang tetap setia di tengah perubahan zaman. Karena pada akhirnya, setiap perutusan bukan hanya tentang tugas yang dijalankan, melainkan tentang menghadirkan wajah Gereja yang hidup melalui pelayanan yang setia, terbuka, dan penuh harapan. (@sly)
